RADARSOLO.COM – Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di Kota Solo mulai membuka gambaran kondisi kesehatan masyarakat. Hingga kini, capaian CKG secara umum telah melampaui 50 persen. Sementara pemeriksaan khusus kelompok anak sekolah bahkan telah mencapai sekitar 70 persen.
Dari pemeriksaan tersebut, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Solo menemukan sejumlah persoalan kesehatan yang perlu mendapat perhatian. Pada kelompok usia sekolah, anemia masih menjadi salah satu temuan yang cukup menonjol, terutama pada remaja putri.
Kepala Dinkes Kota Solo Retno Erawati Wulandari mengatakan, sejauh pemeriksaan berlangsung belum ditemukan kasus thalasemia pada kelompok anak sekolah. Namun, persoalan anemia masih ditemukan.
Baca Juga: Solo Mulai Petakan Sampah dari Hulu, Budidaya Magot Jadi Salah Satu Andalan
“Kalau temuan penyakitnya sendiri, seperti thalasemia belum ada. Hanya mungkin anemia pada anak sekolah itu masih ada,” kata Retno, Kamis (13/8).
Menurut dia, pencegahan anemia terus dilakukan melalui berbagai program. Salah satunya Aksi Bergizi Serentak yang mendorong remaja putri mengonsumsi tablet tambah darah (Fe) serta menerapkan pola makan dengan gizi seimbang.
Intervensi sejak usia sekolah dinilai penting karena kondisi kesehatan remaja putri berkaitan dengan kesiapan memasuki usia reproduksi.
Baca Juga: Dua Nama Kandidat Cawabup Klaten Muncul, Salah Satunya Istri Mendiang Wabup Benny Indra
“Ini untuk memotivasi anak-anak sekolah supaya mau menerapkan hidup sehat dengan pola gizi seimbang. Harapannya supaya remaja putri tidak anemia sehingga nanti mereka bisa menjadi ibu yang sehat,” jelasnya.
Persoalan kesehatan yang lebih banyak ditemukan muncul pada kelompok usia dewasa hingga lansia. Berdasarkan hasil CKG, hipertensi menjadi temuan paling dominan.
Tak hanya tekanan darah tinggi, pemeriksaan juga menemukan sejumlah faktor risiko penyakit jantung. Di antaranya kadar kolesterol dan gula darah yang tinggi.
“Kalau yang untuk usia dewasa sampai dengan lansia, yang paling banyak adalah masih hipertensi menduduki tempat tertinggi untuk hasil CKG. Kemudian faktor risiko terhadap penyakit jantung seperti kolesterol tinggi dan gula tinggi juga masih tinggi,” ungkap Retno.
Temuan lain yang mulai mendapat perhatian adalah obesitas. Dinkes mencatat jumlah kasus obesitas pada kelompok usia dewasa mengalami peningkatan.
Kondisi tersebut tidak bisa dianggap sepele. Obesitas merupakan salah satu faktor risiko berbagai penyakit tidak menular, termasuk penyakit jantung.
“Sekarang yang mulai muncul agak lumayan banyak adalah obesitas, angkanya naik, yang mana ini juga menjadi faktor risiko penyakit jantung,” ujar Retno.
Temuan dari CKG tersebut menjadi modal penting bagi pemerintah untuk menentukan intervensi kesehatan masyarakat. Pemeriksaan tidak berhenti pada menemukan penyakit, tetapi diharapkan menjadi pintu masuk untuk mencegah penyakit berkembang lebih serius.
Masyarakat pun didorong memperbaiki pola makan, meningkatkan aktivitas fisik, menjaga berat badan ideal, serta rutin memeriksakan kondisi kesehatan.
Dengan deteksi lebih dini, faktor risiko seperti hipertensi, kolesterol tinggi, gula darah tinggi, hingga obesitas dapat segera dikendalikan sebelum berkembang menjadi penyakit yang lebih berat.
“Program CKG di Solo capaiannya sudah di atas 50 persen. Kita optimalkan terus,” kata Wali Kota Surakarta Respati Ardi beberapa waktu sebelumnya. (ves)
Editor : Kabun Triyatno