RADARSOLO.COM – Niat hati ingin berebut gunungan Grebeg Maulud Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Selasa (25/8), banyak pengunjung justru dibikin kecewa.
Sebab Grebeg Maulud baru akan digelar Rabu besok (26/8).
Pardi Wardoyo, 66, pengunjung asal Desa Banaran, Grogol, Sukoharjo mengaku sudah lama tidak mengikuti rangkaian kegiatan Sekaten.
Dia sengaja memanfaatkan hari libur perayaan Maulid Nabi untuk mengantar cucunya keliling keraton.
Baca Juga: Lalai Bakar Sampah, Bangunan TK Harjosari 2 Karangpandan Dilalap Api
“Inginnya lihat gunungan, tapi katanya baru besok. Harusnya hari ini, tapi malah tidak ada,” keluhnya saat ditemui di pelataran Masjid Agung Solo.
Pardi mengaku tidak hanya dia yang kecewa. Banyak saudaranya dari Jogja, Ponorogo, dan Klaten yang ikut datang, tapi gagal melihat Grebeg Maulud.
“Kalau besok saya enggak bisa datang karena momong. Saudara-saudara saya juga sudah pulang semuanya,” imbuhnya.
Setali tiga uang, Arni Solihin, warga Kauman, Pasar Kliwon, Solo juga urung melihat Grebeg Maulud.
Padahal dia sedang mengantarkan saudaranya asal Mojokerto, Jawa Timur yang ingin melihat tradisi tersebut.
Sebagai obat kecewa, mereka akhirnya menyaksikan tabuhan gamelan Kiai Guntur Madu dan Kiai Guntur Sari.
“Dulu eyang saya sering salat dan ceramah di Masjid Agung. Ini budhe (bibi) saya ke sini pengin lihat Grebeg Maulud, tapi ternyata baru digelar besok (hari ini). Ya enggak apa-apa, yang penting bisa lihat gamelan sudah marem (puas),” ujar Arni.
Sementara itu, pengelola Masjid Agung Solo Muchtarom mengaku pelaksanaan Grebeg Maulud mengikuti penanggalan yang jadi acuan keraton. Ada hitungan tersendiri yang memadukan kalender Jawa dan Hijriah, sebagai dasar menentukan waktu pelaksanaan tradisi.
“Keraton punya kalender sendiri,” hematnya.
Baca Juga: Polemik Aset Keraton Makin Panas, Kubu Purbaya Laporkan LDA ke Polresta Solo
Menurut Muchtarom, Grebeg Maulud juga digelar Keraton Jogja dan Pura Mangkunegaran.
Pelaksanaannya juga tidak jauh berbeda, meski jumlah pengunjung yang hadir diperkirakan lebih sepi.
“Pada prinsipnya sama. Bedanya mungkin dinamikan pengunjung saja, antara ramai dan tidak ramai. Apalagi besok (hari ini) hari kerja. Beda ketika tanggal keraton bersamaan dengan tanggal merah,” jelasnya. (alf/fer)
Editor : fery ardi susantoSumber : Radar Solo