Monumen 45 Jadi Panggung Gamelan, Pemkot Siapkan Lebih Banyak Ruang Publik untuk Event

Silvester Kurniawan • Dipublikasikan Minggu, 23 Agustus 2026 | 16:45 WIB
Wali Kota Solo Respati Ardi membuka Festival Gamelan Nusantara 2026, Jumat (22/8/2026) malam. (Humas Pemkot Solo)
Wali Kota Solo Respati Ardi membuka Festival Gamelan Nusantara 2026, Jumat (22/8/2026) malam. (Humas Pemkot Solo)

RADARSOLO.COM – Pemerintah Kota (Pemkot) Solo mulai mendorong ruang-ruang publik di Kota Bengawan tidak sekadar menjadi tempat berkumpul, tetapi juga panggung bagi aktivitas seni, budaya, komunitas, hingga kegiatan kreatif masyarakat.

Langkah ini menjadi bagian dari upaya menghidupkan lebih banyak sudut Kota Solo sekaligus memperkuat citra sebagai kota seni dan budaya. Pemkot juga ingin pengembangan ruang publik ikut menopang sektor kuliner serta sport and wellness tourism.

Wali Kota Solo Respati Ardi mengatakan sejumlah ruang publik akan terus diaktivasi dengan berbagai kegiatan positif. Menurutnya, semakin banyak ruang yang dimanfaatkan, semakin banyak pula pilihan masyarakat untuk beraktivitas.

Baca Juga: Desil Warga Solo Bisa Naik Gara-Gara Pinjol, Terlibat Judol Bansos Bisa Dicabut

“Beberapa tempat akan kita aktivasi untuk menyemarakkan Kota Solo sebagai kota budaya,” ujar Respati, Minggu (23/8).

Menurutnya, ruang publik memiliki fungsi lebih luas daripada sekadar lokasi berkumpul. Ruang tersebut bisa menjadi titik temu komunitas, pelaku seni, generasi muda, hingga masyarakat umum untuk menghasilkan kegiatan kreatif dan produktif.

Pemkot juga mendorong penguatan karakter sejumlah kawasan melalui aktivitas ekonomi kreatif. Kauman, Kemlayan, dan Keprabon menjadi contoh kawasan yang terus didorong sebagai bagian dari ekosistem ekonomi kreatif Solo.

Baca Juga: Gamelan Sekaten dan Monggang Ageng Jadi Rebutan, LDA Keraton Disomasi Kubu Purbaya

“Ruang publik tidak sekadar menjadi tempat berkumpul, tetapi juga menjadi ruang tumbuhnya aktivitas sosial, seni dan budaya di Kota Solo,” harapnya.

Salah satu contoh pemanfaatan ruang publik tersebut terlihat saat Monumen 45 Banjarsari menjadi lokasi Festival Gamelan Nusantara 2026, Jumat (22/8) malam. Ruang yang selama ini identik sebagai salah satu landmark kota itu disulap menjadi panggung pertunjukan gamelan.

Respati menyambut positif pemanfaatan Monumen 45 untuk kegiatan seni. Menurutnya, penggunaan ruang publik seperti itu menunjukkan bahwa pertunjukan budaya tidak harus selalu digelar di gedung atau lokasi yang selama ini menjadi pusat kegiatan seni.

“Festival Gamelan di Monumen 45, saya senang sekali Monumen 45 sekarang bisa digunakan untuk seni pertunjukan,” katanya.

Festival Gamelan Nusantara 2026 menghadirkan beragam kekayaan musik tradisional dari sejumlah daerah. Salah satunya karawitan gabungan siswa-siswi dari 11 SD di Kota Surakarta.

Selain itu, terdapat Pagelaran Gamelan Nusantara dengan Tembang Dolanan. Berbagai jenis gamelan turut diperkenalkan kepada masyarakat, mulai Gamelan Ageng, Gamelan Banyumas, Gamelan Banyuwangi hingga Gamelan Bali.

Pemkot berharap pola tersebut dapat diperluas. Dengan semakin banyak ruang publik yang dihidupkan melalui kegiatan positif, aktivitas masyarakat diharapkan tidak terkonsentrasi hanya di sejumlah titik yang selama ini menjadi lokasi favorit penyelenggaraan event.

“Pemanfaatan ruang publik untuk kegiatan seni dan budaya dapat menjadi bagian dari upaya menghidupkan berbagai sudut Kota Solo. Dengan semakin banyak ruang yang digunakan untuk aktivitas masyarakat, kegiatan positif diharapkan tidak hanya terpusat pada lokasi-lokasi tertentu,” ucap Respati.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Solo Maretha Dinar Cahyono menambahkan, Pemkot terbuka terhadap berbagai pihak yang ingin menggelar kegiatan di Kota Solo. Menurutnya, potensi lokasi penyelenggaraan event di Kota Bengawan jauh lebih luas daripada titik-titik yang selama ini populer.

“Pada dasarnya kami selalu terbuka untuk penyelenggaraan event. Solo tidak hanya punya lokasi-lokasi favorit yang sudah biasa dipakai untuk kegiatan, tetapi juga banyak lokasi lain yang sebetulnya berpotensi besar untuk penyelenggaraan event besar lainnya,” beber Maretha. (ves)

Editor : Kabun Triyatno
Festival Gamelan Nusantara wellness tourism ekonomi kreatif budaya ruang publik