Gapura Tua 1978 Disulap Jadi Juara, Warga Sondakan Hidupkan Lagi Semangat Gotong Royong

Silvester Kurniawan • Dipublikasikan Senin, 17 Agustus 2026 | 19:22 WIB
Wawali Solo Astrid Widayani bersama para pemenang lomba gapura. (Humas Pemkot Solo)
Wawali Solo Astrid Widayani bersama para pemenang lomba gapura. (Humas Pemkot Solo)

RADARSOLO.COM – Bagi warga RW 01 Kelurahan Sondakan, Kecamatan Laweyan, mengecat gapura bukan sekadar urusan mempercantik lingkungan. Ada sesuatu yang lebih penting: menghidupkan kembali kebersamaan yang mulai terkikis kesibukan warga perkotaan.

Semangat itu pula yang mengantarkan gapura RW 01 Sondakan menjadi juara pertama Lomba Gapura Pitoelasan Bersama Weldon Cat Ber-SNI 2026 dalam rangka menyemarakkan HUT ke-81 Kemerdekaan RI.

Gapura yang berdiri sejak 1978 itu kembali dipercantik. Warga bergantian bekerja sejak pagi hingga malam. Bukan hanya mengecat, mereka lebih dulu membersihkan gapura yang mulai tertimbun tanah dan ditumbuhi tanaman liar.

Baca Juga: Cara Cek Bansos Kemensos Usai HUT RI 17 Agustus, Apakah PKH dan BPNT Tahap 3 Masih Akan Cair?

Setelah bersih, giliran warna dan motif batik menghiasi bagian gapura.

Koordinator Lomba Gapura Kelurahan Sondakan Diyah Rahayuningsih mengatakan seluruh proses dikerjakan dengan semangat gotong royong. Warga dilibatkan tanpa memandang usia maupun latar belakang.

"Tema kami gotong royong dan guyub rukun, merawat sesuatu yang hampir hilang karena perubahan lingkungan," kata Diyah, Senin (16/8).

Menariknya, proses pengecatan turut melibatkan tiga seniman yang usianya telah lebih dari 70 tahun. Chosaeri, seniman asal Tegalrejo, bersama Suparman dan Sutoro ikut memimpin pengerjaan.

Baca Juga: Kenapa Bunga Identik dengan Cinta? Ternyata Ada Sejarah Panjang di Baliknya

Keterlibatan para lansia itu diharapkan menjadi contoh bagi generasi muda bahwa merawat lingkungan tidak mengenal usia.

"Tujuan kami hanya merawat gapura lama yang sudah berdiri sejak tahun 1978. Ibaratnya, kami bisa mendapatkan cat gratis dari Weldon saja sudah sangat senang," ujar Diyah yang juga Ketua RT setempat.

Motif batik yang dipilih pun sengaja dibuat sederhana. Dominasi titik-titik memungkinkan warga yang tidak memiliki kemampuan seni ikut ambil bagian dalam pengecatan.

Bagi Diyah, justru di situlah makna utama lomba. Warga tidak sekadar menjadi penonton, tetapi ikut menyentuh langsung proses mempercantik lingkungan tempat mereka tinggal.

"Menjadi pemenang bukan tujuan utama. Bisa menggerakkan warga itu yang menjadi poin utama di tengah kondisi lingkungan perkotaan yang sudah sibuk dengan rutinitas kerja," tegasnya.

Penghargaan diserahkan dalam penutupan rangkaian Lomba Gapura Pitoelasan di Kota Surakarta, Kamis (13/8) malam. Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani mengapresiasi antusiasme masyarakat yang mengikuti lomba tersebut.

Menurut Astrid, kemenangan bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Yang lebih penting adalah bagaimana kegiatan tersebut mampu menggerakkan warga untuk kembali peduli terhadap lingkungan.

"Yang paling penting bukan hanya siapa yang menjadi juara. Tetapi bagaimana kegiatan ini mampu menggerakkan masyarakat untuk bersama-sama membangun dan memperindah lingkungannya," ujar Astrid.

Lomba tahun ini mengusung tema “Nyawiji ing Warna, Memayu Hayuning Gapura” dan diikuti 216 peserta dari berbagai wilayah di Kota Solo.

Penilaian mencakup kreativitas desain, estetika dan kerapian pengecatan, kesesuaian dengan semangat kemerdekaan dan budaya lokal, filosofi, hingga partisipasi masyarakat serta semangat gotong royong.

Juara kedua diraih RT 001/RW 006 Kelurahan Mangkubumen, Kecamatan Banjarsari. Sementara juara ketiga diraih RT 004/RW 005 Kelurahan Mangkubumen.

Astrid berharap semangat tersebut tidak berhenti ketika lomba selesai. Lingkungan yang sudah dipercantik harus terus dirawat, kebersihan dijaga, fasilitas dipelihara, dan penghijauan ditambah.

"Kita ingin Kota Surakarta menjadi kota yang indah, dan itu bisa kita wujudkan dengan berjalan bersama serta berkolaborasi," katanya.

Bagi warga Sondakan, kemenangan gapura tua itu akhirnya bukan hanya soal cat dan penghargaan. Gapura yang berdiri hampir setengah abad tersebut menjadi pengingat bahwa di tengah kota yang terus bergerak, gotong royong masih bisa menjadi warna yang membuat lingkungan tetap hidup. (ves)

Editor : Kabun Triyatno
gapura motif batik wakil wali kota solo astrid widayani lomba lingkungan