RADARSOLO.COM - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah terus berkomitmen untuk mengentaskan kemiskinan.
Upaya nyata yang dilakukan, yakni launching Pilot Project Desa/Kelurahan Mandiri Sejahtera di Lapangan Losari, Kelurahan Semanggi, Pasar Kliwon, Solo, Rabu (19/8).
Program andalan Pemprov Jateng ini di-launching Wakil Gubernur (Wagub) Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen.
Fokus utamanya, menjadikan pemuda dengan latar belakang keluarga kurang mampu sebagai penggerak ekonomi.
“Kali ini tidak hanya memberikan bantuan langsung, tetapi juga melalui pemberdayaan pemuda. Harapannya, mereka mampu meningkatkan kesejahteraan,” kata Taj Yasin usai launching.
Taj Yasin menambahkan, angka kemiskinan di Jawa Tengah saat ini mencapai 9,21 persen.
Namun, penanganan kemiskinan harus dibarengi dengan pembenahan data agar bantuan dan program pemberdayaan tepat sasaran.
“Data di Solo harus dibenarkan dan diluruskan, supaya angka kemiskinan benar-benar tepat sasaran,” ujarnya.
Di Kota Solo, program ini membidik kawasan dengan tingkat kemiskinan tinggi atau zona merah.
Di antaranya Kelurahan Nusukan, Kecamatan Banjarsari. Di sana, tercatat sekira 2.000 jiwa masuk kategori sasaran kemiskinan.
Program ini menyasar pemuda usia 16-30 tahun, dari keluarga desil 1-4 berdasarkan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).
Mereka tidak hanya diberikan bantuan, tetapi juga pelatihan dan pendampingan agar mampu mengembangkan usaha.
Wakil Wali Kota Solo Astrid Widayani yang hadir dalam launching menambahkan, pengentasan kemiskinan tidak cukup hanya mengandalkan bantuan sosial.
Peningkatan kapasitas dan kemandirian ekonomi masyarakat menjadi kunci, agar keluarga miskin keluar dari persoalan kemiskinan secara berkelanjutan.
“Kemiskinan tidak cukup hanya melalui bantuan. Lebih penting lagi adalah, bagaimana membangun kemampuan dan kemandirian masyarakat,” jelas Astrid.
Baca Juga: Gandeng Australia dan Bali, Pemprov Jateng Bagikan 181 Kursi Roda Adaptif untuk Anak Disabilitas
Data per Januari 2026, terdapat 3,49 juta pemuda usia 16-30 tahun di Jawa Tengah. Sedangkan tingkat kemiskinan pemuda di bawah usia 30 tahun mencapai 11,7 persen.
“Ini menunjukkan bahwa pemberdayaan pemuda merupakan investasi penting untuk memutus mata rantai kemiskinan," imbuhnya.
Dalam program tersebut, sejumlah intervensi diberikan kepada masyarakat.
Di antaranya program pemberdayaan sosial ekonomi (PPSE) Rp 145 juta, bantuan pengembangan usaha kelompok usaha bersama Rp 480 juta, bantuan jaminan sosial Kartu Jateng Openi Rp 105 juta, BLT DBHCHT Rp 439 juta, bantuan pendidikan Nila Merah Rp 13 juta, pelatihan keterampilan pemuda Rp 134 juta, serta beberapa bantuan lainnya.
Di sela launching, Taj Yasin menyerahkan bantuan kepada keluarga penerima manfaat (KPM) PSE asal Semanggi, Endah Listiyani.
Ia mendapat bantuan Rp 5 juta. Uang tersebut akan digunakan untuk mengembangkan usaha seblak.
“Saya selama ini jualan seblak. Rencananya uangnya mau saya belikan freezer dan sealer cup. Sisanya untuk menambah stok di freezer. Semoga bisa menambah penghasilan,” ujarnya.
Bantuan juga menyasar Maryanti, asal Kelurahan Nusukan yang mewakili 24 kelompok penerima bantuan pengembangan usaha.
Total bantuan Rp 480 juta akan dibagi kepada 24 kelompok, yang masing-masing beranggotakan 10 orang.
“Di kami banyak usaha yang berbasis UMKM pangan. Ada wedangan, sembako, dan kuliner. Bantuan ini sangat bermanfaat bagi kami untuk modal kulakan,” ujar Maryanti. (alf/fer)
Editor : fery ardi susantoSumber : Radar Solo