RADARSOLO.COM - Suara gamelan tak hanya dimainkan para pengrawit dewasa dalam Eksibisi Karawitan bertajuk Nguri-Uri Budaya Jawi, yang digelar Perkumpulan Masyarakat Surakarta (PMS), Sabtu (15/8).
Kelompok karawitan anak-anak SD binaan Dinas Pariwisata Kota Solo tampil di puncak peringatan HUT Ke-94 PMS di Gedung Pertemuan PMS.
Anak-anak sekolah dasar turut ambil bagian, menunjukkan bahwa seni karawitan masih punya ruang di tengah generasi muda.
Mereka diberi kesempatan menunjukkan kemampuan yang selama ini diperoleh melalui pembinaan.
Baca Juga: Dari Total 612 Penghuni, Hanya 209 Narapidana Rutan Solo yang Diusulkan Dapat Remisi
Penanggung Jawab Eksibisi Gamelan PMS dan Pemkot Solo Iwan Jasmoro mengatakan, keterlibatan anak-anak menjadi bagian penting dalam kegiatan tersebut.
Mereka tidak hanya datang sebagai penonton, tetapi mendapat ruang untuk tampil di hadapan masyarakat.
“Kami memberikan kesempatan kepada mereka untuk bisa tampil, menampilkan apa yang sudah mereka kerjakan selama ini supaya masyarakat juga mengenal,” kata Iwan.
Selain kelompok karawitan anak-anak, eksibisi tersebut juga melibatkan kelompok karawitan dari lima kecamatan di Kota Solo, yakni Pasar Kliwon, Jebres, Banjarsari, Laweyan, dan Serengan. SMA Regina Pacis Solo juga tampil.
Secara keseluruhan, terdapat delapan grup yang memeriahkan eksibisi.
Sajian karawitan kemudian diperkaya dengan kolaborasi Gamelan PMS bersama alat musik Yang Khim dan Erhu.
Iwan menilai keterlibatan generasi muda menjadi salah satu kunci agar budaya Jawa tidak berhenti sebagai peninggalan masa lalu.
Menurutnya, anak-anak perlu diberi pengalaman langsung agar semakin mengenal dan mencintai karawitan.
“Mudah-mudahan dengan mulai diaktifkannya kembali gamelan PMS ini bisa menarik minat masyarakat untuk kembali mengenal budayanya, mengingat budayanya dan mengembangkan budaya Jawi,” ujarnya.
Wakil Wali Kota Solo Astrid Widayani turut mengapresiasi keterlibatan anak-anak dalam eksibisi tersebut.
Menurutnya, keberlanjutan budaya sangat bergantung pada ruang yang diberikan kepada generasi penerus.
“Kita ingin budaya Jawa tidak hanya dikenang sebagai warisan masa lalu, tetapi tetap hidup, relevan, dan menjadi bagian dari masa depan,” tutur Astrid.
Baca Juga: Kenang Sang Godfather of Broken Heart, Pemkot Solo Siapkan Tugu Didi Kempot
Astrid juga menilai karawitan mengajarkan nilai kebersamaan. Setiap instrumen memiliki karakter dan fungsi masing-masing, namun harus dimainkan bersama untuk menghasilkan harmoni.
Nilai tersebut menurutnya relevan dengan kehidupan masyarakat yang memiliki latar belakang berbeda.
Karena itu, pelestarian karawitan sekaligus menjadi sarana menanamkan semangat kebersamaan, gotong royong dan menghargai keberagaman sejak dini.
Eksibisi semakin semarak ketika Astrid ikut berkolaborasi bersama Gamelan PMS dan Yang Khim PMS serta seniman karawitan Endah Laras.
Melalui keterlibatan anak-anak dalam eksibisi tersebut, Astrid ingin memastikan regenerasi pengrawit terus berjalan.
Gamelan pun diharapkan tak hanya menjadi simbol sejarah, tetapi tetap dimainkan dan dikenalkan kepada generasi muda Kota Solo. (alf/ves/fer)
Editor : fery ardi susantoSumber : Radar Solo