Kisah Kasmin dan Sukoto, Jaga Api Tradisi Gerabah Di Sekaten Alun-Alun Utara Keraton Solo

Alfida Nurcholisah • Dipublikasikan Senin, 10 Agustus 2026 | 18:46 WIB
Kasmin dan Sukoto menjual gerabah di arena Sekaten Alun-Alun Utara Keraton Kasunanan. (M IHSAN/RADAR SOLO)
Kasmin dan Sukoto menjual gerabah di arena Sekaten Alun-Alun Utara Keraton Kasunanan. (M IHSAN/RADAR SOLO)

RADARSOLO.COM - Perajin gerabah asal Mayong, Jepara bertahan di Sekaten Solo.

Padahal sewa lapaknya mahal. Rp 10 juta sekali event.

Belum lagi gempuran gawai yang meredupkan pamor mainan anak-anak yang sempat berjaya di masanya.

Di bawah naungan tenda kerucut yang berdiri di atas tanah Alun-Alun Utara Keraton Solo, Kasmin, 66, duduk tekun di atas kursi kayunya.

Di sampingnya, sang istri tertidur lelap beralaskan kardus tipis.

Baca Juga: Saat Asam Urat Tak Hanya Menyerang Lansia, Kenali Gejala Dan Penyebabnya

Di hadapan mereka, berjejer rapi celengan sapi tanah liat, ulekan, hingga mainan tradisional otok-otok yang menanti sentuhan pembeli. 

Bagi warga Mayong, Kabupaten Jepara, memboyong gerabah ke perayaan Sekaten Keraton Solo adalah ritus tahunan yang melintasi era.

Namun, Sekaten kini menyajikan ujian berat: terpaan disrupsi mainan digital gawai (handphone) serta membumbungnya biaya sewa lapak yang mengancam kepunahan trah perajin gerabah tradisional.

Kasmin telah menjajakan kriya tanah liatnya di alun-alun utara sejak 1985. 

Jika dahulu puluhan warga desanya berbondong-bondong memboyong truk berisi gerabah ke Kota Solo, kini hanya tersisa dirinya dan Sukoto yang nekat bertahan.

Untuk mengantisipasi lesunya daya beli dan gempuran mainan plastik kekinian, Kasmin memutar otak dengan memperkaya variasi barang dagangan.

Tak hanya gerabah, ia menyisipkan mainan telepon plastik, kipas mini, hingga topeng.

"Sejak 1985 saya jualan di sini. Dulu dari desa kami ada puluhan perajin yang berangkat. Sekarang tinggal saya dan Pak Koto," ujar Kasmin, Senin (10/8).

"Anak-anak zaman sekarang banyak yang beralih main HP. Stok celengan besar sengaja saya kurangi, biasanya dikirim satu truk penuh dari Surabaya. Sekarang satu truk tidak penuh karena takut tidak laku," imbuh Kasmin.

Harga barang dagangan Kasmin dibanderol sangat bervariasi.

Baca Juga: Gugatan Ruang Bahagia Dicabut Lagi, Sengketa dengan Pemkot Solo Belum Berakhir

Mulai dari Rp 5 ribu untuk dolanan kecil, hingga Rp 150 ribu untuk celengan sapi berukuran besar.

Senada dengan Kasmin, Sukoto, 61, perajin asal Mayong lainnya, merupakan generasi ketiga di keluarganya yang menjaga tradisi berdagang di Sekaten.

Namun, mahalnya harga sewa lapak yang menembus Rp 10 juta membuat anak-anaknya tak berani lagi ikut berjualan. 

Perhitungan matematika ekonomi di lapangan terasa sangat mencekik.

Sukoto membocorkan bahwa ia telah menyetorkan uang muka (DP) sewa sebesar Rp 5 juta.

Agar mampu menutup biaya sewa, dia setidaknya wajib mengantongi omzet Rp 400 ribu per hari.

Realitasnya, dalam sehari dia terkadang hanya mampu meraup omzet Rp 85 ribu dari penjualan satu kapal otok-otok dan beberapa gerabah kecil.

“Banyak teman-teman yang mundur tidak berani jualan karena sewanya kemahalan. Kalau nanti hasilnya tidak nutup, saya pasrah. Kalau barang dagangan saya mau diambil untuk melunasi sewa, ya monggo,” ujar Sukoto pasrah.

Di tengah himpitan ekonomi modern, Sukoto memilih bertahan bukan semata-mata mengejar keuntungan materi.

Baca Juga: Viral Kronologi Lengkap Runner Up Raka Jatim Tio Ferdian Rahmana Minta Pacar Aborsi dan Kabur ke Singapura, Alasan Takut Sanksi Sosial

Melainkan menjaga marwah tradisi keluarga dan nostalgia kejayaan masa lalu.

Dia teringat era emas Sekaten puluhan tahun silam, saat gerabah dagangannya masih dihargai menggunakan mata uang 3 ringgit (satu ringgit bernilai Rp 2,5 pada masa itu).

"Dulu Kanjeng Raja Keraton sering turun langsung memborong (ngelarisi) dagangan gerabah kami sambil mendoakan agar jualannya laris berkah. Sekaten ini tradisi keluarga kami. Harapan kami sederhana, semoga sewa lapak tidak semakin membebani pedagang kecil agar tradisi ini tidak padam," ujarnya. (alf/bun)

Editor : fery ardi susanto
Sumber : Radar Solo
alun alun utara sekaten keraton kasunanan Keraton Solo gerabah