RADARSOLO.COM – Pemkot Solo membuka peluang kolaborasi dengan berbagai pihak guna memperkuat layanan kesehatan yang ada di Kota Bengawan. Hal ini dilakukan guna meningkatkan efektivitas sektor kesehatan secara menyeluruh agar semakin dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Wali Kota Solo Respati Ardi menilai pentingnya memperkuat sektor kesehatan di Kota Solo. Oleh sebab itu kerja sama dengan industri farmasi perlu dilakukan dengan fokus pendekatan untuk memenuhi kebutuhan sektor kesehatan, mulai dari peningkatan literasi masyarakat, program promotif dan preventif, pengembangan kapasitas tenaga kesehatan, hingga pemanfaatan teknologi dalam pelayanan kesehatan.
“Pembangunan kesehatan tidak dapat dilakukan sendiri oleh pemerintah. Diperlukan kolaborasi yang erat antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, tenaga kesehatan, dan masyarakat,” terangnya, Minggu (9/8).
Hal serupa juga dia sampaikan saat bertemu dengan Gabungan Perusahaan Farmasi di Solo, Rabu (5/8) lalu. Saat itu dia menegaskan bahwa pihaknya membuka peluang kolaborasi lebih luas dengan Gabungan Perusahaan Farmasi (GP Farmasi) untuk memperkuat kualitas pelayanan kesehatan masyarakat. Menurutnya perusahaan farmasi memiliki kapasitas, pengalaman, serta inovasi yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung program kesehatan pemerintah daerah.
“Harapannya kolaborasi yang dibangun diharapkan tidak berhenti pada hubungan kelembagaan, tetapi menghasilkan program yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat,” hematnya.
Salah satu ruang kerja sama yang dapat dikembangkan adalah peningkatan literasi kesehatan masyarakat. Edukasi mengenai penggunaan obat yang tepat, aman dan rasional dinilai penting untuk mendorong masyarakat semakin memahami kesehatan, sekaligus menghindari penggunaan obat secara tidak tepat. Kedepan perusahaan farmasi juga dapat dilibatkan dalam program promotif dan preventif yang dijalankan Pemkot Solo.
“Industri farmasi tidak hanya berbicara mengenai produksi obat dan alat kesehatan. Ada banyak ruang untuk berkolaborasi, termasuk bagaimana meningkatkan literasi kesehatan dan mendukung kualitas pelayanan kesehatan masyarakat,” terang wali kota.
Baca Juga: Karnaval Mobil Hias Di Sukoharjo Ditiadakan, Produsen Tetap Banjir Pesanan
Di sisi lain, Pemkot Solo juga membuka peluang kerja sama dalam pengembangan sumber daya manusia bidang kesehatan. Pertukaran pengetahuan pelatihan, serta penguatan kompetensi tenaga kesehatan menjadi salah satu aspek yang bakal dikembangkan bersama. Selanjutnya perkembangan teknologi juga menjadi peluang kolaborasi, pemerintah kota mendorong pemanfaatan inovasi untuk membuat pelayanan kesehatan semakin mudah diakses, cepat, dan berkualitas.
“Dengan semangat gotong royong dan kolaborasi, kita optimistis dapat menghadirkan ekosistem kesehatan yang semakin kuat dan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat,” harapnya.
Sekadar informasi, pada awal Juni lalu Pemprov Jawa Tengah bersama BPOM RI meluncurkan Program Indonesia Sadar Jamu Aman (IDAMAN). Sejak itu Pemkot Solo pun mulai memperkuat kolaborasi dalam berbegai sektor termasuk dalam industri jamu di Solo. Program tersebut diharapkan tidak hanya menghidupkan kembali budaya minum jamu, tetapi juga menciptakan rantai nilai ekonomi yang berkelanjutan.
Teknisnya BRIDA akan berfokus pada penelitian dan inovasi tanaman obat lokal, Balai POM mendampingi aspek keamanan, mutu, dan khasiat produk, sementara dinas koperasi UKM dan perindustrian memperkuat kapasitas pelaku usaha melalui legalitas, sertifikasi, pengemasan, hingga pemasaran. Sementara Dispangtan akan mendorong pengembangan budidaya tanaman obat serta meningkatkan kemampuan petani agar mampu menghasilkan bahan baku sesuai kebutuhan industri.
“Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci keberhasilan pengembangan industri herbal di Kota Solo. Pemerintah ingin memastikan seluruh mata rantai, mulai dari produksi bahan baku hingga pemasaran produk jadi, dapat berkembang secara berkesinambungan,” kata Wakil Wali Kota Solo Astrid Widayani, beberapa waktu sebelumnya. (ves/nik)
Editor : Niko auglandy