RADARSOLO.COM – Keprihatinan terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan diwujudkan Wakil Wali Kota Solo Astrid Widayani lewat busana. Saat mengikuti Pawai Pembangunan 2026, Astrid mengenakan pakaian adat Dayak lengkap dengan boneka orangutan sebagai simbol kepedulian terhadap kelestarian hutan dan satwa di Tanah Borneo.
Pilihan busana tersebut bukan sekadar untuk memeriahkan pawai yang rutin mengangkat keberagaman budaya Nusantara. Astrid sengaja membawa pesan lingkungan, khususnya terkait ancaman karhutla yang terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan.
"Pawai pembangunan setiap tahunnya kami memakai pakaian adat Nusantara. Tahun ini saya memilih menggunakan baju adat Dayak dari Kalimantan. Ini menguatkan tema tentang bagaimana kita mencintai lingkungan kita," kata Astrid.
Baca Juga: Respati Naik Ontel dengan “Londo Putih”, Astrid Kenakan Busana Dayak Sambil Gendong Orangutan
Menurut perempuan yang akrab disapa Wawali itu, Kalimantan memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan. Hutan Borneo menjadi salah satu kawasan penting bagi ekosistem dunia sehingga kerusakan akibat kebakaran perlu menjadi perhatian bersama.
“Borneo ini paru-paru dunia yang ada di Indonesia. Kami mengingatkan bahwa kita harus prihatin dengan kebakaran hutan yang ada di Kalimantan,” ujarnya.
Pesan itu diperkuat dengan boneka orangutan yang dibawa Astrid selama mengikuti pawai. Satwa tersebut dipilih untuk menggambarkan pentingnya melindungi fauna yang habitatnya semakin terancam akibat kerusakan hutan.
Baca Juga: Bukan Sekadar Gaya, Kostum “Londo Putih” Wali Kota Solo Ternyata Busana Demang Era Hindia Belanda
“Di sana ada hewan yang harus dilindungi seperti yang saya bawa ini. Ada fauna yang harus kita lindungi seperti orangutan, selain gajah dan badak yang semakin langka,” katanya.
Astrid menegaskan, menjaga lingkungan tidak cukup hanya dengan mengurangi sampah dan menjaga kebersihan. Pelestarian alam harus menyentuh aspek yang lebih luas, termasuk menjaga hutan, ruang hijau, dan keberlangsungan ekosistem.
“Mencintai lingkungan, menyayangi semesta tidak cukup hanya dengan menjaga kebersihan dan mengelola sampah. Tetapi juga bagaimana kita menjaga lingkungan tetap hijau dengan menanam pohon dan lainnya,” jelasnya.
Baca Juga: Jejak Kolonialisme Masih Terdengar dalam Bahasa Kita
Astrid juga mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan memasuki musim kemarau. Selain meningkatkan risiko kebakaran, kondisi kering dapat memicu persoalan kekeringan di sejumlah daerah.
“Terutama di musim kemarau yang rawan kebakaran dan kekeringan sehingga jadi pengingat bahwa kita harus peduli terhadap lingkungan kita,” tandasnya.
Pesan tersebut sejalan dengan tema Pawai Pembangunan 2026, “Sayangi Semesta, Hidup Bahagia.” Melalui momentum tersebut, Astrid berharap kepedulian terhadap lingkungan tidak berhenti sebagai pesan dalam pawai, tetapi menjadi gerakan bersama dalam kehidupan sehari-hari. (ves)