Kelompok Wanita Kreatif Tipes Sulap Kain Perca di Pemakaman Tua Jadi Penopang Dapur

Silvester Kurniawan • Dipublikasikan Kamis, 30 Juli 2026 | 17:33 WIB
Anggota Kelompok Wanita Kreatif Tipes sedang menjahit kain perda jadi beragam produk. (Silvester Kurniawan/Radar Solo)
Anggota Kelompok Wanita Kreatif Tipes sedang menjahit kain perda jadi beragam produk. (Silvester Kurniawan/Radar Solo)

RADARSOLO.COM - Di balik dinding pemisah gertak makam tua Al Waliyin—kompleks pemakaman Arab yang telah tidak aktif sejak era 1990-an—suara deru pedal mesin jahit bersahut-sahutan membelah kesunyian gang sempit. Di sudut perkampungan padat RT 01–02 RW 13 Kampung Dipotrunan, Kelurahan Tipes, Kecamatan Serengan, Kota Surakarta, keterbatasan geografis dan bayang-bayang kemiskinan tak membuat para perempuannya patah arang.

Dari balik makam tua inilah lahir Kelompok Wanita Kreatif Tipes. Himpunan yang digerakkan oleh 21 perempuan tangguh—mulai dari ibu rumah tangga, perempuan kepala keluarga (PEKKA), hingga deretan lansia berusia 35 hingga 70 tahun—sukses membalikkan nasib. Limbah kain perca sisa industri garmen yang tadinya dianggap sampah, di tangan mereka disulap menjadi ratusan potong daster, celemek, dan pakaian anak berdaya jual setiap harinya.

Baca Juga:  Melawan Arus Digital, Tiga Dekade Radio Gapura Klewer Merawat Napas Pasar Lewat Ribuan Meter Kabel.

Aktivitas memotong dan menjahit kain perca sejatinya bukan hal baru di Dipotrunan. Keterampilan kriya ini merupakan warisan lintas generasi sejak era kakek-nenek mereka yang terus diturunkan ke anak-cucu.

Salah satu perajin senior yang konsisten merawat tradisi ini adalah Ibu Sukati, 66. Untuk mencapai rumah sederhananya, Sukati harus menyusuri jalan setapak di antara batu nisan tua. Pemandangan mistis yang bagi orang luar terkesan menyeramkan ini justru menjadi ruang hidup yang karib bagi warga setempat.

"Saya sudah menjahit perca sejak 1995, meneruskan usaha orang tua. Dulu sebelum ada kelompok, semua dikerjakan sendiri. Beli bahan sendiri, jual sendiri. Sekarang setelah berhimpun di Kelompok Wanita Kreatif, modal bahan baku jadi jauh lebih murah karena dibeli bersama-sama. Hasil dasternya pun sudah ada penampung tetap, jadi pendapatan keluarga lebih stabil," ungkap Sukati yang telah 31 tahun setia di depan meja jahit belum lama ini.

Baca Juga: Saat 5 Camat "Pandawa Lima" Kota Solo Keluar Keringat Dingin Main Wayang Orang demi Perang Stunting

Cerita serupa datang dari Tarjiem, 62. Di usia senjanya, Tarjiem menolak bertopang dagu. Hasil dari mengayuh mesin jahit perca tak hanya berhasil mengantarkan anak-anaknya hidup mandiri, tetapi kini menjadi sumber rezeki untuk membesarkan cucu-cucunya.

"Dulu waktu almarhum suami masih ada, beliau yang bantu kulakan dan memotong kain. Sekarang setelah bergabung di kelompok, pembagian kerjanya sudah rapi. Saya tinggal menerima kain potongan dan fokus menjahit saja," tutur Tarjiem.

Inisiator sekaligus penggerak Kelompok Wanita Kreatif Tipes Madu Mastuti mengungkapkan, ide pelembagaan kelompok ini muncul dari keprihatinan atas tingginya angka kemiskinan dan kerentanan ekonomi perempuan di wilayah RW 13 Tipes.

Baca Juga: Balik Dolanan Solo, Ruang Bermain yang Menghidupkan Kembali Tawa di Tengah Dunia Digital

Cikal bakal pergerakan yang dirintis sejak 2018–2020 ini bertumpu pada perhitungan ekonomi mikro yang terukur. Upah jahit dan potong Rp 5.000 per potong daster. Kapasitas produksi perajin rata-rata 20 potong daster per hari dengan penghasilan Rp 100 ribu per hari. Produksi bantuan keluarga mampu menembus 25 hingga 30 daster per hari jika dibantu anggota keluarga di rumah.

Meski terkesan sederhana, suntikan pendapatan harian ini menjadi penambal tambal-sulam kebutuhan dapur dan biaya sekolah anak tanpa harus sepenuhnya bergantung pada pendapatan suami.

Perjuangan mereka mengetuk pintu perhatian pemerintah. Berawal dari pendampingan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Solo, kelompok ini resmi dilirik dan dijadikan UMKM Binaan Bank Indonesia (BI) untuk penguatan modal serta peremajaan peralatan produksi.

"Kami bersyukur sekali, selain dapat pembiayaan modal dan peralatan dari kementerian serta Bank Indonesia, kelompok kami juga segera mengantongi surat keterangan (SK) resmi dari Kelurahan Tipes. Ini membuat semangat ibu-ibu makin menyala," tutur Madu Mastuti di sela-sela rapat balai warga.

Bagi warga Dipotrunan, perca bukan lagi sekadar sisa kain potong, melainkan jembatan untuk keluar dari jerat kemiskinan urban. Kelompok Wanita Kreatif telah membuktikan bahwa ruang-ruang terisolasi seperti pemukiman makam tua bisa diubah menjadi episentrum produksi ekonomi kreatif yang inklusif.

"Harapan utama kami, kelompok ini bisa terus menjadi rumah yang menguatkan bagi ibu-ibu lansia, ibu kepala keluarga, dan perempuan rentan secara ekonomi. Di sini kami tidak hanya berkumpul untuk menjahit daster, tapi saling menopang agar tetap berdaya dan bermartabat di tengah keterbatasan," ujar Madu Mastuti mantap. (ves/bun)

Editor : Kabun Triyatno
daster kreatif kain perca wanita menjahit