RADARSOLO.COM - Kota yang terus berbenah tidak hanya mengubah wajah ruang. Di balik kawasan yang dibuat lebih bersih dan tertata, ada kehidupan yang terkadang harus bergeser karena dianggap tidak lagi sesuai dengan wajah baru kota.
Pertanyaan itu menjadi salah satu kegelisahan yang diangkat Kelompok Kerja Teater Akar melalui pementasan teater musikal Balada dari Timur di Teater Arena, Taman Budaya Jawa Tengah.
Pementasan tersebut digelar selama dua hari (21–22/8), dengan menyoroti kehidupan orang-orang yang bertahan di tempat pembuangan sampah.
Baca Juga: Sanggar Seni Kemasan Gelar Pementasan “Ngloroh”: Hidupkan Kembali Jejak Perjuangan Raden Mas Said
Di antara bau busuk dan barang-barang yang ditinggalkan, mereka membangun kehidupan. Rumah, cinta, hingga harapan tumbuh dari tempat yang bagi sebagian orang hanya dianggap sebagai tumpukan sampah.
Persoalan berubah ketika kota hendak menggusur mereka. Keinginan menghadirkan kawasan yang lebih bersih berhadapan dengan warga yang telah menggantungkan hidup di tempat tersebut.
Bagi Teater Akar, konflik itu bukan semata cerita tentang penggusuran. Ada pertanyaan yang lebih besar mengenai keberadaan manusia di tengah perubahan kota.
Ketika sebuah kota ingin terlihat lebih bersih, siapa yang kemudian dianggap mengotori wajahnya? Dan ketika ruang hidup mereka harus disingkirkan, apakah martabat manusia juga ikut menjadi sesuatu yang boleh dibuang?
Gagasan tersebut kemudian dipertemukan dengan karya-karya almarhum Guntur T. Cunong. Lagu-lagu seniman yang tumbuh di Solo itu menjadi titik awal Teater Akar untuk membaca kembali persoalan masyarakat hari ini.
Sutradara Balada dari Timur, Yogi Swara Manitis Aji mengatakan, seorang seniman harus terus memiliki kepekaan terhadap perubahan zaman. Menurutnya, teater tidak cukup hanya menghadirkan cerita, tetapi juga harus memiliki perspektif dalam membaca realitas.
"Sebenarnya sumber karya itu dari berbagai macam hal, cuma jelas bahwa kita sebagai seniman harus terus peka dengan zaman. Salah satu kepekaan itu terjembatani oleh lagu-lagu karya almarhum Mas Guntur T. Cunong," ujar Yogi saat ditemui Jawa Pos Radar Solo usai pementasan, Jumat (21/8).
Guntur dikenal sebagai musisi dan pegiat budaya yang menggunakan lagu sebagai media perjuangan dan kritik sosial.
Bersama Kelompok Penyanyi Jalanan (KPJ), ia juga mendampingi para pengamen agar tidak kehilangan etika dan harga diri ketika berkarya di jalanan.
Salah satu prinsip yang diwariskannya lewat mengamen sebagai aktivitas menjual karya, bukan mengemis.
Pengamen tetap harus menghormati pendengar, menyelesaikan lagu, menerima apresiasi dengan cara yang pantas, sekaligus menjaga kualitas bermusik.
Gagasan itu menjadi penting dalam Balada dari Timur. Sebab, para tokohnya sama-sama hidup dari sesuatu yang dianggap tidak berharga oleh orang lain.
Di tempat pembuangan sampah, mereka memungut sisa-sisa yang ditinggalkan kota. Namun, dari tempat tersebut pula mereka berusaha membangun kehidupan dan mempertahankan harga diri.
Bagi Teater Akar, kehidupan di pinggir bukan berarti kehidupan yang kehilangan nilai. Justru dari posisi tersebut muncul cara pandang lain dalam melihat kota dan kehidupan manusia di dalamnya.
Yogi menyebut Guntur merupakan sosok yang genuine dalam mengolah perspektifnya. Melalui karya-karyanya, Guntur tidak sekadar bernyanyi, tetapi berusaha mengartikulasikan cara pandangnya terhadap zaman.
"Hari ini kami membaca zaman secara bersama-sama, karena salah satu denyut teater itu adalah perspektif, cara pandang untuk membaca zaman, dan kita harus mengartikulasikannya. Jembatannya adalah lagu dari almarhum Mas Guntur ini," ujarnya.
Karya-karya Guntur kemudian dipertemukan dengan pengalaman generasi yang berbeda. Sebagian besar aktor dalam Balada dari Timur bahkan tidak pernah mengenal Guntur semasa hidupnya.
Kondisi itu justru menjadi tantangan sekaligus kekuatan bagi Teater Akar. Mereka tidak ingin meniru masa lalu, tetapi membiarkan karya Guntur berdialog dengan keresahan generasi hari ini.
"Sebenarnya bukan kendala, tapi bahasa saya justru tantangannya adalah keunikan. Bagaimana seluruh pendukung teater ini rata-rata sengaja dari generasi hari ini, dari teman-teman Akar yang bahkan belum secara langsung mengenal almarhum. Hanya beberapa dari kami yang mengenal almarhum semasa hidup," terang Yogi.
Oleh sebab itu, Balada dari Timur tidak disusun sebagai biografi Guntur T. Cunong. Lagu-lagunya menjadi bahan yang diolah kembali melalui pengalaman dan perspektif para aktor.
"Kami susun aktor-aktor ini memang aktor-aktor hari ini, aktor-aktor generasi baru kami, agar lalu muncul satu dialektika bagaimana lagu-lagu karya Mas Guntur ini menjadi satu respons oleh teman-teman hari ini," lanjutnya.
Respons tersebut kemudian diwujudkan melalui cerita Kiki, Asmoro, dan Bence. Kiki menjadi simpul dari dua lelaki dengan cara pandang berbeda dalam menghadapi kehidupan.
Asmoro merupakan seniman lepas yang percaya bahwa benda yang dibuang masih bisa menjadi karya. Ia melihat nilai yang mungkin masih tersimpan di balik sesuatu yang dianggap tidak berguna.
Bence berada di sisi yang berbeda.
Sebagai copet, dia melihat uang dan kepastian sebagai sesuatu yang lebih konkret untuk menyelamatkan hidup.
Perbedaan cara pandang itu menjadi semakin tajam ketika ancaman penggusuran datang. Mereka harus menentukan apakah akan pergi, melawan, atau justru saling meninggalkan.
Konflik tersebut membuat persoalan ruang hidup menjadi persoalan manusia. Mereka bukan sekadar penghuni kawasan kumuh yang bisa dipindahkan ketika tata kota berubah.
Ada kehidupan yang telah dibangun di sana. Ada hubungan, pekerjaan, cinta, dan harapan yang tidak mudah dipindahkan begitu saja.
Dari gunungan sampah itulah Teater Akar mencoba melahirkan sebuah balada. Bukan hanya nyanyian tentang orang-orang yang hidup di pinggiran, tetapi tentang manusia yang terus memungut sisa-sisa dunia sembari mempertahankan sesuatu yang lebih penting, yakni martabat.
Gagasan tersebut sejalan dengan warisan Guntur yang menjadikan musik sebagai suara bagi masyarakat kecil. Dia memilih berada di luar pusat, bukan karena tidak mampu berada di dalamnya, tetapi karena posisi tersebut memberinya cara berbeda untuk melihat dunia.
"Harapannya tentu untuk kami internal, bagaimana daya kritis itu menular, bagaimana cara pandang perspektif membaca zaman itu mempengaruhi kami untuk terus berkarya sampai juga berinteraksi sosial dengan masyarakat dengan zaman hari ini," tutur Yogi.
Bagi Yogi, berada di pinggiran bukanlah simbol kekalahan. Dari sana, seorang seniman justru dapat melihat persoalan dengan lebih jernih.
"Bahwa pernah ada seniman yang tumbuh dan memilih menjadi 'pinggir'. Bukan berarti itu kalah, tapi itulah caranya untuk memandang zaman agar lebih peka dan lebih jelas, lebih jeli. Bukan pada 'pusat', tetapi cara 'pinggir' itulah sebuah pilihan membaca dunia menjadi lebih jernih," tandasnya.
Melalui Balada dari Timur, Teater Akar akhirnya tidak hanya menghidupkan kembali lagu-lagu Guntur T. Cunong. Mereka juga mengajak penonton melihat kembali siapa yang berada di balik wajah kota yang terus dipercantik.
Sebab, sesuatu yang dianggap berada di pinggir belum tentu kehilangan nilai. Dan manusia yang hidup dari sisa-sisa kota pun tetap memiliki hak untuk mempertahankan kehidupan dan martabatnya.
Dari sana, balada itu menemukan maknanya. Bukan sekadar aliran musik, melainkan api perlawanan yang terus menyala ketika suara dari pinggir berusaha didengar. (hj/nik)