Kemarau dan Harga Gabah Tinggi, Bulog Pastikan Beras Solo Raya Tak Bakal Seret

Antonius Christian • Dipublikasikan Minggu, 23 Agustus 2026 | 16:07 WIB
Kepala Bulog Cabang Solo Dwi Yuniarko. (A Christian/Radar Solo)
Kepala Bulog Cabang Solo Dwi Yuniarko. (A Christian/Radar Solo)

RADARSOLO.COM – Kabar soal dampak musim kemarau terhadap produksi padi tak membuat pasokan beras di Solo Raya terganggu. Bulog Cabang Solo memastikan stok beras yang dikuasai saat ini masih cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat hingga akhir 2026.

Kepala Bulog Cabang Solo Dwi Yuniarko menyebut stok beras di gudang Bulog saat ini mencapai sekitar 103 ribu ton. Jumlah tersebut dinilai masih aman untuk menopang kebutuhan konsumsi masyarakat, penyaluran bantuan pangan, maupun program stabilisasi harga.

“Stok yang kita kuasai saat ini masih ada di 100 ribuan ton. Kami pastikan kecukupan stok untuk Solo Raya aman hingga akhir tahun. Jadi masyarakat tidak perlu khawatir,” kata Dwi.

Baca Juga: Suhu Terlalu Tinggi, Oven Kayu Terbakar Di Banmati Sukoharjo

Besarnya stok tersebut juga menjadi penopang program bantuan pangan pemerintah. Untuk periode Juli-September, setiap keluarga penerima bantuan pangan (PBP) memperoleh beras sebanyak 10 kilogram per bulan.

Karena penyaluran dilakukan sekaligus untuk tiga bulan, setiap PBP menerima total 30 kilogram beras. Secara keseluruhan, kebutuhan beras untuk program tersebut mencapai sekitar 25 ribu ton.

“Bantuan pangan periode Juli-September ini setiap PBP mendapat 10 kilogram per bulan. Karena disalurkan untuk tiga bulan sekaligus, masing-masing menerima 30 kilogram. Total penyalurannya sekitar 25 ribu ton,” terangnya.

Baca Juga: Ada yang Hobi Gonta-ganti, Ada Juga yang Pakai Barang Sampai Jebol. Kamu Tipe Mana?

Di tengah stok beras yang masih melimpah, Bulog menghadapi tantangan pada sisi penyerapan gabah petani. Musim kemarau turut memengaruhi produksi, sementara harga gabah di tingkat petani masih berada jauh di atas harga pembelian pemerintah (HPP).

Dwi menyebut harga Gabah Kering Panen (GKP) saat ini berada di kisaran Rp8.000 per kilogram. Sementara HPP yang menjadi acuan pembelian Bulog berada di angka Rp6.500 per kilogram.

Selisih harga tersebut membuat petani cenderung memilih menjual gabahnya ke pasar dengan harga lebih tinggi sehingga ruang Bulog untuk melakukan penyerapan menjadi lebih terbatas.

“Penyerapan masih berjalan semaksimal mungkin. Tapi pasti mengalami penurunan karena harga gabah saat ini masih relatif tinggi. Dari hasil pengamatan kami, harga gabah saat ini di kisaran Rp8.000 per kilogram,” ungkapnya.

Kendati penyerapan melambat, Dwi menegaskan kondisi tersebut belum mengancam ketersediaan beras Soloraya. Bahkan, target penyerapan gabah Bulog tahun ini disebut telah mencapai 100 persen dari target yang ditetapkan.

Untuk menjaga stok tetap dalam kondisi prima, Bulog melakukan perawatan rutin terhadap beras yang tersimpan di gudang. Penyemprotan atau spraying dilakukan setiap bulan, sedangkan fumigasi dijadwalkan setiap dua hingga tiga bulan.

Sistem First In First Out (FIFO) juga diterapkan. Beras yang lebih dahulu masuk gudang diprioritaskan untuk dikeluarkan lebih dulu. Cara tersebut dilakukan untuk mencegah beras terlalu lama tersimpan dan menjaga kualitas sebelum didistribusikan kepada masyarakat.

“Kami pakai sistem FIFO, First In First Out. Barang yang pertama masuk kami dahulukan keluar. Kami juga memastikan beras yang disimpan saat ini masih dalam kondisi baik dan tidak ada yang turun mutu di Gudang Bulog Kancab Solo,” tandas Dwi. (atn)

Editor : Kabun Triyatno
beras kemarau bantuan pangan bulog gabah