RADARSOLO.COM – Suasana internal Keraton Kasunanan Surakarta yang sempat memanas tak menyurutkan pelaksanaan tradisi Sekaten. Dua gamelan pusaka, Kyai Guntur Madu dan Kyai Guntur Sari, resmi ditabuh di Masjid Agung Surakarta, Rabu (19/8/2026) siang.
Tradisi tahunan tersebut akan berlangsung selama sepekan. Setelah rangkaian Sekaten selesai, kedua gamelan pusaka itu dijadwalkan kembali dibawa ke Keraton Surakarta pada Rabu pekan depan.
Pantauan Jawa Pos Radar Solo, prosesi miyosaken gamelan dimulai sekitar pukul 10.00 WIB. Dua perangkat gamelan pusaka dikeluarkan dari Keraton Surakarta untuk dibawa menuju Masjid Agung Surakarta. Setelah prosesi pemindahan dilanjutkan dengan wilujengan, gamelan akhirnya mulai ditabuh sekitar pukul 13.00 WIB.
Baca Juga: Mulai Garap 12 Ruas Jalan, Bupati Wonogiri Minta Masyarakat Ikut Awasi
Ketua Lembaga Dewan Adat Keraton Surakarta GKR Koes Murtiyah Wandansari mengatakan dua gamelan pusaka tersebut kini ditempatkan di sekitar Dalem Ageng. Pemindahan dilakukan karena lokasi sebelumnya, Pendopo Parangkarso, kondisinya dinilai sudah tidak terawat.
“Dua perangkat gamelan Kyai Guntur Madu dan Kyai Guntur Sari. Kita pindah di sini (sekitar Dalem Ageng) karena di lokasi bangunan (Pendopo Parangkarso) lama sudah sangat tidak terawat,” kata Koes Murtiyah.
Prosesi miyosaken dan penabuhan gamelan merupakan bagian penting dalam rangkaian tradisi Sekaten. Penabuhan dilakukan dengan aturan waktu tertentu. Kamis (20/8), misalnya, gamelan hanya ditabuh hingga pukul 15.00 WIB karena memasuki malam Jumat dalam penanggalan Jawa. Sementara setiap Jumat, penabuhan baru dimulai pukul 12.00 WIB.
Baca Juga: Hari Jadi Ke-81, Pemprov Jateng Andalkan Pemuda Untuk Entaskan Kemiskinan
Menurut Koes Murtiyah, tradisi tersebut telah berlangsung selama ratusan tahun dan berkaitan erat dengan sejarah penyebaran Islam di Jawa.
“Tradisi ini sudah berlangsung sejak lama, bahkan sejak era Kerajaan Demak. Keseluruhan ini sebagai bentuk syiar agama Islam,” ucapnya.
Namun, khidmatnya prosesi adat kembali tercoreng oleh ketegangan internal Keraton. Saat prosesi miyosaken gamelan berlangsung, terjadi kericuhan antara kubu SISKS PB XIV Mangkubumi dan kubu SISKS PB XIV Purbaya.
Ketegangan terjadi ketika pihak Purboyo hendak mengecek seperangkat gamelan yang telah berada di Masjid Agung. Upaya tersebut dihadang pihak Mangkubumi hingga memicu adu ketegangan di lokasi.
GKR Panembahan Timoer Rumbai Kusuma Dewayani dari pihak Purboyo menegaskan keberatan atas pemindahan gamelan tersebut.
“Saya ndak mau rame. Yang jelas mereka mengambil gamelan tanpa seizin sinuwun (PB XIV Purbaya),” tegasnya.
Di tengah kisruh internal tersebut, masyarakat tetap antusias menyambut ditabuhnya Gamelan Sekaten. Tradisi yang hanya digelar setahun sekali itu menjadi magnet bagi warga Solo maupun luar kota untuk datang, menyaksikan sekaligus mendengarkan langsung lantunan gamelan pusaka.
Aditya, warga Solo yang rutin menyambangi Sekaten, berharap tradisi tersebut tetap dijaga tanpa dibarengi pertikaian yang justru menggerus nilai budaya dan menjadi tontonan publik.
“Ini tradisi adat, jadi memang harus dilestarikan. Tetapi kalau bisa ribut-ributnya bisa dikurangi karena tidak bagus juga kalau tradisi seperti ini harus disertai geger yang dipertontonkan,” ucapnya. (ves)
Editor : Kabun Triyatno