Lukisan Tiga Generasi Beralas Daun Lontar Hiasi Pameran Sejanur Nusantara di TBJT

Alfida Nurcholisah • Dipublikasikan Jumat, 28 Agustus 2026 | 18:46 WIB
Pengunjung melihat karya seni pameran Sejanur Nusantara di Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT), Jumat (28/8). (M.IHSAN/RADAR SOLO)
Pengunjung melihat karya seni pameran Sejanur Nusantara di Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT), Jumat (28/8). (M.IHSAN/RADAR SOLO)

RADARSOLO.COM – Seni janur di tangan Sigit Paripurno bukan sekadar hiasan persiapan pernikahan.

Hasil karyanya kembali digelar dalam pameran tunggal Sejanur Nusantara di Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT), Jumat (28/8).

Dalam pameran ketiganya berbagai karya kreatif dan inovatif yang serat nilai budaya selalu ia pertahankan.

Salah satu karya andalannya lukisan tiga generasi beralaskan daun lontar.

”Di dalam figura itu ada lukisan kakek buyut, kakek saya dan bapak. Semuanya dilukis di atas daun lontar,” terangnya.

Baca Juga: Lokasi Judi Kasino Di Sukoharjo Pernah Diadukan Ke DPRD, Kini Tak Ada Aktivitas

Ia menuturkan, kakek buyutnya, Wirotaruno mulai merangkai janur untuk keraton pada 1924 pada masa Pakubuwana (PB) X.

Keahlian tersebut kemudian diteruskan oleh sang kakek, Mbah Panut, sekitar 1963, sebelum dilanjutkan ayahnya pada 1973.

Selain lukisan, karya yang ditampilkan juga beragam, seperti berbagai bentuk hewan, hiasan, hingga instalasi dekorasi.

Melalui program Dana Indonesiana penciptaan karya kreatif dan inovatif, Sigit tidak hanya menampilkan hasil karya.

Ia juga mengajak beberapa peserta untuk mengikuti workshop  pembuatan keranjang yang terinspirasi dari wadah tradisional untuk membawa makanan.

”Kalau zaman dulu biasanya digunakan untuk wadah makanan seperti kondangan. Namun karena perkembangan zaman, bahan anyaman tradisional digantikan plastik,” kata Sigit.

Menurutnya, penggunaan bahan alami seperti janur dan berbagai jenis daun dapat menjadi pilihan di tengah maraknya penggunaan plastik maupun styrofoam dalam dekorasi.

Bahan alami tersebut lebih mudah terurai setelah tidak digunakan.

”Ini ingin mengangkat budaya masyarakat dulu yang cinta lingkungan, juga menjaga alam itu sendiri. Kalau bahan alam mudah terurai dan ketika dibuang bisa kembali menjadi tanah,” ujarnya.

Warisan tersebut salah satunya berupa keterampilan membuat kembar mayang untuk keperluan jumenengan.

Baca Juga: Mahasiswa PMII Geruduk DPRD Sukoharjo, Angkat Isu Limbah PT RUM, MBG, Dan Sekolah Rakyat

Berbeda dengan kembar mayang yang banyak digunakan sebagai dekorasi pernikahan modern, karya untuk lingkungan keraton memiliki pakem dan nilai simbolis yang harus dipertahankan.

”Untuk yang keraton itu ada nilai-nilai yang mau diangkat. Jadi pakemnya tidak berubah sama sekali,” jelasnya.

Dalam kembar mayang tersebut terdapat sejumlah unsur tumbuhan seperti daun andong, girang, dan beringin yang memiliki makna tersendiri.

Sigit memilih tetap mempertahankan pakem tersebut sebagai bagian dari upaya menjaga warisan budaya keluarganya.

”Awalnya untuk edukasi. Saya mengenalkan seni janur kepada anak-anak karena sekarang anak-anak lebih kenal origami dibanding seni janur,” katanya.

Pengembangan seni janur tersebut juga mendapat respons positif dari peserta workshop.

Sri Jayanti Nur Laila, seorang florist asal Jakarta mengaku tertarik dengan karakter alami janur dan kemungkinan penggunaannya dalam dekorasi bunga.

”Menarik karena saya suka anyam-anyaman janur. Lebih alami, ramah lingkungan, dan estetik. Lebih tradisional dan keren daripada yang sintetis,” ujarnya. (alf/adi)

Editor : fery ardi susanto
Sumber : Radar Solo
sejanur nusantara anyaman janur lukisan tiga generasi Sigit paripurno TBJT