RADARSOLO.COM – Pemerintah Kota (Pemkot) Solo mulai menyiapkan wajah baru pariwisata Solo. Tiga kampung yang selama ini dikenal memiliki kekuatan sejarah dan budaya—Kauman, Kemlayan, dan Keprabon—didorong menjadi satu kawasan wisata terintegrasi berbasis ekonomi kreatif.
Konsep yang disebut Kawasan Wisata Kauman-Kemlayan-Keprabon (K3) itu dinilai berpotensi melahirkan destinasi baru di tengah Kota Solo. Bukan sekadar menawarkan tempat untuk dikunjungi, kawasan tersebut diharapkan mampu menggabungkan sejarah, budaya, kreativitas, hingga aktivitas ekonomi masyarakat.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Solo Maretha Dinar Cahyono mengatakan, Pemkot Solo memang tengah berupaya menghadirkan alternatif baru dalam pengembangan pariwisata. K3 menjadi salah satu konsep yang saat ini terus didorong.
Baca Juga: Cara Melihat Gerhana Matahari Total 12 Agustus 2026 dari Indonesia, Cek Link Live Streaming
“Para pelaku wisata di Kauman sebelumnya juga sudah diajak bertemu dengan Mas Wali untuk mendorong konsep wisata yang lebih eksklusif. Begitu juga dengan Kemlayan dan Keprabon,” ujar Maretha, Senin (10/8/2026).
Menurut dia, pengembangan K3 tidak berdiri sendiri. Konsep tersebut berkaitan erat dengan penataan Koridor Nonongan-Coyudan di Jalan Yos Sudarso yang kini dikerjakan Pemkot Solo.
Penataan kawasan diharapkan menjadi pemantik bagi warga, pelaku usaha, pegiat wisata, hingga pelaku ekonomi kreatif untuk menyiapkan produk dan pengalaman wisata baru. Dengan demikian, kawasan K3 tidak berhenti sebagai ruang permukiman, tetapi berkembang menjadi destinasi yang memiliki daya tarik khas.
Baca Juga: Cara Melihat Gerhana Matahari Total 12 Agustus 2026 dari Indonesia, Cek Link Live Streaming
“Warga, pelaku usaha, pegiat wisata, dan pelaku ekonomi kreatif bisa ancang-ancang untuk melahirkan model wisata yang menarik dengan konsep kebaruan yang khas di wilayah ini,” kata Maretha.
Gagasan tersebut mendapat respons positif dari kalangan akademisi. Akademisi UIN Raden Mas Said Surakarta Muhammad Apriyanto menilai konsep K3 memiliki modal kuat untuk dikembangkan sebagai kawasan wisata terintegrasi.
Dosen Sejarah tersebut melihat adanya benang merah sejarah dan literasi budaya di tiga kawasan itu. Potensi tersebut, menurut dia, dapat dikemas melalui pendekatan ekonomi kreatif sehingga tidak hanya menarik wisatawan, tetapi juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat setempat.
“Potensi ekonominya gede banget. Makanya wajib berkolaborasi dan berbagi peran lewat keunggulan yang dimiliki masing-masing wilayah,” ujarnya.
Apriyanto menilai kedekatan geografis Kauman, Kemlayan, dan Keprabon menjadi keuntungan tersendiri. Ketiganya berada di kawasan pusat kota sehingga relatif mudah dihubungkan dalam satu rute wisata.
Namun, ia mengingatkan agar pengembangan K3 tidak hanya berhenti pada konsep pemerintah. Komunikasi dengan masyarakat dan pelaku usaha lokal perlu dilakukan secara rutin agar konsep yang dibangun benar-benar sesuai dengan potensi dan kebutuhan kawasan.
“Lebih baik kalau ke depan ada komunikasi berkala dengan pelaku usaha yang ada di wilayah setempat agar semua berjalan apik. Secara lokasi semuanya akan diuntungkan, ada di tengah kota, berdekatan, dan bisa jadi Integrated Cultural-Creative Tourism,” terang Apri.
Jika dikembangkan secara konsisten, K3 berpeluang menjadi model baru pariwisata Solo: wisata yang tidak sekadar mengandalkan bangunan atau objek fisik, tetapi menjual pengalaman sejarah, budaya, kreativitas, dan kehidupan masyarakat dalam satu kawasan.
Tantangannya kini adalah bagaimana menjadikan gagasan tersebut tidak berhenti sebagai wacana, melainkan diterjemahkan menjadi konsep wisata yang konkret, terintegrasi, dan mampu menggerakkan ekonomi warga. (ves)
Editor : Kabun Triyatno