Tak Banyak yang Tahu, Solo Punya Peran Besar Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia

Kabun Triyatno • Dipublikasikan Jumat, 7 Agustus 2026 | 13:47 WIB
Patung Slamet Riyadi, Salah Satu Ikon Kota Solo.
Patung Slamet Riyadi merupakan salah satu ikon Kota Solo. 

RADARSOLO.COM - Ketika membahas perjuangan kemerdekaan Indonesia, banyak orang langsung teringat pada Surabaya dengan Pertempuran 10 November atau Jakarta sebagai tempat dibacakannya Proklamasi. Padahal, Solo juga menyimpan kisah perjuangan yang tak kalah penting dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Bahkan, beberapa tahun setelah Proklamasi dibacakan pada 17 Agustus 1945, Kota Solo menjadi salah satu daerah yang terus bergolak demi mempertahankan kedaulatan Republik Indonesia.

Setelah Indonesia menyatakan kemerdekaan, perjuangan ternyata belum berakhir. Belanda datang kembali bersama pasukan Sekutu dengan tujuan menguasai Indonesia. Di berbagai daerah, termasuk Solo, rakyat dan para pejuang harus kembali mengangkat senjata.

Baca Juga: Masih Bingung Menulis Caption 17 Agustus? Ini Inspirasi Ucapan Sesuai Gayamu

Salah satu peristiwa penting yang terjadi adalah Pertempuran Empat Hari di Solo pada 7-10 Agustus 1949. Dalam pertempuran tersebut, pasukan Tentara Nasional Indonesia (TNI) bersama masyarakat melakukan perlawanan terhadap Belanda yang masih menduduki Kota Solo.

Meski harus menghadapi persenjataan yang lebih lengkap, para pejuang tetap bertahan. Mereka menyerang sejumlah pos Belanda dari berbagai arah untuk menunjukkan bahwa Republik Indonesia masih memiliki kekuatan dan dukungan rakyat.

Pertempuran ini bukan sekadar aksi militer. Perlawanan di Solo juga menjadi bukti kepada dunia internasional bahwa rakyat Indonesia tidak pernah menyerah mempertahankan kemerdekaan yang telah diproklamasikan empat tahun sebelumnya.

Baca Juga: Rumah Masa Kecil Brigjen Slamet Riyadi Dipugar, Tetap Dipertahankan Bentuk Aslinya

Selain menjadi lokasi pertempuran, Solo juga melahirkan sejumlah tokoh penting dalam perjuangan bangsa. Salah satunya adalah Slamet Riyadi, pahlawan nasional yang lahir di Surakarta pada 26 Juli 1927.

Sejak usia muda, Slamet Riyadi aktif bergabung dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Ia memimpin berbagai operasi militer melawan Belanda di sejumlah daerah. Semangat juangnya terus berlanjut hingga ia gugur dalam operasi militer di Ambon pada tahun 1950.

Sebagai bentuk penghormatan, nama Slamet Riyadi kini diabadikan menjadi jalan utama yang membelah Kota Solo. Jalan yang setiap hari dilalui ribuan warga itu ternyata menyimpan kisah perjuangan seorang pahlawan yang berasal dari kota ini.

Tak hanya itu, wilayah Mangkunegaran juga memiliki peran penting pada masa awal kemerdekaan. Di bawah kepemimpinan KGPAA Mangkunegara VIII, pihak Mangkunegaran menyatakan dukungannya kepada Republik Indonesia. Dukungan tersebut memperkuat posisi pemerintah Republik di Surakarta yang saat itu tengah menghadapi situasi politik dan keamanan yang tidak mudah.

Melihat sejarahnya, Solo bukan hanya dikenal sebagai Kota Batik atau pusat budaya Jawa. Kota ini juga menjadi salah satu saksi bagaimana rakyat, tentara, dan para pemimpinnya berjuang mempertahankan kemerdekaan yang telah diproklamasikan. (annas rohmanda purbaningrum)

Editor : Kabun Triyatno
Pertempuran Empat Hari annas rohmanda purbaningrum kemerdekaan solo slamet riyadi