RADARSOLO.COM - Gamelan mulai ditabuh pelan. Lampu di Gedung Kesenian Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) perlahan meredup. Satu per satu tokoh memasuki panggung. Malam itu, Jumat (31/7/2026), bukan konser atau pesta kembang api yang dipilih untuk mengakhiri Pasar Raya 2026. Pertunjukan wayang orang justru dipilih untuk menutup pesta pentas pertunjukkan tersebut.
Lakon Mataya Rinengga Kidung Wana Martani dipilih menjadi suguhan terakhir dalam rangkaian acara tersebut. Namun, yang membuat pentas itu berbeda bukan hanya cerita yang dibawakan. Malam itu, panggung TBJT dipenuhi para maestro seni pertunjukan yang datang dari berbagai daerah.
Baca Juga: Profil Slavko Damjanovic, Bek Baru Persis Solo yang Siap Antar Laskar Sambernyawa Kembali ke Liga 1
Mereka datang membawa pengalaman puluhan tahun di dunia tari dan wayang orang. Ada yang berangkat dari Jakarta. Ada pula dari Jawa Timur. Bahkan, seorang maestro baru saja tiba dari Korea Selatan sebelum langsung bergabung dalam pementasan.
Plt Kepala Taman Budaya Jawa Tengah, Sarido mengatakan, sengaja memilih wayang orang sebagai penutup Pasar Raya. Alasannya sederhana. Ia ingin masyarakat melihat bahwa seni tradisi masih hidup dan memiliki daya tarik.
"Yang menjadi istimewa, Wayang Orang ini adalah yang tampil para maestro, para senior-senior di seni pertunjukan tari. Kumpul semua di Taman Budaya Jawa Tengah," ujarnya.
Menurut Sarido, momentum itu bukan sekadar pertunjukan. Lebih dari itu, menjadi ruang berkumpulnya para seniman yang selama ini menjadi penjaga denyut kesenian tradisional.
"Yang dari Jawa Timur ada, dari Jakarta ada, bahkan yang baru pulang dari Korea langsung ikut mangayubagyo," katanya.
Beberapa nama yang hadir di antaranya maestro tari Suryandoro dari Sanggar Swargaloka Jakarta. Ada pula Yoyok Bambang Priyambodo yang selama ini dikenal sebagai salah satu tokoh seni tari Indonesia.
Bagi Sarido, kehadiran para maestro itu membawa pesan yang lebih besar daripada sekadar hiburan. Ia berharap generasi muda bisa melihat langsung dedikasi para senior yang tetap setia berkarya hingga sekarang.
"Mudah-mudahan dengan hadirnya para maestro ini menjadi semangat, menjadi cambuk bagi kita generasi muda untuk terus melestarikan kesenian dan kebudayaan," tuturnya.
Pesan itu terasa sejalan dengan semangat Pasar Raya tahun ini. Sejak dibuka pada 20 Juli lalu, kawasan Taman Budaya tak pernah sepi. Setiap hari selalu ada pertunjukan yang bergantian menghibur pengunjung.
Mulai atraksi barongsai, konser musik, pameran seni rupa, hingga deretan kuliner yang memenuhi area TBJT. Anak-anak, remaja, hingga orang tua datang menikmati hiburan yang disuguhkan secara gratis.
Sarido menyebut, seluruh rangkaian itu memang dirancang agar masyarakat semakin dekat dengan Taman Budaya.
"Pasar Raya ini kita desain selengkap mungkin agar masyarakat Solo dan sekitarnya bisa menikmati Taman Budaya ini," ucapnya.
Baca Juga: Adu Statistik Persebaya Surabaya vs Port FC di Piala Presiden 2026: Berapa Prediksi Skor Malam Ini?
Antusiasme masyarakat pun cukup tinggi. Hingga sehari sebelum penutupan, jumlah pengunjung telah mencapai sekitar 19 ribu orang.
"Alhamdulillah, sampai tadi malam kurang lebih sekitar 19 ribu pengunjung. Artinya Taman Budaya masih menjadi tempat masyarakat untuk berwisata dan melepas penat," katanya.
Meski demikian, pihaknya mengaku masih memiliki pekerjaan rumah. Sejumlah evaluasi akan dilakukan agar Pasar Raya tahun depan tampil lebih lengkap.
TBJT berencana menambah ruang bagi sektor ekonomi kreatif. Tak hanya kuliner, tetapi juga kriya, fesyen, perfilman hingga gim lokal agar bisa ikut meramaikan Pasar Raya 2027.
Namun, bagi Sarido, kemeriahan sebuah acara bukan hanya diukur dari ramainya pengunjung. Yang lebih penting adalah bagaimana masyarakat pulang membawa kesan. (hj/nik)
Editor : Niko auglandy