RADARSOLO.COM — Dari gang-gang sempit di balik kompleks pemakaman, geliat ekonomi perempuan Kelurahan Tipes, Kecamatan Serengan, Kota Solo, tumbuh perlahan.
Beragam produk industri rumahan yang sebelumnya dipromosikan secara mandiri kini dapat menjangkau pembeli dari berbagai daerah di Indonesia lewat jalur promosi daring (online).
Deru mesin jahit menjadi ciri khas bagi Kampung Dipotrunan, RT 01-02 RW 13 Kelurahan Tipes, yang terletak tepat di balik kompleks Pemakaman Arab.
Di kawasan permukiman padat tersebut, para perempuan tangguh tampil dengan semangat kemandirian untuk membantu menstabilkan ekonomi keluarga.
Mereka menyulap ribuan potong kain perca sisa industri garmen menjadi beragam produk bernilai jual, mulai dari daster, celemek, hingga pakaian anak.
“Kelompok Wanita Kreatif ini geliatnya mulai sejak 2020. Tetapi untuk industri kain perca sudah ada sejak orang tua kami dulu, bahkan dari kakek nenek kami yang asli sini," tutur Madu Mastuti, penggagas Kelompok Wanita Kreatif setempat kepada Radarsolo.com.
Menurut dia, dulunya produksi dan pemasaran sendiri-sendiri.
Setelah ada Kelompok Wanita Kreatif tersebut, mereka bisa melakukan pembelian bahan baku, pemasaran, dan penjualan bersama-sama.
"Jadi lebih stabil untuk pendapatan ibu-ibu yang ada di sini,” ucap Madu.
Fasilitas Kelurahan dan Ruang Studio Digital
Hebatnya, perjuangan para perempuan tangguh di Kampung Dipotrunan tidak berhenti pada kepiawaian di balik mesin jahit.
Seiring perkembangan teknologi, produk-produk yang mereka hasilkan mulai dibawa ke ruang yang lebih luas, yakni dunia digital.
Langkah ini tidak lepas dari perjuangan ibu-ibu setempat yang kemudian disambut baik oleh pemangku wilayah.
Keuletan para pelaku UMKM ditangkap sebagai potensi baru di Kelurahan Tipes, hingga akhirnya pihak kelurahan memfasilitasi sarana promosi online lewat berbagai platform digital.
“Sama Pak lurah kami difasilitasi menggunakan salah satu ruang untuk promosi online. Semua perlengkapannya disiapkan mulai dari alat untuk mendisplay barang, lampu sorot untuk keperluan live streaming, jaringan internet, dan sebagainya,” kata Madu, yang juga menjabat sebagai Ketua Mastinimpil (Masyarakat Tipes Berani Tampil).
Di sebuah ruangan mungil berukuran sekitar 2x3 meter yang dulunya merupakan kantor PKK kelurahan, sejumlah ibu-ibu anggota kelompok UMKM Mastinimpil kini mulai terbiasa melakukan promosi daring (online).
Bermodalkan ponsel pintar alias HP, lampu pencahayaan sederhana, dan area display produk, mereka bergantian melakukan siaran langsung melalui berbagai platform marketplace, termasuk Shopee Live.
Aktivitas tersebut bukan sekadar memperkenalkan produk, melainkan menjadi strategi baru bagi pelaku UMKM tingkat kampung untuk menjangkau konsumen yang sebelumnya sulit mereka jangkau.
“Di sini ada produk fashion dari kain perca, ada shuttlecock, gantungan kunci, dan berbagai produk kerajinan lainnya. Berbagai makanan kering dan olahan kuliner dari warga juga ada. Jadi ini platform yang membantu UMKM di wilayah Tipes untuk belajar dan melakukan promosi digital,” terang Madu.
Mengasah Kemampuan Public Speaking dan Teknologi
Lewat metode promosi digital tersebut, para perempuan tangguh Kelurahan Tipes mampu mengasah kemampuan baru, baik dalam hal public speaking maupun keterampilan mengoperasikan HP masing-masing.
Mereka dituntut untuk mampu menjelaskan keunggulan produk, proses pembuatan, bahan baku, harga, hingga memberikan penawaran menarik kepada calon pembeli.
Dengan demikian, para pelaku UMKM dapat mempraktikkan sendiri promosi online di berbagai lokasi untuk menjangkau pasar yang lebih luas.
“Kami mulai sejak pertengahan Juni 2025, sekarang sudah semakin mahir dalam menggunakan sarana digital seperti Shopee Live dan lainnya untuk membantu promosi,” jelas Madu.
Upaya ini menjadi bagian dari proses panjang pemberdayaan perempuan di wilayah Kelurahan Tipes.
Sebab, sebelum mengenal marketplace dan live streaming, banyak anggota UMKM yang bahkan belum memiliki perangkat memadai maupun kemampuan menggunakan teknologi digital.
Pelatihan pun dilakukan secara bertahap. Tidak hanya berkaitan dengan transaksi dan pengiriman barang secara daring, tetapi juga kemampuan berkomunikasi agar produk yang ditawarkan melalui layar smartphone mampu menarik perhatian calon pembeli.
Perluas Jangkauan Pasar dan Dongkrak Penghasilan
Kini, ruang sederhana di kantor PKK tersebut berfungsi sebagai studio penjualan online bagi perempuan Tipes.
Dari tempat itulah, produk-produk yang sebelumnya hanya dikenal masyarakat Solo dan sekitarnya mulai berpeluang menjangkau pembeli dari berbagai daerah di Indonesia.
“Sebelumnya promosi yang hanya dari mulut ke mulut, kini sudah bisa dilakukan dengan lebih efektif, pembeli pun datang dari berbagai daerah. Dan yang paling hebat, sekarang pelaku UMKM di Tipes sudah bisa mengirimkan barang ke luar kota sesuai pesanan dari promosi digital itu, jelas menambah income UMKM di sini,” ungkapnya.
Pemanfaatan promosi digital memberikan dampak yang semakin luas bagi pelaku UMKM di Kelurahan Tipes, tanpa terkecuali bagi para lansia yang berhimpun di Kelompok Wanita Kreatif Tipes.
Kelompok yang kini beranggotakan 21 perempuan dengan rentang usia 35 hingga 70 tahun tersebut mampu mengoptimalkan sumber penghasilan keluarga.
Anggota yang muda dapat membantu anggota yang tua untuk promosi online atau promosi bersama, sehingga daya serap hasil produksi tersalurkan secara optimal.
Cerita Penjahit Perca: Sambung Ekonomi Keluarga
Pengalaman memanfaatkan limbah kain perca dirasakan langsung oleh Sukati, 66.
Sukati menjahit kain perca sejak 1995, meneruskan orang tuanya.
Sebelum bergabung dengan Kelompok Wanita Kreatif, dia memproduksi sekaligus memasarkan sendiri hasil jahitannya.
"Setelah bergabung dalam kelompok, proses produksi menjadi lebih ringan. Bahan baku kain perca dapat dibeli secara bersama-sama, sementara hasil produksi juga langsung ada yang menerima,” ucap Sukati.
Di rumah sederhana lainnya, aktivitas serupa dijalani oleh Tarjiem, 62.
Perempuan yang telah puluhan tahun berkutat dengan kain perca ini masih aktif menjahit untuk membantu perekonomian keluarga dan memenuhi kebutuhan cucu yang tinggal bersamanya.
Kain perca yang sebelumnya dianggap sebagai limbah justru menjadi sumber penghasilan.
Potongan kain sisa produksi garmen diolah menjadi berbagai jenis pakaian yang memiliki nilai ekonomi.
“Satu potong daster upahnya Rp5.000. Kalau bisa menyelesaikan 20 daster sudah dapat Rp100.000. Kalau bisa mengerjakan lebih banyak, misalnya ada keluarga yang membantu, bisa dapat lebih banyak,” kata Tarjiem.
Bukti Nyata Pemberdayaan Ekonomi Kampung
Perjalanan kelompok perempuan di Tipes menunjukkan bahwa pemberdayaan ekonomi tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar.
Keterampilan sederhana yang diwariskan dari generasi ke generasi dapat menjadi modal untuk bertahan dan berkembang.
Sementara itu, perkembangan teknologi yang dimanfaatkan secara bijak mampu membuat mesin jahit di setiap rumah tetap berputar untuk menyambung potongan kain perca menjadi produk bernilai ekonomi.
Dari gang sempit di balik makam, produk UMKM Tipes kini tampil di layar HP.
Melalui Shopee Live dan berbagai platform digital lainnya, perempuan-perempuan tersebut perlahan membuka pintu pasar yang jauh lebih luas.
Bagi mereka, digitalisasi bukan sekadar mengikuti perkembangan zaman, melainkan jembatan agar kerja keras perempuan di kampung tidak berhenti sebagai aktivitas ekonomi keluarga belaka dan bisa berkembang menjadi kekuatan UMKM yang mampu menembus pasar lebih luas.
“Dampaknya sangat luar biasa karena bisa dijangkau lebih luas. Harapannya penjualan semakin meningkat agar pemberdayaan masyarakat ini bisa semakin besar manfaatnya,” pungkas Madu Mastuti. (ves/ria)
Editor : Syahaamah Fikria