RADARSOLO.COM – Penutupan permanen Pusat Grosir Solo (PGS) ternyata tidak otomatis mengalihkan denyut perdagangan ke Beteng Trade Center (BTC). Alih-alih terjadi gelombang perpindahan, hanya 84 pedagang eks PGS yang tercatat membuka usaha di BTC. Mayoritas memilih menyebar ke Pasar Klewer, berjualan dari rumah, menyewa ruko, bahkan menghentikan usahanya.
Direktur Operasional BTC Solo sekaligus Ketua Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPI) BPC Solo Raya Henry Poerwantoro mengatakan, perpindahan pedagang sebenarnya telah berlangsung jauh sebelum PGS resmi berhenti beroperasi. Proses tersebut dimulai sejak akhir 2025, ketika kepastian tidak diperpanjangnya masa sewa kios mulai diketahui para tenant.
Baca Juga: 97 Kios Disiapkan untuk Eks Pedagang PGS, Pemkot Buka Peluang Relokasi ke Pasar Jongke dan Klewer
"Perpindahan sudah dimulai sejak November-Desember 2025. Jadi bukan setelah PGS resmi tutup. Dari sekitar 1.600 kios di BTC, saat ini baru sekitar 700 yang terisi. Pedagang pindahan dari PGS hanya sekitar 84 orang," ujarnya, Rabu (5/8/2026).
Jumlah tersebut jauh dari total sekitar 700 pedagang yang sebelumnya beraktivitas di PGS. Menurut Henry, kondisi itu menunjukkan sebagian besar pedagang memilih jalur lain untuk mempertahankan usahanya.
"Ada yang pindah ke Pasar Klewer, buka usaha di rumah, menyewa ruko, bahkan kemungkinan ada yang memilih berhenti berjualan karena kondisi usaha sudah tidak memungkinkan," katanya.
Henry mengakui penutupan PGS memang berdampak pada peningkatan kunjungan ke BTC. Namun kenaikannya masih relatif kecil, hanya sekitar 12 hingga 15 persen, sebanding dengan bertambahnya jumlah tenant baru.
"Traffic memang naik sekitar 12 sampai 15 persen. Tapi tidak langsung melonjak. Kami tetap fokus membangun branding sendiri dan memberi fleksibilitas masa sewa, mulai dua bulan hingga 10 tahun, sehingga pedagang bisa menyesuaikan kemampuan usahanya," jelasnya.
Sebagai Ketua APPI Solo Raya, Henry menegaskan tutupnya PGS murni dipicu persoalan bisnis akibat kepailitan, bukan karena kalah bersaing dengan pusat perbelanjaan lain.
Dia berharap investor baru nantinya dapat menghidupkan kembali kawasan bekas PGS sehingga tetap menjadi bagian dari segitiga emas wisata belanja Kota Solo bersama BTC, Pasar Klewer, dan Keraton Surakarta.
"Potensinya masih besar. Harapannya aset PGS bisa kembali dimanfaatkan untuk menggerakkan ekonomi kawasan," ujarnya.
Menurut Henry, tantangan terbesar industri ritel saat ini bukan lagi persaingan antarpusat perbelanjaan, melainkan terus melemahnya daya beli masyarakat. Fenomena itu terlihat dari ramainya pusat belanja yang hanya terjadi pada akhir pekan, sementara hari kerja cenderung sepi dan aktivitas lebih banyak terkonsentrasi di area kuliner.
"Semua pusat perbelanjaan sekarang menghadapi persoalan yang sama. Yang paling dibutuhkan bukan saling berebut pedagang, tetapi bagaimana daya beli masyarakat bisa kembali meningkat," tegasnya.
Kondisi tersebut juga dirasakan Rudi Gustianto, pedagang pakaian yang sejak 2005 berjualan di PGS, BTC, dan Pasar Klewer. Menurutnya, penutupan PGS sama sekali tidak membuat omzet di BTC meningkat signifikan.
"Ramai belum tentu beli, sepi juga belum tentu enggak ada yang beli. Persoalannya sekarang memang daya beli masyarakat turun. Saya sekarang bertahan dengan dua kios di BTC dan Pasar Klewer, belum berani menambah lagi," katanya.
Rudi mengatakan pedagang kini lebih fokus bertahan daripada berekspansi. Berbagai strategi dilakukan, termasuk menekan harga jual agar tetap terjangkau di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih.
"Daya beli masyarakat harus menjadi perhatian pemerintah. Kalau daya beli tidak membaik, pusat perbelanjaan mana pun akan menghadapi persoalan yang sama," pungkasnya.
Editor : Kabun Triyatno