Sanggar Seni Kemasan Gelar Pementasan “Ngloroh”: Hidupkan Kembali Jejak Perjuangan Raden Mas Said

Hernindya Jalu Aditya Mahardika • Dipublikasikan Selasa, 18 Agustus 2026 | 15:02 WIB
TOTALITAS: Sanggar Seni Kemasan melalui pertunjukan Ngloroh yang berkisah perjuangan Raden Mas Said di Taman Budaya Jawa Tengah, Senin (10/8). (Hernindya Jalu/Radar Solo)
TOTALITAS: Sanggar Seni Kemasan melalui pertunjukan Ngloroh yang berkisah perjuangan Raden Mas Said di Taman Budaya Jawa Tengah, Senin (10/8). (Hernindya Jalu/Radar Solo)

RADARSOLO.COM - Sejarah perjuangan Raden Mas Said kembali dihidupkan Sanggar Seni Kemasan melalui pertunjukan Ngloroh. Namun, pementasan tersebut tidak hanya berkisah tentang perlawanan terhadap Belanda. Ada pula jejak perjuangan kaum perempuan di Desa Ngloroh yang menjadi bagian penting dalam cerita. 

Gagasan Ngloroh berawal dari pengajuan salah seorang anggota perempuan Sanggar Seni Kemasan dalam program Fasilitasi Bidang Kebudayaan (FBK). Saat itu, cerita yang diajukan mengangkat tema “Gender Mata Hati” dengan fokus pada kaum perempuan di Desa Ngloroh.

Gagasan tersebut kemudian berkembang setelah Taman Budaya Surakarta menawarkan Sanggar Seni Kemasan untuk menggarapnya menjadi sebuah pertunjukan. Cerita pun diperluas dengan menghadirkan tokoh laki-laki dan sejumlah karakter lain untuk memperkuat alur.

Baca Juga: Update Bursa Transfer Borneo FC di Liga 1: Pinjam Kapten PSIM Jogja dan Pinjamkan Kiper Potensial ke Persijap Jepara

Sutradara Ngloroh, Budi Bodot Riyanto mengatakan, pengembangan tersebut membuat sosok Raden Mas Said ikut menjadi bagian utama dalam cerita. Jika sebelumnya tokoh laki-laki hanya hadir dalam bentuk siluet, dalam pementasan kali ini mereka ditampilkan secara utuh.

‎“Awalnya itu Gender Mata Hati, mengangkat kaum wanita di Desa Ngloroh yang nantinya menjadi basis perjuangan Mas Said. Kemudian kami kembangkan karena yang main juga ada pria dan tokoh-tokoh lain. Yang dulunya pria hanya ditampilkan dalam siluet, sekarang diperlihatkan semua untuk mendukung cerita,” ujar Budi kepada Jawa Pos Radar Solo, Senin (10/8). 

Baca Juga: Update Bursa Transfer Persebaya Surabaya di Liga 1: 11 Pemain Baru Masuk, Eks PSM Makassar dan Pemain Asing Eropa Ramaikan Skuad 2026/2027

Dari titik tersebut, kisah kemudian bergerak pada perjalanan Raden Mas Said dalam melawan Belanda. Perjuangan itu tidak terlepas dari pengalaman keluarganya, termasuk ketika ayahnya dibuang ke Sri Lanka oleh Belanda.

‎Peristiwa tersebut menjadi salah satu latar yang memperkuat sikap Raden Mas Said terhadap penjajahan. Perlawanan pun berlangsung panjang dan menjangkau sejumlah daerah hingga hampir 25 tahun.

“Perjuangan Raden Mas Said itu berkaitan dengan meneruskan cita-cita ayahnya. Dia tidak suka diatur dan ditindas oleh Belanda. Setelah ayahnya dibuang ke Sri Lanka, perjuangannya semakin kuat. Dari situ perlawanan dilakukan sampai ke berbagai daerah selama hampir 25 tahun,” jelasnya.

Baca Juga: Persis Solo U-20 Dapat Pembelajaran Berharga dari Timnas Indonesia U-17, Rasiman Akui Banyak Pekerjaan Rumah Didapat

Bagi Sanggar Seni Kemasan, kisah tersebut memiliki kedekatan dengan masyarakat Solo. Pementasan menjadi ruang untuk mengenalkan kembali sejarah lokal yang mungkin mulai jarang disentuh, terutama cerita yang berkaitan dengan Mangkunegaran.

Dalam proses penggarapannya, Sanggar Seni Kemasan juga tidak hanya mengandalkan sumber daya internal. Sejumlah elemen lain dilibatkan, termasuk dari Institut Seni Indonesia (ISI), karena sanggar memiliki keterbatasan pemain, khususnya penari.

Salah satu bagian yang kemudian diperkuat adalah penggambaran Laskar Putri Retno Menggung. Empat penari dari luar sanggar dilibatkan untuk merepresentasikan laskar putri tersebut sekaligus warga dalam cerita.

‎“Kami memang tidak mempunyai sumber daya penari. Makanya mengambil dari elemen lain, termasuk dari ISI. Karena keterbatasan tempat dan pendanaan, hanya empat orang yang kami ambil. Tetapi itu sudah bisa menggambarkan bahwa ada Laskar Putri Retno Menggung dan warganya,” terang Budi.

Baca Juga: Gapura Tua 1978 Disulap Jadi Juara, Warga Sondakan Hidupkan Lagi Semangat Gotong Royong

Menggabungkan pemain dan pemusik dari berbagai elemen juga menjadi tantangan tersendiri. Kesibukan masing-masing membuat latihan tidak selalu diikuti dengan formasi lengkap. Meski begitu, proses tersebut tetap dijalani hingga pertunjukan terbentuk secara utuh.

Budi menyebut penggarapan Ngloroh berlangsung sekira satu bulan lebih. Ide dari seniman dan penulis naskah teater, Bambang Sugiarto, kemudian diterjemahkan ke panggung dengan sejumlah tambahan kreasi, termasuk adegan yang menggambarkan perjuangan kaum perempuan.

‎“Beberapa elemen lain bergabung karena sanggar tidak mempunyai sumber daya yang banyak. Kami gabung, kami rakit, kami jahit menjadi satu pertunjukan yang utuh. Karena mereka juga mempunyai jadwal masing-masing, kadang latihan tidak komplit. Saya kira itu hal yang lumrah,” katanya.

Cerita yang dibawa ke panggung juga memiliki pijakan sejarah. Sanggar Seni Kemasan menggunakan sejumlah referensi, salah satunya Serat Babad Panambangan yang menceritakan perjuangan di sekitar wilayah Ngloroh dan daerah sekitarnya.

Namun, bagi Budi, pesan Ngloroh tidak berhenti pada cerita masa lalu. Semangat perjuangan Raden Mas Said coba ditarik ke kehidupan saat ini. Bentuk perjuangan bisa berubah, tetapi upaya untuk mencapai tujuan tetap membutuhkan keberanian dan kemauan untuk berusaha.

“Kalau kondisi sekarang, bagaimana kita berjuang sampai pada titik tujuan. Dulu perjuangannya untuk mengentaskan dari penjajahan, sekarang bagaimana kita berjuang dengan diri sendiri atau lingkungan supaya makmur dan sentosa. Jangan njagake yang lain dulu, tetapi berjuang sik,” tegasnya.

Baca Juga: Update Bursa Transfer Arema FC di Liga 1: Rombak Besar Skuad, 9 Pemain Baru Merapat, Dua Kiper Persis Solo Merapat

Melalui Ngloroh, Sanggar Seni Kemasan berharap penonton mendapat kesempatan melihat kembali cerita-cerita lokal dari sudut pandang berbeda. Panggung tidak hanya menjadi tempat pertunjukan, tetapi juga ruang untuk membuka referensi dan literasi sejarah Solo.

Upaya tersebut akan dilanjutkan melalui program pementasan rutin Sanggar Seni Kemasan. Setiap bulan, sanggar berencana menghadirkan pertunjukan dengan melibatkan pemain anak-anak maupun dewasa.

Baca Juga: Update Bursa Transfer Dewa United di Liga 1: Datangkan Eks Buriram United hingga Eks Persis Solo, Alex Martins hingga Stefano Lilipaly Tinggalkan Tim

Salah satu yang tengah disiapkan adalah Ketoprak Kakung yang direncanakan berlangsung September mendatang. Seluruh pemain nantinya laki-laki, termasuk ketika harus memerankan tokoh perempuan.

Bagi Sanggar Seni Kemasan, rangkaian pementasan tersebut menjadi cara untuk terus merawat cerita lokal. Setelah Ngloroh membawa kembali jejak perjuangan Raden Mas Said dan kaum perempuan Ngloroh ke atas panggung, cerita-cerita lain masih menunggu untuk kembali dihidupkan. (hj/nik)

Editor : Niko auglandy
pementasan Taman Budaya Jawa Tengah