Penyuluh Agama Dilibatkan untuk Tingkatkan Literasi JKN, BPJS Soroti 50 Juta Peserta Belum Aktif

Alfida Nurcholisah • Dipublikasikan Rabu, 5 Agustus 2026 | 14:46 WIB
Penyuluh Agama Dilibatkan untuk Tingkatkan Literasi JKN, BPJS Soroti 50 Juta Peserta Belum Aktif
Penyuluh Agama Dilibatkan untuk Tingkatkan Literasi JKN, BPJS Soroti 50 Juta Peserta Belum Aktif

RADARSOLO.COM - BPJS Kesehatan menggandeng penyuluh agama untuk meningkatkan literasi masyarakat mengenai pentingnya kepesertaan aktif Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

Kegiatan yang dilaksanakan di Ballroom Haris Hotel pada, Rabu (5/8) itu dilakukan karena masih terdapat sekitar 50 juta peserta yang belum aktif, meski cakupan kepesertaan JKN telah mencapai sekitar 280 juta jiwa.

Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama RI Abu Rakhmad mengatakan, penyuluh agama memiliki peran strategis dalam menyampaikan edukasi kepada masyarakat terkait pentingnya menjadi peserta aktif JKN.

Menurutnya, penyuluh agama memiliki tiga fungsi utama, yakni sebagai mursyid atau pembimbing masyarakat, mubalig yang memberikan penjelasan dan edukasi, serta mufti yang menyampaikan pandangan terkait berbagai persoalan, termasuk pentingnya jaminan kesehatan.

Direktur Kepesertaan BPJS Kesehatan Akmal Budi Yulianto
Direktur Kepesertaan BPJS Kesehatan Akmal Budi Yulianto

"JKN sangat penting bagi kita semua. Terus sampaikan kepada masyarakat agar menjadi peserta aktif. Jika iuran berjalan lancar, kebutuhan pelayanan kesehatan masyarakat bisa terus terjamin," ujarnya.

Selain memberikan edukasi, penyuluh agama juga diharapkan membantu masyarakat memahami layanan kesehatan, termasuk penggunaan layanan digital seperti antrean online agar tidak terjadi penumpukan pasien di rumah sakit.

Sementara itu, Direktur Kepesertaan BPJS Kesehatan Akmal Budi Yulianto menjelaskan, ketidakaktifan peserta disebabkan dua faktor utama, yakni peserta yang sebenarnya mampu membayar tetapi tidak membayar iuran, serta masyarakat yang benar-benar tidak mampu.

"Bagi masyarakat yang tidak mampu, negara menjamin melalui skema yang ada. Sedangkan kelompok masyarakat rentan juga perlu mendapat perhatian agar tidak jatuh miskin akibat biaya kesehatan," katanya.

Akmal menjelaskan Program JKN sejalan dengan Asta Cita Presiden, khususnya dalam memperkuat perlindungan sosial dan mewujudkan akses layanan kesehatan yang setara, termasuk bagi penyandang disabilitas.

Hingga Juni 2026, cakupan kepesertaan JKN telah mencapai sekitar 280 juta jiwa dengan tingkat keaktifan peserta sekitar 80 persen.

Untuk melayani peserta, BPJS Kesehatan telah bekerja sama dengan 23.679 Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) dan 3.221 Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan (FKRTL) di seluruh Indonesia.

"Setiap hari, hampir dua juta peserta mengakses layanan JKN, termasuk sekitar 3.000 rumah sakit," katanya.

Tingginya jumlah kunjungan tersebut menjadi salah satu penyebab antrean layanan kesehatan.

Karena itu, BPJS Kesehatan menggandeng penyuluh agama melalui program SYAIR JKN untuk memperkuat edukasi masyarakat mengenai hak dan kewajiban peserta, pentingnya menjaga kepesertaan tetap aktif, serta membangun semangat gotong royong.

"Dengan begini, peserta yang sehat dapat membantu peserta yang sakit serta mampu membantu masyarakat yang kurang mampu," terangnya. 

Lebih lanjut, ia menegaskan, kegiatan ini menegaskan bahwa keberhasilan Program JKN tidak hanya bergantung pada kualitas penyelenggaraan layanan kesehatan, tetapi juga pada keterlibatan seluruh elemen masyarakat dalam membangun kesadaran akan pentingnya perlindungan kesehatan bagi seluruh penduduk Indonesia. 

"Melalui jejaring penyuluh agama yang tersebar hingga ke pelosok negeri, diharapkan edukasi mengenai Program JKN dapat menjangkau masyarakat secara lebih luas dengan pendekatan yang humanis, inklusif, dan selaras dengan nilai-nilai keagamaan," pungkasnya. (alf)

Editor : Nur Pramudito
Sumber : Radar Solo
SYAIR JKN bpjs kesehatan jkn solo