RADARSOLO.COM – Polemik penyelenggaraan Sekaten yang terbelah di dua lokasi—Alun-Alun Utara dan Alun-Alun Selatan—mulai memakan korban.
Para pedagang mengeluhkan sepinya pengunjung sejak hari-hari awal pembukaan.
Di sisi lain, mereka harus menanggung biaya sewa lapak hingga jutaan rupiah dengan harapan omzet mampu menutup modal.
Kondisi paling terasa dialami pedagang di kawasan Alun-Alun Selatan.
Baca Juga: Pemkot Solo Ancang-Ancang Cairkan SPP Siswa Gakin PAUD Swasta Hingga Insentif Guru
Mereka menilai pembagian lokasi membuat arus pengunjung terpecah, sehingga keramaian yang biasanya menjadi andalan Sekaten tidak lagi terkonsentrasi.
Salah satu pedagang Nur Laila Diatul Maula atau Mola mengaku, baru empat hari membuka usaha photobooth di Alun-Alun Selatan.
Dia menyewa lapak berukuran 3 x 3 meter dengan tarif Rp 5 juta selama penyelenggaraan Sekaten. Nilai tersebut belum termasuk biaya operasional harian.
Baca Juga: Jangan Mudah Emosi di Kolom Komentar, Bisa Jadi Anda Sedang Terjebak Rage Bait
"Tempat saya Rp 5 juta. Masih ditambah biaya listrik Rp 10 ribu, lampu Rp 5 ribu, dan kebersihan Rp 5 ribu per hari," ujarnya, Selasa (28/7).
Mola sengaja memilih lokasi di sisi luar karena sesuai dengan konsep usahanya.
Dia pernah berjualan di lokasi yang sama saat Pasar Rakyat beberapa bulan lalu. Namun, kali ini hasilnya jauh dari harapan.
"Harusnya Sekaten jauh lebih ramai daripada Pasar Rakyat karena ini event besar di Solo. Nyatanya justru trafik pengunjung lebih sedikit, pendapatan juga turun," keluhnya.
Sepinya pengunjung membuat Mola khawatir modal yang telah dikeluarkan tidak kembali.
Kekhawatiran itu diperparah dengan masih banyaknya lapak di sekitar lokasi yang belum terisi sehingga suasana terasa lengang.
"Takutnya enggak balik modal. Baru pembukaan saja sudah begini. Kalau nanti pertengahan acara masih sepi, siapa yang datang ke sini?" katanya.
Baca Juga: Diperiksa 7 Jam, Plt Bupati Sukoharjo Dicecar 23 Pertanyaan KPK
Dia berharap penyelenggara segera mencari solusi agar arus pengunjung lebih merata di dua lokasi Sekaten.
"Kalau memang dibuat dua lokasi, harus ada pengaturan supaya pedagang di dua tempat sama-sama mendapat pengunjung. Jangan sampai ada yang dirugikan," tegasnya.
Berdasarkan brosur PT Diana Ria selaku pengelola, tarif sewa lapak di Alun-Alun Selatan berkisar Rp 3 juta hingga Rp 10 juta.
Untuk Zona A dipatok Rp 4 juta-Rp 10 juta, sedangkan Zona B Rp 3 juta-Rp 9 juta. Adapun tenda VIP ukuran 3 x 3 meter disewakan Rp 8,5 juta selama penyelenggaraan.
Keluhan senada disampaikan pedagang es krim asal Klaten Tri Sardono. Dia mengakui pembagian lokasi membuat risiko usaha semakin besar. Meski demikian, dia memilih tetap bertahan.
Tri bersama tiga pedagang lainnya menyewa satu lapak senilai Rp 7 juta. Biaya tersebut dibagi empat sehingga masing-masing hanya menanggung sekitar Rp 1,75 juta.
"Kalau ramai-ramai masih memungkinkan nutup modal. Kalau sewa sendiri risikonya terlalu besar, apalagi harga dagangan saya tidak tinggi," ujarnya.
Menurut Tri, kondisi awal penyelenggaraan belum bisa dijadikan patokan karena biasanya lonjakan pengunjung baru terjadi saat akhir pekan.
"Biasanya Sabtu-Minggu baru ramai. Ini juga masih baru, mungkin masyarakat belum banyak tahu," katanya.
Baca Juga: Rampok Sadis Jenar Peragakan 40 Adegan, Polres Sragen Dalami Unsur Pembunuhan Berencana
Meski optimistis, dia mengakui keberadaan dua pusat kegiatan membuat pedagang harus menghitung ulang peluang keuntungan.
"Namanya usaha pasti ada risikonya. Sekarang kami cuma berharap pengunjung bertambah dan cuacanya bersahabat," ujarnya.
Pengelola Bantah Sewa Mahal
Di tengah keluhan pedagang, Pengurus Sekaten Alun-Alun Utara Keraton Surakarta membantah anggapan tarif sewa lapak terlalu mahal.
Pengurus Sekaten Alun-Alun Utara Poespawinahyu mengatakan, tarif tenant reguler dibanderol mulai Rp 2 juta hingga Rp 6 juta untuk masa sewa satu bulan. Harga tersebut sudah termasuk fasilitas tenda, listrik, dan flooring.
"Perlu diketahui bahwa harga di Sekaten disesuaikan dengan kemampuan masing-masing pedagang. Kami membuka tarif mulai Rp 2 juta sampai Rp 6 juta untuk tenant reguler selama satu bulan. Fasilitas yang kami berikan juga yang terbaik," ujarnya, Rabu (29/7).
Menurutnya, flooring dipasang agar area lapak tidak becek saat hujan. Beberapa lapak juga memiliki dua sisi jualan sehingga pedagang dapat melayani pembeli dari dua arah.
Pengelola juga menyediakan pilihan bagi pedagang kecil. Tarif lapak kaki lima dipatok sekitar Rp 50 ribu per hari dengan tenda kajang.
Bahkan, pedagang seperti penjual kapal-kapalan dan telur asin cukup membayar Rp 25 ribu per hari.
"Bagi pedagang kecil juga kami siapkan pilihan yang lebih terjangkau. Jadi tidak semua harus menyewa tenant besar," jelasnya.
Poespawinahyu menambahkan, satu tenda dapat digunakan lebih dari satu pedagang. Bahkan, dalam kondisi tertentu satu tenda bisa ditempati hingga empat pedagang agar biaya sewa lebih ringan.
Baca Juga: Persis Solo Bentuk Departemen Analis Independen, Suporter Soroti Rekam Jejaknya
"Bisa dua posisi muka jualan, bahkan satu tenda bisa dipakai sampai empat orang," katanya.
Dia menjelaskan perbedaan tarif dipengaruhi lokasi, ukuran lapak, serta jumlah sisi yang bisa digunakan untuk berjualan. Semakin strategis posisi lapak, semakin tinggi nilai sewanya.
Saat ini tersedia sekitar 200 tenda di kawasan Alun-Alun Utara, dengan sekitar 150 pedagang yang telah mendaftar.
"Kami berusaha membuat pedagang senyaman mungkin dengan memberikan banyak pilihan lokasi sesuai kemampuan modal mereka, apalagi kondisi perekonomian saat ini masih naik turun," ujarnya. (alf/bun)
Editor : fery ardi susantoSumber : Radar Solo