RADARSOLO.COM — Lepasnya orang utan koleksi Solo Safari hingga berkeliaran di sekitar Jalan KH Maskyur, Selasa (18/8), mendapat sorotan DPRD Kota Surakarta. Dewan meminta manajemen Solo Safari mengevaluasi standar operasional prosedur (SOP) dan sistem pengamanan satwa untuk mencegah kejadian serupa terulang.
Wakil Ketua DPRD Kota Surakarta Daryono menilai kejadian tersebut tidak bisa dianggap sepele. Sebab, orang utan yang lepas sempat berada di kawasan yang berdekatan dengan aktivitas masyarakat sehingga berpotensi membahayakan keselamatan warga maupun pengguna jalan.
“Secara umum perlu evaluasi secara menyeluruh kenapa satwa bisa lepas. Ini relatif membahayakan masyarakat sekitar. Perlu evaluasi menyeluruh di manajemen Solo Safari,” kata Daryono.
Menurutnya, SOP menjadi bagian penting dalam pengelolaan satwa, terlebih Solo Safari menangani berbagai jenis satwa dengan karakter dan tingkat risiko yang berbeda.
Karena itu, Daryono mempertanyakan penerapan SOP dalam proses pengamanan dan penanganan satwa. Evaluasi diperlukan untuk mengetahui celah yang memungkinkan orang utan keluar dari area pengelolaan.
“Kalau saya melihat sebenarnya SOP ini menjadi standar operasional dari sebuah perusahaan. Dari kasus ini kita mempertanyakan bagaimana SOP dalam konteks penanganan satwa yang dikelola,” ujarnya.
Baca Juga: Bahasa Indonesia Bukan Sekadar Bahasa Melayu, Begini Perjalanannya Menjadi Bahasa Persatuan
Selain mengevaluasi penyebab kejadian, Daryono meminta manajemen menyiapkan langkah pencegahan. Sistem pengamanan dinilai perlu diperkuat agar potensi satwa keluar dari area pengelolaan dapat diminimalkan.
“Harus ada langkah preventif agar ke depan ini tidak terjadi. Antisipasi ini yang penting, sehingga meminimalisasi bahaya baik ke manusia maupun satwa itu sendiri,” tegasnya.
Diketahui, orang utan tersebut sempat keluar dari area Solo Safari dan bergerak menuju kawasan Jalan KH Maskyur. Dalam kejadian tersebut, satwa dilaporkan menjatuhkan dua sepeda motor sebelum akhirnya berhasil diamankan petugas gabungan dan dikembalikan ke area Solo Safari.
Sementara itu, Wakil Ketua Komisi II DPRD Kota Surakarta Honda Hendarto juga meminta Perumda Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ) mengevaluasi kinerja pengelolaan satwa.
Menurut Honda, evaluasi tidak cukup dilakukan terhadap kejadian orang utan yang lepas. Sistem pengamanan berbagai jenis satwa di Solo Safari juga perlu diperiksa kembali.
“Perumda TSTJ wajib evaluasi kinerja, kenapa sampai ucul. Agar hal tersebut tidak terulang lagi di kemudian hari untuk semua jenis hewan yang ada di sana,” kata Honda.
Dia mengingatkan bahwa pengelolaan satwa harus tetap mengutamakan keamanan masyarakat sekitar. Jangan sampai kejadian serupa menimbulkan kepanikan maupun kerugian bagi warga.
“Jangan sampai menimbulkan ketakutan, apalagi sampai merugikan masyarakat sekitar utamanya,” tegasnya.
Baca Juga: Orang Tua Penerima MBG Bakal Dapat Bantuan Bedah Rumah hingga KPR Rumah Subsidi, Kapan?
Dewan berharap evaluasi tidak berhenti pada pencarian penyebab orang utan bisa keluar dari area pengelolaan. Hasil evaluasi juga perlu diikuti perbaikan konkret terhadap SOP, sistem pengawasan, serta pengamanan kandang dan area satwa.
Langkah tersebut dinilai penting untuk memastikan keselamatan masyarakat, pengunjung, petugas, sekaligus satwa yang berada di bawah pengelolaan Solo Safari tetap terjamin. (atn/nik)
Editor : Niko auglandy