RADARSOLO.COM — Aktivitas jual beli di Pusat Grosir Solo (PGS) resmi ditutup pada 31 Juni 2026, setelah dinyatakan pailit berdasarkan putusan pengadilan.
Video yang merekam momen perpisahan para pedagang di salah satu ikon wisata belanja batik dan sandang legendaris Kota Solo itu banyak beredar dan viral di TikTok.
Lantas, setelah PGS tutup, bagaimana nasib puluhan hingga ratusan pedagang yang menggantungkan mata pencahariannya di gedung tersebut?
Baca Juga: Apa Penyebab Pusat Grosir Solo PGS Resmi Ditutup? Manajemen Bilang Bukan Karena Sepi Pengunjung
Marketing dan Tenant Relation PGS Bachtiar Ibnu Fadzil mengatakan, rencana penghentian operasional sebenarnya sudah berjalan secara bertahap sejak beberapa bulan lalu.
Pihak manajemen tidak lagi memperpanjang masa sewa tenant yang telah habis.
Kondisi tersebut membuat jumlah kios aktif merosot tajam.
Dari kapasitas awal mencapai 700 kios, angka penyewa menyusut drastis hingga tersisa sekitar 60 kios saja menjelang penghentian operasional.
Baca Juga: Viral Video Pusat Grosir Solo PGS Resmi Tutup, Para Pedagang Dadah-Dadah: Ini Kata Manajemen
Fadzil menegaskan bahwa penutupan PGS itu bukan disebabkan oleh sepinya minat pembeli atau lesunya kunjungan wisatawan, melainkan murni masalah investasi di tingkat manajemen.
"Ini bukan pailit karena enggak laku atau sepi, tapi dipailitkan. Satu-satunya faktor adalah investasi yang gagal," ujar Fadzil pada Selasa (4/8/2026).
Menurutnya, daya tarik PGS di mata wisatawan belanja sebenarnya masih sangat tinggi jika dibandingkan dengan pusat perbelanjaan sejenis di sekitarnya.
"Kalau disuruh milih PGS atau BTC, kebanyakan tetap milih PGS. Secara kenyamanan dan crowd (keramaian) pengunjung masih di atas," imbuhnya.
Curhat Pedagang
Meski kenyamanan PGS diakui unggul, para pedagang tidak memiliki pilihan lain selain angkat kaki.
Baca Juga: Audiensi di Balai Kota, Ormas Minta Penjualan Miras Dibatasi Hanya di Hotel Berbintang
Kepindahan ke lokasi baru pun menyisakan tantangan berat, terutama di tengah penurunan daya beli masyarakat.
Salah seorang pedagang busana muslim, Ilham, menceritakan pengalamannya setelah memindahkan roda bisnisnya ke Pasar Klewer.
Dari tiga kios yang sebelumnya ia kelola di PGS, kini ia hanya sanggup menyewa satu kios saja di tempat baru.
Baca Juga: Korban Kebakaran Aspol Panularan Tolak Rusun, Minta Kompensasi untuk Sewa Rumah
"Sekarang perekonomian jauh rendah. Omzet bisa turun sampai 75 persen. Bulan puasa yang biasanya jadi harapan pedagang, kemarin juga sepi," tutur Ilham.
Penurunan omzet drastis dan keterbatasan luas kios memaksanya melakukan efisiensi dengan memangkas jumlah karyawan, dari tujuh orang menjadi tersisa tiga orang saja.
Kendati tarif sewa di Pasar Klewer relatif lebih murah, ia menilai keberadaan PGS tetap memiliki daya pikat tersendiri sebagai destinasi wisata utama di Solo.
"Yang penting sekarang bertahan dulu. Daripada menganggur, usaha tetap harus jalan. Karyawan juga kasihan kalau tidak ada pekerjaan," katanya.
Ribuan Pekerja Terdampak
Dampak sosial ekonomi dari penutupan PGS ini terbilang masif.
Pada fase akhir penutupan saja, sekitar 60 kios tersisa diperkirakan menyumbang sekitar 400 pekerja yang terancam kehilangan pekerjaan.
Apabila dihitung secara akumulatif sejak tenant mulai berkurang beberapa bulan lalu, jumlah tenaga kerja yang terdampak pemutusan hubungan kerja mencapai ribuan orang.
Editor : Syahaamah Fikria