Konser Musik Angklung Kolosal Meriahkan Solo CFD, Mayoritas Pemain Lansia Dan Tidak Perlu Menghafal Notasi

Alfida Nurcholisah • Dipublikasikan Minggu, 9 Agustus 2026 | 18:02 WIB
Ratusan lansia memainkan angklung di gelaran Solo CFD Jalan Slamet Riyadi, Minggu pagi (9/8). (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)
Ratusan lansia memainkan angklung di gelaran Solo CFD Jalan Slamet Riyadi, Minggu pagi (9/8). (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

RADARSOLO.COM - Paduan suara angklung menggema di Solo Car Free Day (CFD) Jalan Slamet Riyadi, Minggu (9/8). 

Dimainkan ratusan peserta yang didominasi lanjut usia (lansia).

Menariknya, mereka belajar main angklung tanpa menghafal notasi.

Simpang empat Ngarsopuro di Jalan Slamet Riyadi, mendadak diinfasi ratusan orang.

Baca Juga: Buntut Penyegelan BMT Alfa Dinar, Pemkab Karanganyar Perketat Pengawasan Koperasi

Mereka kompak mengenakan setelan baju merah dan bawahan putih. Sebagian ada juga yang mengenakan bawahan motif polkadot warga merah-putih.

Setelah melihat aba-aba dari pelatih yang merangkap konduktor, tangan dan jemari mereka dengan lincah menggoyang angklung.

Alhasil terdengar lantunan merdu suara musik khas Jawa Barat tersebut.

Aksi mereka tak ayal mengundang perhatian pengunjung yang sejak pagi beraktivitas di Solo CFD Jalan Slamet Riyadi.

Ada yang ikut bergoyang menyelaraskan alunan angklun, tak sedikit pula yang mengabadikan video dan foto.

Ya, inilah gambaran aksi 400-an peserta Konser Musik Angklung Kolosal di Solo CFD. 

Mereka datang dari Solo, Boyolali, hingga Wonogiri. Menariknya, mayoritas pesertanya sudah lansia.

“Ini pentas perdana Paguyuban Pecinta Angklung Solo Raya. Kami ingin menyatukan berbagai komunitas angklung yang sebelumnya jalan sendiri-sendiri,” ungkap Ketua Pelaksana Paguyuban Angklung Solo Raya Edi Yuwono.

Saat ini terdapat 17 grup yang tergabung dalam paguyuban. Sayangnya, sementara ini baru 12 grup saja yang tampil. “Lima grup lainnya diharapkan ikut tampil di kesempatan berikutnya,” imbuhnya.

Meski dominan lansia, mereka sanggup memainkan angklung dengan indah. Usut punya usut, memainkan angklung tak serumit yang kita bayangkan.

Baca Juga: Dugaan Mesum Muda-Mudi di Dalam Bianglala Sekaten Solo Bikin Geger, Warganet Lapor Mas Wali

Mereka tidak perlu membaca atau menghafalkan notasi. Cukup memerhatikan kode gerakan tangan dari pelatih sekaligus konduktor.

“Para lansia ini mau dibawa ke mana? Mereka ingin hiburan. Saya inisiatif dengan angklung ini lebih asyik. Tidak membebani untuk mengingat-ingat notasi. Ibu-ibu cukup melihat tangan saya,” jelas Edi.

Di sisi lain, ajang ini diprakarsai Dharma Wanita Persatuan (DWP) UNS. Awalnya, anggotanya hanya 150 orang.

Setelah komunitas-komunitas angklung dikumpulkan, jumlah peserta sekarang lebih dari 400 orang.

“Anggotanya dari rentang usia yang cukup beragam. Mulai dari 40-85 tahun,” sambung Ketua DWP UNS Widyastuti Hartono.

Harus diakui, salah satu magnet para lansia ini tertarik terjun menekuni angklung, yakni dari kesederhanaan metode belajar.

Mereka tidak dipusingkan dengan teori musik dan notasi. Cukup memegang angklung dan belajar kenali nada dari gerakan tangan.

“Pertama pegang angklung pasti langsung bisa. Satu ini do, kalau fa angka tujuh. Ini lebih mudah diingat,” ujar Widyastuti.

Selain sarana pelestarian seni tradisional, kegiatan ini menjadi ruang bagi para lansia untuk tetap aktif, berkumpul, dan bersenang-senang.

Latihan bersama rencananya akan digelar rutin tiap tiga bulan sekali, dengan lokasi berpindah-pindah.

Ke depan, Paguyuban Pecinta Angklung Solo Raya menargetkan semakin banyak komunitas dan peserta yang bergabung.

“Harapan kami anggotanya sampai 1.000 orang. Jadi nanti bisa konser sendiri. Semoga angklung semakin dikenal di Kota Solo dan semakin banyak orang yang ikut bergabung,” beber Widyastuti. (*/fer)

Editor : fery ardi susanto
Sumber : Radar Solo
Angklung Paguyuban solo raya lansia