Buka Emparty Art Fest 2026 bersama ISI Surakarta, Wamen Kebudayaan Giring Ganesha: Keris Bukan Klenik!

Tri wahyu Cahyono • Dipublikasikan Sabtu, 8 Agustus 2026 | 14:53 WIB
Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha ikut menempa bahan keris dalam gelaran Emparty Art Fest 2026 Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) belum lama ini. (DOK.ISI SURAKARTA)
Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha ikut menempa bahan keris dalam gelaran Emparty Art Fest 2026 Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) belum lama ini. (DOK.ISI SURAKARTA)

RADARSOLO.COM - Nuansa magis dan semarak perpaduan seni tradisi mewarnai Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) selama berlangsungnya gelaran Emparty Art Fest 2026 belum lama ini.

Festival seni yang diinisiasi oleh Seniman Merdeka Indonesia (SMI) ini dibuka Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha.

Momen pembukaan tersebut sukses mencuri perhatian publik.

Giring Ganesha tidak sekadar hadir dan memberikan sambutan, melainkan juga turun langsung mempraktikkan proses menempa pamor (motif pada bilah keris) dengan didampingi oleh Ketua Program Studi (Kaprodi) Keris Mohammad Ubaidul Izza, beserta para instruktur.

Baca Juga: Memahami Makna Filosofis Keris: Ketika Bilah, Warangka, Deder, dan Pendok Menyatu Jadi Doa Utuh

Giring menyampaikan pesan kepada generasi muda agar tidak ragu mempelajari keilmuan keris.

Ia menekankan bahwa nilai seni dan sejarah keris jauh lebih dominan ketimbang sekadar mitos.

"Saya saja yang sudah berumur 43 tahun baru mulai mempelajari dan mengoleksi keris untuk melihat keindahan serta kompleksitasnya," jelasnya. 

"Keris bukan masalah klenik dan lain sebagainya. Tapi keris itu adalah the piece of art, the piece of history. Generasi muda harus menjaga dan melestarikannya," pungkas Giring.

Pesan edukatif tersebut sejalan dengan besarnya antusiasme pengunjung dari beragam usia, kalangan, dan latar belakang.

Baca Juga: Makna Simbolis-Filosofis Empu atau Mpu Pande Masuk ke Dalam Lubang Lantai Besalen saat Proses Pembuatan Keris

Berdasarkan data daftar hadir, pengunjung tidak hanya datang dari kawasan Solo Raya, tetapi juga meluas dari Tuban, Blitar, Tangerang, Semarang, Jombang, Kebumen, Jakarta, Medan, Tulungagung, Jogja, Pemalang, Tegal, Tasikmalaya, Bekasi, Riau, Banjarnegara, hingga apresiator mancanegara asal Belanda.

Kehadiran masyarakat lintas wilayah ini menjadi manifestasi nyata dari tema besar festival, yakni "Art for Humanity" (Seni untuk Kemanusiaan).

Melalui workshop keris, seni tempa logam berevolusi menjadi medium yang meleburkan batas-batas geografis dan sekat sosial.

Dalam kegiatan tersebut, publik diajak berinteraksi dan menikmati pengalaman seni secara terbuka.

Pengunjung dilibatkan dalam praktik penempaan pamor serta menyaksikan tahapan pembuatan keris dari bahan baku hingga menjadi bilah, sekaligus mendapatkan edukasi mengenai batas antara sisi mistis dan logis dari kacamata akademis Prodi Seni Keris.

Baca Juga: Bukan Sekadar Proses Pengerasan Logam, Ini Filosofi Mendalam Penyepuhan Keris

Demi menghadirkan suasana besalen (bengkel kerja empu) yang otentik, ISI Surakarta memberikan dukungan penuh dengan menerjunkan tim gabungan dosen, praktisi, dan instruktur.

Kolaborasi ini didukung langsung oleh praktisi keris Intan Anggun Pangestu dan Joko Prasetyo, serta tiga mahasiswa yang bertindak sebagai instruktur workshop, yakni Derbi Yoga Saputra, Fauzan Alifi, dan Rizki Dwi Saputra.

Bersama jajaran dosen yang dikoordinatori oleh Cahya Surya Harsakya dan Andina Febrasari, tim workshop turut menampilkan diorama tahapan pembuatan keris serta memamerkan karya pembelajaran dari Program Studi Keris.

Sebagai puncak rangkaian penempaan selama tiga hari, karya hasil workshop berupa kodokan keris (bentuk keris setengah jadi hasil tempaan penyatuan besi, bahan pamor, dan baja) diserahkan secara simbolis oleh tim workshop Prodi Seni Keris ISI Surakarta kepada Ketua Seniman Merdeka Indonesia Barata Sena dengan disaksikan oleh staf ahli SMI, Fauzi.

Barata Sena mengapresiasi penyerahan karya tersebut dan menegaskan bahwa program dirancang agar publik dapat menyentuh langsung proses penciptaan warisan budaya.

Baca Juga: Kesinambungan Bentuk dalam Perkerisan Nusantara: Mengapa Keris Puthut Sajen Lebih Representatif sebagai Purwarupa daripada Khadga

"Kegiatan ini diharapkan mampu meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap nilai filosofi, estetika, serta keterampilan tradisional yang terkandung di dalamnya," tutur Barata Sena.

Bagi Prodi Seni Keris ISI Surakarta, keikutsertaan di ruang publik ini merupakan pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi, khususnya pada aspek Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) melalui diseminasi Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Seni (IPTEKS) terkait pembuatan keris kepada Komunitas Seniman Merdeka Indonesia maupun masyarakat luas. (wa)

Editor : Tri Wahyu Cahyono
Emparty Art Fest 2026 wamen kebudayaan nilai seni keris giring ganesha