RADARSOLO.COM – Kebakaran gunungan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Putri Cempo, Mojosongo, Jebres, Solo, memantik sorotan DPRD Kota Solo. Tak hanya soal penanganan api, legislator menilai sistem pengamanan dan infrastruktur di kawasan TPA perlu dievaluasi menyusul kembali terjadinya kebakaran.
Wakil Ketua Komisi III DPRD Kota Solo YF Sukasno bersama Sekretaris Komisi III Sonny memantau langsung penanganan kebakaran yang terjadi sejak Rabu (2/9/2026) petang.
Baca Juga: Kebakaran TPA Putri Cempo Meluas, 6 Hektare Terbakar dan Butuh Sepekan untuk Padam
Sukasno mengatakan, saat tiba di lokasi sekitar pukul 18.30, kobaran api telah membakar dua gunungan sampah di sisi timur TPA. Ketinggian gunungan sampah yang terbakar diperkirakan mencapai 35 meter.
"Saya dikabari warga, terus saya datang ke sini pukul 18.30 WIB dan sudah terbakar. Ada dua gunungan sampah yang ketinggiannya kurang lebih 35 meter di sektor timur atau tebing sebelah timur, selatannya Kampung Randusari RW 030 Mojosongo," kata Sukasno.
Baca Juga: Ironis, Siswa di Sambungmacan Sragen Dilarang Orang Tuanya Sekolah
Petugas pemadam kebakaran (Damkar) berupaya melokalisasi api agar tidak merembet lebih luas. Namun, kondisi dan posisi gunungan sampah membuat proses pemadaman tidak mudah.
"Bapak-bapak petugas Damkar tadi melokalisir area bawah, tapi apinya membesar lagi. Jadi memang agak sulit kelihatannya untuk dipadamkan," ujarnya.
Sukasno menyebut kondisi sampah yang kering setelah beberapa hari tanpa hujan turut menyulitkan pemadaman. Api bahkan telah membakar dua gunungan sampah hanya dalam beberapa jam.
Baca Juga: Dapur SPPG Siswodipuran 2 Masih Di-Suspend, Satgas MBG Boyolali Tunggu Hasil Uji Lab BGN
"Semoga bisa cepat padam. Tapi dengan kondisi sampah yang kering dan beberapa hari tidak ada hujan, saya kira agak butuh waktu. Ini baru beberapa jam, tapi kobaran api sudah memakan dua gunungan sampah," ungkapnya.
Dia meminta petugas memprioritaskan pelokalisasian api agar tidak terus merembet. Pemadaman, menurut dia, dapat dilakukan secara bertahap setelah pergerakan api berhasil dibatasi.
"Saya kira melokalisir dulu supaya api tidak ke mana-mana. Memadamkan apinya secara bertahap. Yang penting melokalisir, biar tidak terus merembet," jelasnya.
Salah satu kendala berada di sisi timur TPA. Posisi gunungan sampah yang jauh dari daratan membuat petugas kesulitan mendekati sumber api.
"Tapi yang timur agak sulit, petugas tidak bisa mendekat. Pakai selang pun tidak bisa mendekat karena gunungan timur ini jauh dari daratan. Jadi sulit," pungkas Sukasno.
Selain ancaman api, kepulan asap hitam pekat juga menjadi perhatian. Sukasno melihat asap mengarah ke utara, menuju wilayah Gondangrejo, Karanganyar. Asap juga berpotensi mengarah ke Desa Plesungan dan Kampung Ketekan.
Dia meminta masyarakat di wilayah yang berada di jalur asap meningkatkan kewaspadaan.
Sementara itu, Sonny mengatakan kobaran api masih terlihat hingga Kamis (3/9) dini hari. Api sempat membesar sekitar pukul 20.00 hingga 21.00 dan kemudian mulai mereda di sejumlah bagian.
"Jam 2 dini hari masih ada api. Tapi kalau besarnya itu sekitar jam 8 sampai jam 9 malam. Sekarang sudah mulai padam di zona ujung. Terakhir pemadaman ada di Zona G," kata Sonny.
Menurutnya, pergerakan api terus bergeser ke arah utara sehingga petugas harus mengikuti titik api untuk melakukan pemadaman.
Kebakaran di TPA Putri Cempo, kata Sonny, bukan kejadian pertama. Kondisi tersebut dinilai menjadi alasan perlunya evaluasi menyeluruh terhadap pengelolaan dan sistem pengamanan kawasan TPA.
Salah satu yang disorot adalah keterbatasan fasilitas hidran. Sonny menyebut hanya terdapat dua titik hidran di lokasi yang dia pantau saat proses pemadaman.
"Kalau di Putri Cempo, hidran kemarin waktu proses kebakaran itu cuma ada dua di situ. Jadi fasilitas dan infrastrukturnya juga kurang mendukung," ujarnya.
Menurut Sonny, penambahan hidran diperlukan untuk mempercepat penanganan ketika kebakaran kembali terjadi. Selain itu, dia mendorong pemasangan CCTV di setiap zona TPA.
"Bukan cuma titik hidran. Kalau bisa CCTV ditambah juga," tegasnya.
CCTV dinilai penting untuk memperkuat pengawasan sekaligus mengetahui lebih cepat apabila muncul titik api. Rekaman kamera juga dapat membantu mengidentifikasi penyebab kebakaran, apakah berkaitan dengan faktor alamiah seperti gas metana maupun aktivitas manusia.
"Kita juga minta CCTV di setiap zona dipasang beberapa titik. Sehingga pengawasannya kelihatan. Kalau pengawasan berjalan otomatis bisa mengetahui masalah seperti ini," jelasnya.
"Kalau api masih kecil sudah bisa dikendalikan. Yang kedua, bisa ketahuan siapa yang menyalakan atau memang karena gas metana, kan bisa kelihatan," imbuhnya.
Sonny juga meminta standar operasional prosedur (SOP) aktivitas di dalam kawasan TPA diperjelas. Pengawasan terhadap pekerja maupun pihak lain yang beraktivitas di area pengelolaan sampah dinilai perlu diperketat.
"SOP-nya juga harus jelas. Proses di dalam itu harus ada aturannya. Pengawasan harus ada, penggunaan seragam dan elemen standar lainnya juga harus jelas," ungkapnya.
Meski menyoroti sejumlah kekurangan, Sonny mengapresiasi langkah Damkar yang terus memantau kawasan TPA. Menurut dia, petugas Damkar rutin melakukan patroli di Putri Cempo.
"Damkar itu setiap hari patroli. Tim saya saja hari ini sudah empat kali ke Putri Cempo. Yang terakhir, keempat itu saat kebakaran," ujarnya.
Di sisi lain, Sonny meminta Pemkot Surakarta tidak mengabaikan dampak asap kebakaran terhadap kesehatan masyarakat. Asap dari pembakaran sampah dinilai berpotensi mengandung zat berbahaya sehingga kualitas udara dan kondisi kesehatan warga di sekitar TPA perlu dipantau.
"Asap dari pembakaran sampah itu berbahaya. Jenis kimianya berbeda-beda dan asapnya bisa beracun," katanya. (atn)
Dia meminta Pemkot Surakarta melakukan pemantauan kualitas udara dan dampak kesehatan, terutama bagi warga yang tinggal di sekitar TPA maupun wilayah yang berada di jalur pergerakan asap. (atn)
Editor : Kabun Triyatno