RADARSOLO.COM – Payung tak sekadar menjadi benda pelindung dari hujan dan panas.
Di Festival Payung Indonesia (Fespin) Ke-13 di Taman Balekambang, Jumat-Minggu (4-6/9), payung menjadi medium diplomasi budaya dari berbagai daerah hingga mancanegara.
Fespin Ke-13 mengusung tema “Catra Padi, Sepayung Dewi Sri”. Tema ini mengangkat budaya pangan dan tradisi padi di Nusantara.
Direktur Festival Payung Indonesia Heru Mataya mengatakan, Fespin terus dikembangkan sebagai ruang diplomasi budaya.
Baik antardaerah maupun antarbangsa.
”Festival payung ini salah satu upaya alat diplomasi budaya. Tahun lalu baru Thailand yang ikut, tahun ini ada Jepang, India, Korea Selatan, dan Pakistan,” kata Heru, Jumat (4/9).
Baca Juga: Keraton Solo Gandeng Komisi Yudisial, Nilai Budaya Nusantara Dibawa ke Etika Peradilan
Festival ini diikuti peserta dari hampir 40 kota di Indonesia.
Sekira 20 persen berasal dari Solo Raya, sedangkan 80 persen lainnya dari berbagai daerah dan mancanegara.
Selama tiga hari, Fespin menghadirkan 167 pertunjukan seperti tari, musik, fashion, dan teater di tiga panggung.
Jumlah seniman dan artisan yang terlibat juga meningkat. Jika tahun lalu sekitar 2 ribu orang, tahun ini mencapai sekitar 3 ribu orang.
Heru menyebut Fespin telah dipersiapkan selama setahun.
Prosesnya diawali dengan peluncuran di Thailand dan dilanjutkan dengan mengajak komunitas serta seniman luar daerah dan mancanegara untuk berlatih selama enam bulan terakhir.
Payung tetap menjadi sajian utama. Lebih dari 5 ribu payung dipamerkan dalam berbagai kreasi, mulai rajut, sulam, hingga perca.
Pengunjung juga bisa melihat proses pembuatan karya melalui workshop para crafter.
”Pelestarian payung tradisi harus diikuti pengembangan modern. Jadi tradisinya tetap hidup, tetapi kreativitasnya juga berkembang,” ujarnya.
Baca Juga: Asap TPA Putri Cempo Masih Terlihat, 74 Warga Mojosongo Sudah Tinggalkan Pengungsian
Tema Catra Padi mengajak masyarakat melihat padi bukan sekadar bahan pangan, tetapi bagian dari sejarah, tradisi pertanian, hingga mitologi Dewi Sri yang berkembang di berbagai wilayah.
Kehadiran peserta dari luar daerah, menurut Heru, diharapkan memberikan dampak ekonomi bagi Solo.
Sektor perhotelan, transportasi, kuliner, dan UMKM diproyeksikan ikut mendapat efek berganda.
Namun, banyaknya peserta dan pengunjung menjadi tantangan dari sisi transportasi.
Panitia menyiapkan lebih banyak kantong parkir untuk mengantisipasi kepadatan kendaraan.
Berkaca pada tahun lalu yang menarik sekitar 32 ribu pengunjung, Heru berharap Fespin ke-13 mampu mendatangkan lebih banyak wisatawan sekaligus menjaga keberlangsungan perajin payung tradisi.
”Harapannya festival ini berdampak secara ekonomi sekaligus memberi manfaat bagi kelestarian payung tradisi kita. Payung tradisi kita bisa menjadi ikon pusaka Indonesia,” tandasnya. (alf/adi)
Editor : fery ardi susantoSumber : Radar Solo