RADARSOLO.COM – Megah bukan jaminan ramai. Hampir dua tahun setelah diresmikan, Pasar Jongke Solo justru masih bergulat dengan persoalan sepinya aktivitas perdagangan. Kios dan los yang kosong, pedagang yang enggan berjualan, hingga minimnya pengunjung membuat pasar yang dibangun dengan wajah baru itu belum mampu menunjukkan geliat seperti yang diharapkan.
Kondisi tersebut turut menjadi perhatian DPRD Kota Solo. Namun, legislatif memilih menunggu langkah konkret Pemerintah Kota (Pemkot) Solo dalam menghidupkan kembali Pasar Jongke sekaligus pasar tradisional lainnya.
“Kita tunggu saja kebijakan wali kota, baik untuk Pasar Jongke maupun untuk pasar tradisional yang lainnya,” ujar Wakil Ketua Komisi II DPRD Kota Solo Honda Hendarto, Rabu (2/9/2026).
Baca Juga: Bau Menyengat TPA Putri Cempo Banjir Keluhan, Pemkot Solo Tawarkan IPAL Lindi
Pasar Jongke diresmikan Presiden Joko Widodo pada 27 Juli 2024. Pasar baru tersebut dibangun jauh lebih megah dibandingkan pasar lama dengan harapan mampu menjadi pusat perdagangan baru sekaligus meningkatkan kenyamanan pedagang dan pengunjung.
Namun, ekspektasi tersebut belum sepenuhnya terwujud. Aktivitas jual beli di sejumlah bagian pasar masih terlihat lesu. Sebagian pedagang bahkan memilih tidak memanfaatkan kios maupun los yang telah ditempatkan kepada mereka.
Honda mengatakan DPRD tidak ingin terburu-buru mengambil sikap terkait kondisi tersebut. Termasuk terhadap wacana optimalisasi pasar melalui berbagai kegiatan dan keterlibatan sektor ekonomi kreatif.
Baca Juga: Diduga Korsleting, Mobil APV Terbakar di Karangpandan Karanganyar
Menurut dia, pemerintah kota perlu terlebih dahulu menunjukkan kebijakan yang akan diterapkan untuk menyelesaikan persoalan Pasar Jongke.
Hal serupa berlaku terhadap rencana pencabutan Surat Hak Penempatan (SHP) bagi pedagang yang tidak memanfaatkan kios atau los. DPRD meminta aturan tersebut dilihat secara menyeluruh, termasuk bagaimana penerapannya di lapangan.
“Jadi bukan soal bisa diambil atau tidak (soal SHP kios/los tidak dipakai, Red), tetapi regulasinya, aturannya seperti apa? Apakah sudah dijalankan dengan baik? Nanti kita lihat dulu kebijakan wali kota seperti apa untuk masalah ini,” papar Honda.
Sementara itu, Pemkot Surakarta tengah menyiapkan skema penataan ulang Pasar Jongke. Salah satu langkah yang disiapkan adalah melakukan rezonasi atau penataan kembali zonasi perdagangan.
Kios dan los yang kosong di area bawah nantinya akan diisi pedagang yang masih aktif berjualan di lantai lainnya. Pemkot juga berencana memperluas fungsi pasar dengan menggandeng pelaku ekonomi kreatif untuk mendatangkan lebih banyak pengunjung.
Wali Kota Solo Respati Ardi mengatakan penataan ulang tersebut ditargetkan mulai dilakukan dalam waktu dekat. Pedagang yang masih aktif menjadi prioritas untuk menghidupkan kembali aktivitas perdagangan.
“Kita akan mereset, kopyok ulang. Nanti lantai duanya kita buat ekonomi kreatif. Bulan depan kita cek, penataan ulang. Yang penting pedagangnya eksis dulu, kita tambah pelaku usaha yang bisa menarik pengunjung,” beber Respati belum lama ini.
Selain penataan ulang, Pemkot tetap menyiapkan langkah tegas terhadap pemegang SHP yang tidak memanfaatkan fasilitas pasar. Langkah tersebut diharapkan mendorong pedagang kembali berjualan sekaligus mencegah kios dan los dibiarkan kosong.
Kini, wajah baru Pasar Jongke kembali diuji. Bukan lagi soal megahnya bangunan, melainkan bagaimana pasar tersebut bisa kembali dipenuhi pedagang, menarik pengunjung, dan benar-benar hidup sebagai pusat perdagangan masyarakat. (ves)
Editor : Kabun Triyatno