RADARSOLO.COM-Semangat memperingati hari kemerdekaan tidak selalu harus diwujudkan dalam kemegahan panggung besar.
Warga RT 05 RW 03 Kampung Begalon, Kelurahan Panularan, Laweyan, Solo menghidupkan kembali suasana hangat kebersamaan kampung melalui gelaran Gumregah Nusantara: Festival Kemerdekaan pada Minggu (9/8/2026).
Mengusung tema "Menghidupkan Warisan, Merayakan Kemerdekaan", festival yang mengolaborasikan warga RT 05 dengan Sandhya Production tersebut menjadi ruang perjumpaan warga lintas generasi untuk merawat warisan budaya sekaligus mempererat tali silaturahmi.
Rangkaian acara dimulai sejak pukul 06.30 dengan giat jalan sehat dan senam kemerdekaan.
Suasana kian semarak saat memasuki sesi estafet dolanan (permainan) tradisional serta penyajian Festival Makanan Nusantara.
Ketua RT 05 Kampung Begalon Handika Pratama menjelaskan, Gumregah Nusantara tidak sekadar menjadi agenda rutin tahunan untuk memperingati kemerdekaan.
Melainkan sebuah seruan agar warga kembali membangkitkan tradisi yang perlahan mulai tergerus zaman.
“Gumregah bukan hanya tentang membuat sebuah acara. Gumregah adalah ajakan untuk bangkit, bergerak dan kembali menghidupkan sesuatu yang mungkin perlahan mulai kita tinggalkan,” ujar Handika Pratama, Minggu (9/8/2026).
Handika menilai bahwa pemaknaan kemerdekaan tidak cuma sebatas mengenang jasa para pahlawan.
Tapi menjaga keberlanjutan budaya lokal dan persaudaraan antartetangga.
Melalui festival ini, anak-anak dikenalkan kembali dengan permainan tradisional, sementara kelompok lansia diberikan ruang untuk membagikan pengalamannya.
“Dari kampung, budaya itu sebenarnya tumbuh. Ketika anak-anak bermain bersama, warga memasak dan makan bersama, hingga tetangga saling membantu, di situlah kebudayaan sebenarnya hidup,” tegas Handika.
Inisiatif Gumregah Nusantara berangkat dari gagasan bahwa pelestarian nilai budaya tidak wajib dimulai dari gedung pertunjukan formal. Lingkungan RT dinilai menjadi garda terdepan tempat tumbuhnya kebudayaan alami.
Baca Juga: Petakan Kerawanan Pilkades Serentak 2026 Di Sukoharjo, Dari Hoaks Hingga Potensi Serangan Fajar
“Kalau kita ingin menjaga budaya, tidak harus menunggu ada acara besar. Kampung pun bisa menjadi panggung. Warga bisa menjadi pelaku budaya dan tradisi bisa kembali menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari,” tambah Handika.
Sentuhan dari Sandhya Production turut memperkuat sisi teknis dan kreatif penyelenggaraan tanpa mengikis identitas gotong royong warga.
Seluruh persiapan hingga pelaksanaan dikerjakan secara swadaya dan kolaboratif oleh masyarakat setempat.
Bagi pengurus RT 05 Begalon, tolok ukur keberhasilan kegiatan ini terletak pada makin eratnya ikatan sosial dan rasa memiliki warga terhadap lingkungannya.
“Yang paling penting bukan seberapa meriah acaranya. Kami ingin setelah kegiatan ini rasa kebersamaan warga semakin kuat. Ada rasa memiliki dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar,” pungkasnya. (atn)
Editor : Tri Wahyu CahyonoSumber : Radarsolo.jawapos.com