RADARSOLO.COM - Universitas Kusuma Husada Surakarta menggelar pelatihan dan edukasi tentang deteksi dini penyakit tuberkulosis (TB) pada anak untuk 49 kader Posyandu di Kelurahan Mojosongo, Kecamatan Jebres, Solo.
Kegiatan bertajuk Pemberdayaan Kader Kesehatan melalui Pelatihan Lembar Balik Tuberkulosis untuk Deteksi Dini Tuberkulosis Anak tersebut merupakan Skema Permberdayaan Berbasis Masyarakat - Diktisainstek Berdampak yang dilaksanakan 27-28 Agustus ini.
Di mana para kader posyandu diajak untuk meningkatkan kewaspadaan dan perhatian agar dapat melakukan deteksi dini gejala TB anak.
Tim pengabdian terdiri dari Dr. Erinda Nur Pratiwi, S.St, M.Kes, M.Keb; Frieda Ani Noor, S.KM, M.Kes; dan Budi Prasetyo, S.KM, M.Kes.
Tim menilai, penguatan kapasitas kader sangat penting karena Posyandu menjadi salah satu titik penting lantaran dekat dengan masyarakat, termasuk keluarga dan anak.
"Kader Posyandu memiliki posisi strategis karena berinteraksi langsung dengan keluarga dan anak, sehingga mereka perlu dibekali kemampuan untuk mengenali tanda dan gejala TB serta mengetahui langkah selanjutnya," ucap Ketua tim pengabdian, Erinda.
Kasus TB anak masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat.
Di Kota Solo, proporsi kasus TB anak tercatat meningkat dari 16,51 persen pada 2023 menjadi 24,62 persen pada 2024.
Sementara Kelurahan Mojosongo sendiri yang sudah memiliki 40 Posyandu kegiatan berupa identifikasi awal, deteksi dini TB anak belum menjadi kegiatan rutin di Posyandu.
"Kader masih menghadapi keterbatasan dalam mengenali gejala. Karena itu, mereka perlu memahami proses skrining hingga mengetahui alur rujukan jika ditemukan anak yang dicurigai mengalami TB," terang dia.
Pelatihan ini tidak dimaksudkan untuk memberikan kewenangan kepada kader dalam mendiagnosis TB.
Melainkan mengoptimalkan peran kader dalam mengenali tanda dan gejala, melakukan skrining sesuai kapasitas, memberikan edukasi kepada keluarga.
Dengan demikian, kader posyandu dapat membantu mengarahkan anak yang dicurigai ke fasilitas pelayanan kesehatan.
"Pelatihan tidak hanya berisi materi mengenai TB anak. Para kader juga diperkenalkan dengan sejumlah media edukasi yang dapat digunakan dalam kegiatan Posyandu," imbuh anggota tim pengabdian, Frieda Ani Noor.
Lewat media utama berupa lembar balik TB anak yang dirancang dalam bentuk album vertikal.
Media tersebut dapat digunakan untuk edukasi kelompok maupun konseling secara individual lantaran berisi informasi mengenai TB anak kepada masyarakat.
Materi yang dibuat secara visual dan sistematis itu diharapkan bisa digunakan saat kegiatan Posyandu, konseling maupun ketika melakukan kunjungan rumah.
"Selain lembar balik, kader juga mendapat poster skrining TB anak dan video edukasi. Poster berfungsi sebagai pengingat visual mengenai tahapan skrining, dan video dapat diputar menggunakan HP maupun perangkat digital lainnya," terang Frieda.
Penggunaan media visual diharapkan membuat edukasi TB anak tidak terlalu sulit dipahami masyarakat.
"Kami ingin informasi mengenai TB anak bisa disampaikan dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami," imbuh dia.
Anggota tim pengabidan lainnya, Budi Prasetyo mengatakan, produk teknologi tepat guna yang dikembangkan dalam program tersebut telah didistribusikan kepada seluruh Posyandu sasaran.
Sebanyak 40 Posyandu di Kelurahan Mojosongo menerima paket media edukasi.
Saat ini distribusi media telah menjangkau 100 persen Posyandu sasaran.
"Harapannya media ini tidak berhenti setelah pelatihan selesai. Kader dapat terus menggunakannya dalam kegiatan Posyandu sehingga edukasi dan deteksi dini TB anak bisa menjadi bagian dari kegiatan rutin," kata dia.
Pelatihan dilakukan dengan pendekatan berbasis kompetensi. Metode yang digunakan meliputi ceramah interaktif, diskusi, studi kasus, simulasi, serta pre-test dan post-test.
Ke depan, kegiatan tersebut diarahkan menjadi program berkelanjutan.
Tim pengabdian akan melakukan pendampingan bersama petugas TB Puskesmas untuk melihat penerapan pengetahuan kader dan pemanfaatan media edukasi di lapangan.
"Keberlanjutan menjadi bagian penting dari program ini. Kami juga mendorong adanya kader inti yang nantinya dapat berperan sebagai peer educator, sehingga bisa membantu memberikan edukasi kepada kader lainnya," beber Budi.
Media yang telah dikembangkan juga diharapkan dapat terus digunakan dan direproduksi oleh Puskesmas.
Hasil program selanjutnya bakal didiseminasikan kepada Dinas Kesehatan Kota Solo dengan penguatan kapasitas kader, dukungan media edukasi serta pendampingan dari fasilitas pelayanan kesehatan.
Dengan demikian, posyandu diharapkan tidak hanya berperan dalam pelayanan kesehatan rutin. Namun, juga menjadi salah satu pintu masuk untuk menemukan anak yang berisiko atau dicurigai mengalami TB secara lebih dini.
"Langkah tersebut diharapkan turut memperkuat upaya kesehatan berbasis masyarakat sekaligus mendukung percepatan eliminasi tuberkulosis di Indonesia," imbuh Erinda. (ves/ria)
Editor : Syahaamah Fikria