Respati Naik Ontel dengan “Londo Putih”, Astrid Kenakan Busana Dayak Sambil Gendong Orangutan

Silvester Kurniawan • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 17:57 WIB
Wali Kota Respati Ardi pakai baju ala Kolonial Belanda dan Wawali Astrid Widayani berbusaha adat Dayak ikut Pawai Pembangunan 2026, Jumat (21/8/2026). (Arief Budiman/Radar Solo)
Wali Kota Respati Ardi pakai baju ala Kolonial Belanda dan Wawali Astrid Widayani berbusaha adat Dayak ikut Pawai Pembangunan 2026, Jumat (21/8/2026). (Arief Budiman/Radar Solo)

RADARSOLO.COM – Pawai Pembangunan 2026 yang digelar Jumat (21/8) tak hanya menyuguhkan kendaraan hias dan beragam pentas kesenian. Penampilan dua pimpinan Kota Solo juga mencuri perhatian. Wali Kota Solo Respati Ardi dan Wakil Wali Kota Astrid Widayani tampil dengan busana yang sarat simbol.

Respati tiba di lokasi sekitar pukul 14.00 WIB. Ia mengenakan beskap dipadukan dengan topi safari yang disebutnya sebagai “Londo Putih”. Busana tersebut kemudian dipadukan dengan kendaraan yang digunakannya mengikuti pawai, yakni sepeda ontel lawas.

“Baju yang dipakai Mas Wali ini namanya 'Londo Putih',” ujar pembawa acara dari atas panggung, yang disambut gelak tawa penonton.

Baca Juga: Jejak Kolonialisme Masih Terdengar dalam Bahasa Kita

Tak kalah menarik, Astrid Widayani tampil mengenakan pakaian adat Suku Dayak dari Kalimantan. Ia juga menggendong boneka orangutan sebagai simbol pesan pelestarian lingkungan. 

Busana Dayak sengaja dipilih untuk menyampaikan pesan tentang pentingnya menjaga lingkungan, khususnya kawasan hutan Kalimantan yang dikenal sebagai salah satu paru-paru dunia.

Pesan lingkungan tersebut sejalan dengan tema Pawai Pembangunan 2026, yakni Sayangi Semesta, Hidup Bahagia. Agenda tahunan dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaan Republik Indonesia itu diikuti 45 kontingen.

Baca Juga: Kenapa Film Indonesia Era 2000-an Terasa Lebih Berani dan Liar?

Berbagai kreasi ditampilkan dalam pawai, mulai dari kendaraan hias, pertunjukan kesenian, hingga kostum tematik. Selain menjadi hiburan bagi masyarakat, parade tersebut sekaligus menjadi media untuk menyampaikan pesan tentang kepedulian terhadap lingkungan.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surakarta Maretha Dinar Cahyono mengatakan tema tersebut membawa pesan agar masyarakat ikut menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan.

“Tema ini mengajak masyarakat untuk menumbuhkan gerakan Solo Bersih, mengajak seluruh warga untuk peduli sampah, hemat air, dan menjaga lingkungan hijau serta melestarikan budaya dengan menarik wisatawan ke Kota Solo,” ujarnya. (ves)

Editor : Kabun Triyatno
londo putih Pawai Pembangunan lingkungan kesenian suku dayak