Pedagang Sekaten Alun-Alun Utara Sambat Biaya Sewa Lapak Mahal, Pilih Libur Jualan

Alfida Nurcholisah • Dipublikasikan Senin, 27 Juli 2026 | 17:55 WIB
Pedagang harus menyewa lapak di musim Sekaten yang digelar setahun sekali di Alun-Alun Utara Keraton Solo. (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO) 

 
Pedagang harus menyewa lapak di musim Sekaten yang digelar setahun sekali di Alun-Alun Utara Keraton Solo. (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)  

RADARSOLO.COM - Biaya sewa lapak Sekaten di kawasan Alun-Alun Utara Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat tahun ini dikeluhkan sejumlah pedagang.

Harga yang dinilai terlalu tinggi membuat sebagian pedagang pilih tidak berjualan.

Kusno, pedagang angkringan di kawasan Pagelaran Keraton memilih tidak menyewa lapak Sekaten sejak dipegang pihak ketiga.

Menurutnya, biaya Rp 5 juta untuk lapak ukuran 3x3 meter terlalu berat.

Baca Juga: Konsep Ramah Anak di Lokananta, Pemkot Solo Kaji Pencabutan Izin Outlet Miras

Terutama di tengah kondisi ekonomi yang sedang sepi.

“Kalau sewa lapak untuk jenis jualan saya itu terlalu mahal. Apalagi Sekaten tahun ini perekonomian sedikit sepi,” kata Kusno saat ditemui di lapaknya, Senin (27/7).

Kusno menilai, ukuran lapak yang disediakan di kawasan tersebut juga kurang memadai.

Lapak berukuran sekitar dua meter dinilai terlalu sempit untuk menampung gerobak sekaligus tempat duduk pembeli.

“Kalau di bawah Rp 3 juta saya masih bisa, yang harga Rp 2 juta ukurannya kecil enggak bisa buat duduk apalagi saya ada gerobak,” ujarnya.

Karena tidak mampu membayar sewa, Kusno memilih berhenti berjualan selama Sekaten.

Sementara untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, dia terpaksa mencari pekerjaan serabutan.

Kusno mengaku sudah berjualan di kawasan tersebut sejak 2011.

Pada masa ketika Sekaten masih dikelola pihak Keraton Surakarta, dia rutin ikut berjualan karena harga lapak sekira Rp 2 juta masih dinilai terjangkau.

“Dulu saya ikut terus karena harga lapak masih Rp 2 juta, saya masih dapat sisa,” katanya.

Menurut Kusno, suasana Sekaten pada masa lalu juga lebih ramai hingga larut malam. Ukuran lapak yang lebih luas juga biasa digunakan pedagang untuk menginap sembari berjaga di lokasi.

Baca Juga: Polemik Sekaten Solo Berlanjut, Pemkot Cek Legalitas Wahana di Alun-alun Utara

“Dulu di atas jam 10 malam masih ramai. Lapaknya cukup lebar jadi bisa buat menginap di sana. Sekarang kan kecil. Yang saya tahu juga masih banyak yang belum terisi,” ungkapnya.

Berbeda dengan Kusno, pedagang dawet dan gempol pleret di depan Masjid Agung Keraton Surakarta Wawan mengaku sudah lebih dari empat tahun menyewa lapak saat Sekaten.

Tahun ini, dia membayar DP Rp 2,2 juta. Nominal tersebut masih harus ditutup dengan biaya sewa harian sekira Rp 100 ribu per hari.

“Kalau saya bayarnya DP dulu separuh, setelahnya bayar harian. Untuk harian tahun lalu sekira Rp100 ribuan, sudah termasuk lampu, sewa lapak, dan kebersihan. Tahun ini belum bisa dipastikan,” kata Wawan.

Menurutnya, harga sewa lapak juga bergantung pada lokasi dan ukuran.

Lapak berukuran 3x3 meter di kawasan depan Masjid Agung menjadi salah satu pilihan pedagang. Sementara lapak di dalam Alun-Alun Lor dibanderol lebih mahal hingga Rp 6 juta rupiah. 

Wawan mengatakan, pendapatan dari berjualan saat Sekaten tahun lalu masih mampu menutup biaya sewa dan menyisakan keuntungan.

Namun, kondisi tahun ini belum bisa dipastikan lantaran lokasi wahana berbeda dari tahun sebelumnya.

“Tahun kemarin wahananya di depan Masjid Agung semua, tahun ini di dalam lapangan. Mudah-mudahan sih ramai,” ujarnya.

Dia menambahkan, pedagang yang sehari-hari berjualan di kawasan tersebut juga wajib menyewa lapak saat Sekaten.

Sebab, kawasan sekitar menjadi wilayah steril dan hanya pedagang yang menyewa lapak yang diperbolehkan berjualan. (alf/fer)

Editor : fery ardi susanto
Sumber : Radar Solo
sewa lapak mahal alun alun utara sekaten keraton kasunanan Keraton Solo