Pidato Kebudayaan di Kampus UTP Solo, Fadli Zon Dorong Mega Diversity Jadi Kekuatan Ekonomi

Alfida Nurcholisah • Dipublikasikan Rabu, 26 Agustus 2026 | 16:56 WIB
Menteri Kebudayaan Fadli Zon dan Wali Kota Solo Respati Ardi dalam Pidato Kebudayaan Mega Diversity di Universitas Tunas Pembangunan (UTP), Rabu (26/8). (Alfida Nurcholisah/Radar Solo)
Menteri Kebudayaan Fadli Zon dan Wali Kota Solo Respati Ardi dalam Pidato Kebudayaan Mega Diversity di Universitas Tunas Pembangunan (UTP), Rabu (26/8). (Alfida Nurcholisah/Radar Solo)

RADARSOLO.COM -  Kekayaan budaya Indonesia yang sangat beragam harus dipandang sebagai modal besar untuk memperkuat identitas, sekaligus menggerakkan ekonomi atau yang kerap disebut mega diversity.

Hal tersebut disampaikan Menteri Kebudayaan Fadli Zon, dalam Pidato Kebudayaan Mega Diversity Sebagai Konsep Kebudayaan di Universitas Tunas Pembangunan (UTP) Solo, Rabu (26/8).

Dalam pidatonya, Fadli Zon mengatakan Indonesia memiliki kekayaan budaya yang sangat besar.

Ada 1.340 etnis, 718 bahasa, serta ribuan warisan budaya tak benda dan cagar budaya.

Menurutnya, keberagaman tersebut merupakan cultural capital yang dapat dikembangkan menjadi industri budaya dan ekonomi kreatif.

Baca Juga: Goara-Goara Karya Dosen UTP Solo, Nguri-uri Permainan Tradisional Dengan Sentuhan Teknologi

“Negara yang kaya dengan budaya beragam secara ekspresi budaya, yang saya sebut sebagai mega cultural diversity, mega diversity,” ujar Fadli.

Menurutnya, budaya kini telah menjadi salah satu penggerak pertumbuhan ekonomi di berbagai negara.

Korea Selatan, misalnya, mengembangkan K-pop, film, dan drama sebagai bagian dari industri budayanya.

Fadli menegaskan kebudayaan tidak hanya berkaitan dengan seni pertunjukan. Dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, terdapat 10 objek pemajuan kebudayaan.

Di antaranya bahasa, tradisi lisan, manuskrip, ritus, adat istiadat, pengetahuan tradisional, pangan lokal, permainan rakyat, dan seni.

“Di hilir nanti ini menjadi destinasi wisata budaya, wisata sejarah, wisata kuliner dan juga hal-hal yang lain,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Fadli juga mengapresiasi kegiatan yang digelar UTP.

Selain menyampaikan materi kebudayaan, ia melihat langsung pameran yang menampilkan beragam karya dan aktivitas, mulai dari kuliner, pemeliharaan pesawat, hingga permainan tradisional.

“Dalam rangka penghujung Dies Natalis UTP yang ke-46. Selain saya sampaikan materi kebudayaan, tadi kita juga lihat pameran mulai dari kuliner sampai pemeliharaan pesawat dan juga permainan tradisional, yang merupakan objek kemajuan kebudayaan,” kata Fadli.

Menurutnya, kuatan budaya harus dikembangkan melalui kerja sama pemerintah, pemerintah daerah, komunitas, seniman, budayawan, dan perguruan tinggi.

Baca Juga: Pemulung Putri Cempo Bakal Dapat Perlindungan Jaminan Sosial

Kampus dinilai memiliki posisi strategis untuk melakukan penelitian, pengembangan, sekaligus menjaga pengetahuan dan praktik budaya.

Sementara itu, Rektor UTP Winarti mengatakan, semangat mega diversity sejalan dengan nilai yang dikembangkan kampus melalui tiga ciri atau triciri, yakni patriotisme, kepeloporan, dan kemandirian.

Patriotisme dimaknai sebagai kecintaan terhadap tanah air dan semangat kebangsaan.

Kepeloporan mendorong mahasiswa berada di barisan terdepan dalam berinovasi dan menghadapi tantangan.

Sementara kemandirian diarahkan agar mahasiswa mampu berdiri di atas kaki sendiri, membangun kepercayaan diri, serta menciptakan peluang.

“Kami menjadikan triciri bukan sekadar pelajaran, tapi cara hidup civitas akademik UTP dalam berkarya,” kata Winarti.

UTP juga berupaya menghidupkan permainan tradisional melalui pengembangan permainan goara-goara sebagai pertemuan permainan tradisional seperti egrang, permainan tali, lompat tali, sunda manda, hingga boling tradisional. 

Sementara itu, Wali Kota Solo Respati Ardi menilai budaya harus ditanamkan sejak pendidikan dasar.

Pemkot Solo berencana memasukkan budaya sebagai muatan lokal mulai jenjang PAUD hingga SMP.

"Karena kalau kita tidak mulai dalam dunia pendidikan dasar maka sama saja kita tidak menghargai sebuah tradisi dan kehilangan sebuah peradaban,” ujar Respati. (alf/fer)

Editor : fery ardi susanto
Sumber : Radar Solo
Mega Diversity ekonomi utp solo kota solo fadli zon