RADARSOLO.COM — Manajemen Solo Safari angkat suara terkait lepasnya seekor orang utan dari enclosure hingga sempat berada di luar area, Selasa (18/8) sore. Satwa jantan berusia sekira 30 tahun tersebut kini telah kembali ke enclosure dan dipastikan dalam kondisi sehat.
Keselamatan masyarakat menjadi prioritas utama setelah pihaknya mengetahui orang utan tersebut berada di luar enclosure. Tim Solo Safari langsung dikerahkan untuk melakukan pencarian, pengamanan, dan evakuasi.
“Yang pertama kami utamakan keselamatan masyarakat. Berkaitan dengan video yang sudah beredar luas, itu menjadi pembelajaran bagi kami,” terang General Manager Solo Safari Miyana Haritna, Rabu (19/8).
Baca Juga: 5 Fakta Menarik tentang Bahasa Indonesia
Miyana menjelaskan, kejadian tersebut diketahui saat petugas melakukan pengecekan rutin. Pemeriksaan terakhir dilakukan sekira pukul 14.30. Ketika petugas kembali melakukan pengecekan sekira pukul 15.00, orang utan tersebut sudah tidak berada di dalam enclosure atau exhibit.
“Kurang lebih kemarin kami melakukan prosedur per setengah jam. Terakhir pengecekan pukul 14.30, kemudian kami mau melakukan pengecekan lagi pukul 15.00, sudah tidak ada di enclosure atau exhibit,” ujarnya.
Tim kemudian melakukan pencarian secara internal. Sekira pukul 15.10, manajemen mendapat informasi bahwa orang utan tersebut telah berada di area luar.
“Begitu kami mendapatkan informasi pukul 15.10 dia ada di area luar, kami langsung amankan. Pukul 15.30 sampai 15.40 sudah kami bawa kembali ke enclosure atau exhibit,” jelasnya.
Baca Juga: Penampakan Tas Chanel Iriana Jokowi saat Upacara HUT RI di Istana, Benarkah Satu-satunya di Dunia?
Setelah berhasil diamankan, kondisi orang utan langsung diperiksa dan dipantau tim kesehatan serta animal keeper Solo Safari. Miyana memastikan satwa tersebut dalam kondisi sehat dan tetap aktif. “Teman-teman juga bisa melihat tadi orang utan kami dalam keadaan sehat walafiat dan tidak ada kendala apa pun. Bisa dilihat aktif,” katanya.
Pengamanan Berlapis
Miyana mengatakan Solo Safari telah menerapkan sistem pengamanan berlapis sesuai standar operasional prosedur (SOP) yang berlaku di Taman Safari Group. Enclosure orang utan dilengkapi sejumlah lapisan penghalang.
“Di sini kami sudah melakukan pengamanan berlapis sesuai SOP. Ada exhibit, kemudian lapisan pertama ada barrier, yang kedua ada electric fence atau kabel elektrik, kemudian juga ada pulau dan danau,” ungkapnya.
Namun, orang utan tersebut mampu melewati sejumlah barrier. Miyana menyebut kondisi tersebut berkaitan dengan karakter serta kecerdasan orang utan yang memiliki rasa ingin tahu tinggi.
“Orang utan itu satwa yang sangat curious, rasa ingin tahunya sangat tinggi. Itu merupakan perilaku alamiah. Dia sangat pandai dan bisa melewati barrier yang sudah kami tentukan,” ujarnya.
Baca Juga: Salah Dengar Lirik Bisa Bikin Lagu Jawa Mendunia
Setelah kejadian, seluruh peralatan pengamanan langsung diperiksa, termasuk kabel elektrik. Miyana memastikan hasil pemeriksaan menunjukkan seluruh peralatan dalam kondisi normal dan berfungsi sesuai SOP. “Hasil pengecekan semua equipment dan peralatan normal. Kabel listrik juga normal. Fungsinya memang untuk memberikan efek kejut dan sudah sesuai dengan SOP,” jelasnya.
Dia menegaskan sistem pengamanan tersebut tidak ditujukan untuk mencederai satwa. Besaran arus listrik yang digunakan juga telah disesuaikan dengan ketentuan dan SOP yang berlaku.
“Keutamaan kami tetap keselamatan satwa. Kami sudah mengikuti SOP yang berlaku, termasuk alurannya sekian ampere sudah sesuai dengan SOP yang diterapkan,” katanya.
Meski seluruh peralatan dinyatakan berfungsi normal, manajemen tetap melakukan evaluasi. Monitoring terhadap enclosure orang utan akan ditingkatkan untuk meminimalkan kemungkinan kejadian serupa terulang.
“Ke depan monitoring akan kami intensifkan. Ini juga menjadi pembelajaran bagi kami supaya kejadian serupa tidak terulang,” tegas Miyana.
Pemeriksaan Tetap Dilakukan Rutin
Miyana menjelaskan pemeriksaan terhadap satwa sebenarnya dilakukan secara rutin setiap hari. Sebelum orang utan dikeluarkan ke exhibit pada pagi hari, petugas terlebih dahulu melakukan pengecekan. Pemeriksaan kemudian dilakukan secara berkala.
“Setiap pagi sebelum mereka keluar ke exhibit sudah rutin kami lakukan pengecekan. Kemudian setiap setengah jam kami checking. Ke depan disiplin dan monitoringnya akan lebih intens lagi,” ujarnya.
Dia menambahkan, konsep enclosure orang utan di Solo Safari memang dirancang menyerupai habitat alami. Satwa tidak ditempatkan di kandang tertutup sepanjang waktu sehingga tetap dapat bergerak dan beraktivitas di area exhibit.
“Enclosure atau exhibit kami di-setting sedemikian rupa untuk sesuai dengan alam aslinya. Kalau malam hari mereka kami siapkan holding untuk tidur,” jelasnya.
Dari sisi penanganan, Miyana memastikan tim Solo Safari memiliki kompetensi dalam menangani satwa primata. Orang utan tersebut juga bersikap kooperatif ketika didekati sehingga proses pengamanan dapat dilakukan dalam waktu relatif singkat.
“Tim kami semuanya profesional dan sudah sangat terlatih. Itu terbukti tidak menunggu hitungan lama, langsung bisa kami bawa kembali ke enclosure maupun exhibit,” katanya.
Baca Juga: Respons Keluhan Warga yang Masuk Desil 10, Begini Paparan BPS Wonogiri
Orang utan tersebut merupakan satwa jantan berusia sekitar 30 tahun. Miyana mengatakan karakter dan kecerdasan satwa menjadi salah satu tantangan dalam pengelolaannya.
“Kalau dikatakan bisa komunikasi dengan baik, tim kami bisa. Dia kooperatif sekali, makanya bisa cepat kami bawa kembali,” ujarnya.
Baca Juga: Kenapa Keraton Solo Punya Alun-Alun Lor dan Kidul? Ternyata Fungsinya Berbeda
Miyana juga menyampaikan apresiasi kepada masyarakat yang membantu memberikan informasi ketika orang utan tersebut berada di luar area Solo Safari. Informasi dari masyarakat turut membantu proses penanganan.
“Kami sangat berterima kasih kepada masyarakat yang sudah berpartisipasi memberikan informasi dan kooperatif. Perhatian masyarakat terhadap Solo Safari dan orang utan kami sangat kami apresiasi,” tuturnya.
Atas kejadian tersebut, Miyana juga menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat yang merasa terganggu maupun khawatir setelah orang utan berada di luar area Solo Safari. “Kami mohon maaf karena kejadian ini pasti membuat sedikit perhatian dan kekhawatiran. Sekali lagi ini sudah terjadi dan menjadi pembelajaran bagi kami,” tandasnya. (atn/nik)
Editor : Niko auglandy