RADARSOLO.COM – Pengembangan pariwisata di Kota Solo harus memakai paradigma baru. Tidak hanya mengandalkan destinasi wisata, tetapi membangun ekosistem yang menghubungkan pelayanan, konektivitas, masyarakat, pelaku usaha, komunitas, hingga industri pariwisata.
Wakil Wali Kota Solo Astrid Widayani menegaskan, pengembangan pariwisata tidak mungkin hanya bertumpu pada pemerintah. Peran masyarakat, pelaku usaha, komunitas, hingga organisasi kepariwisataan menjadi bagian penting untuk menciptakan pengalaman wisata yang utuh.
“Kesadaran wisata menjadi salah satu fondasi penting dalam membangun ekosistem pariwisata. Masyarakat tidak cukup hanya menjadi penerima manfaat dari kedatangan wisatawan, tetapi harus ditempatkan sebagai bagian dari ekosistem yang turut menciptakan pengalaman wisata,” kata Astrid, Jumat (14/8/2026).
Komitmen tersebut ditegaskan melalui pelantikan Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Masyarakat Sadar Wisata (MASATA) Kota Solo periode 2026–2030 di Rumah Dinas Wakil Wali Kota Solo, Kamis (13/8/2026) malam.
Astrid mengatakan pemerintah tidak mungkin bekerja sendirian dalam membangun sektor pariwisata. Karena itu, kolaborasi lintas sektor menjadi kunci, termasuk dalam menumbuhkan kesadaran wisata hingga ke tingkat masyarakat.
“Target kita adalah menjadikan seluruh masyarakat Kota Solo sadar wisata. Karena itu saya mendorong kepengurusan baru MASATA tidak hanya menjalankan aktivitas internal organisasi, tetapi ikut membangun kesadaran wisata di tengah masyarakat,” ujarnya.
Menurut Astrid, Solo memiliki modal kuat untuk dikembangkan sebagai kota wisata. Bukan hanya sejarah dan warisan budaya, tetapi juga aktivitas keseharian masyarakat yang menjadi bagian dari daya tarik wisata.
Solo, kata dia, dapat diposisikan sebagai living museum. Artinya, sejarah dan budaya tidak hanya tersimpan di bangunan bersejarah atau museum, tetapi masih hidup dan dapat ditemui dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.
Baca Juga: Tak Hanya Kejar Kuantitas Wisatawan, Solo Fokus Bangun Wellness Tourism Berbasis Budaya
Namun, kekuatan destinasi tersebut perlu ditopang pelayanan yang terintegrasi. Pengalaman wisatawan idealnya tidak baru dimulai ketika mereka tiba di objek wisata, tetapi sejak pertama kali memasuki Kota Solo.
“Pintu-pintu kedatangan wisatawan seperti terminal, stasiun, hingga bandara juga menjadi bagian penting dalam ekosistem pariwisata. Konektivitas dan kualitas pelayanan publik di titik-titik tersebut turut menentukan kesan wisatawan terhadap Solo,” jelasnya.
Pemkot Surakarta ingin berbagai unsur yang mendukung perjalanan wisatawan saling terhubung. Dengan demikian, wisatawan tidak hanya mendapatkan destinasi yang menarik, tetapi juga pengalaman perjalanan yang nyaman sejak datang hingga meninggalkan kota.
Di tengah upaya tersebut, keberadaan DPC MASATA Kota Solo diharapkan menjadi salah satu mitra strategis pemerintah. Organisasi tersebut didorong menjadi jembatan antara pemerintah dengan masyarakat sekaligus memperluas keterlibatan warga dalam sektor pariwisata.
Ketua DPC MASATA Kota Solo periode 2026–2030 Rizky Wahyu Perdana mengatakan, kepengurusan baru menyiapkan sejumlah program untuk memperkuat kesadaran dan partisipasi masyarakat.
Program tersebut antara lain edukasi sadar wisata hingga tingkat kampung, pemberdayaan kreator konten muda, serta penguatan kolaborasi dengan pemerintah dan pelaku industri pariwisata.
“Program ini kami harapkan mampu memperluas basis masyarakat yang terlibat dalam pariwisata,” ucap Rizky.
Dengan konsep tersebut, pengembangan pariwisata Solo diarahkan tidak hanya menghasilkan lebih banyak kunjungan wisatawan. Lebih jauh, sektor ini diharapkan mampu menciptakan ekosistem yang membuat masyarakat ikut berperan, pelaku usaha berkembang, komunitas bergerak, dan wisatawan mendapatkan pengalaman yang lebih lengkap selama berada di Kota Bengawan. (ves)
Editor : Kabun Triyatno