RADARSOLO.COM - Lorong-lorong yang selama dua dekade dipenuhi suara tawar-menawar kini berubah sunyi. Tak lagi terdengar panggilan pedagang menawarkan dagangan kepada wisatawan maupun pembeli grosir. Yang tersisa hanyalah bunyi lakban, kardus, dan troli yang mengangkut barang-barang keluar dari Pusat Grosir Solo (PGS).
Setelah resmi dinyatakan pailit, PGS menutup aktivitas perdagangan pada akhir Juli 2026. Ikon wisata belanja Kota Solo yang berdiri sejak 2005 itu mengakhiri perjalanannya setelah lebih dari 20 tahun menjadi pusat perdagangan sandang terbesar di Kota Bengawan.
Selasa (4/8) sore, suasana di dalam gedung jauh berbeda dibanding masa kejayaannya. Para pedagang sibuk membongkar etalase, melipat pakaian, dan memasukkan stok barang ke dalam kardus. Sebagian besar akan pindah ke Beteng Trade Center (BTC), sementara lainnya memilih Pasar Klewer.
Baca Juga: Apa Penyebab Pusat Grosir Solo PGS Resmi Ditutup? Manajemen Bilang Bukan Karena Sepi Pengunjung
Di antara mereka, Mustofa tampak mondar-mandir dari lantai satu hingga lantai tiga. Pemilik Toko Fara itu sudah menjadi bagian dari perjalanan PGS sejak 2007.
"Awal buka saya belum masuk. Baru dua tahun kemudian mulai jualan di sini. Waktu itu kios masih banyak yang kosong," kenangnya.
Selama hampir 19 tahun berjualan, Mustofa menyaksikan sendiri bagaimana PGS tumbuh menjadi pusat perdagangan yang selalu ramai. Menjelang Lebaran, parkiran penuh, lorong-lorong sesak oleh pembeli dari berbagai daerah, bahkan banyak rombongan wisata belanja datang dari luar Jawa Tengah.
"Paling ramai ya menjelang Idul Fitri sama Idul Adha. Orang dari luar kota banyak yang belanja di sini. Dulu parkiran enggak pernah sepi," ujarnya.
Saat itu, sekitar 700 kios di PGS terisi penuh. Mustofa bahkan berani menyewa tiga kios sekaligus karena prospek usaha yang sangat menjanjikan.
Masalah investasi yang berujung pada putusan pailit membuat pengelolaan PGS beralih ke kurator sejak akhir 2025. Bersamaan dengan itu, biaya sewa melonjak drastis. Jika sebelumnya sekitar Rp 150 juta untuk masa sewa 20 tahun, harga baru mencapai sekitar Rp 600 juta untuk kontrak 10 tahun.
"Kami enggak sanggup. Enam bulan terakhir saja sewa Rp 40 juta per kios. Mau enggak mau harus pindah," katanya.
Dari sekitar 700 kios, hanya sekitar 60 tenant yang bertahan hingga masa penutupan. Mustofa akhirnya memilih pindah ke BTC. Meski berat meninggalkan tempat yang telah menjadi sumber penghidupan keluarganya selama hampir dua dekade, ia mengaku tak memiliki pilihan lain.
"Saya pindah supaya usaha tetap jalan."
Nasib serupa dialami Ilham, pedagang busana muslim. Dari tiga kios yang dimilikinya di PGS, kini ia hanya mampu menyewa satu kios di Pasar Klewer. Penurunan daya beli masyarakat dalam beberapa tahun terakhir membuat usahanya semakin berat.
"Omzet turun sampai 75 persen. Bahkan waktu bulan puasa yang biasanya jadi harapan pedagang juga sepi," ungkapnya.
Kondisi tersebut memaksanya mengurangi jumlah karyawan dari tujuh orang menjadi tiga orang.
"Yang penting usaha tetap jalan. Kasihan juga kalau karyawan sampai enggak punya pekerjaan," ujarnya.
Bagi para pedagang, PGS bukan sekadar tempat mencari nafkah.
Selama hampir dua puluh tahun, gedung itu menjadi tempat mereka menghabiskan sebagian besar waktunya bersama keluarga dan para pedagang lainnya.
"Ini sudah seperti rumah kedua. Dari pagi sampai sore setiap hari di sini. Kalau nanti dibuka lagi dengan pengelolaan yang baik, saya siap kembali," ujarnya. (alf/bun)
Editor : Kabun Triyatno