
RADARSOLO.COM - Bahasa Jawa sempat menjadi tantangan tersendiri bagi para pemain muda Teater Jaten Batang. Mereka terbiasa tampil di atas panggung dan berperan menggunakan bahasa Indonesia, tetapi kini harus menghidupkan dialog-dialog dalam lakon "Lurung Kalabendu" karya Joko Bibit Santoso.
Kegagapan itu justru menjadi pengalaman tersendiri selama proses latihan. Sebab, sebagian pemain dan kru yang terlibat dalam produksi tersebut masih berstatus pelajar. Bahasa Jawa yang menjadi bahasa utama naskah tidak lagi seakrab bahasa Indonesia dalam keseharian mereka.
Sutradara pementasan "Lurung Kalabendu" Teater Jaten Batang, Nur Ayak Rozak mengatakan, persoalan tersebut menjadi salah satu alasan mengapa naskah yang ditulis pada 1996 itu masih menarik untuk kembali dipentaskan. Bukan hanya karena cerita yang dibawakan, tetapi juga karena ada kegelisahan tentang semakin jauhnya generasi muda dari bahasa ibunya.
“Anak-anak sekarang sudah enggak kenal bahasa Jawa. Anak-anak kecil sekarang, sampai desa pun, pakai bahasa Indonesia semua. Kalau dulu, anak-anak yang pakai bahasa Indonesia biasanya dari Jakarta atau kota besar yang pulang ke kampung. Sekarang hampir rata-rata semuanya bahasa Indonesia dan mereka enggak ngerti bahasa induk, bahasa ibu mereka,” ujar Ayak kepada Jawa Pos Radar Solo, Kamis (3/9/2026).
Baca Juga: Nasib Kepsek-Guru SD Pekalongan Usai Viral Video Mesum 21 Detik di Kursi Sekolahan: Jabatan Melayang
Menurutnya, perubahan tersebut tidak berhenti pada persoalan bahasa. Ada nilai dan cara pandang yang perlahan ikut bergeser. Dalam konteks itu, Lurung Kalabendu menjadi medium untuk membaca kembali persoalan yang hidup di tengah masyarakat.
Lakon tersebut mengangkat kehidupan wong cilik di sebuah lurung atau gang sempit. Di ruang itulah persoalan sehari-hari bertemu, mulai dari tekanan ekonomi, konflik keluarga, hingga kebiasaan berutang demi memenuhi keinginan yang sebenarnya tidak selalu mendesak.
Baca Juga: Pemain Asing Baru Persis Solo Waspadai Serangan Balik Persela di Laga Perdana Liga 2
Ayak menilai persoalan yang ditulis Joko Bibit Santoso hampir tiga dekade silam itu masih terasa dekat dengan kehidupan sekarang. Hedonisme dan gaya hidup konsumtif, menurutnya, masih menjadi persoalan ketika tidak diimbangi dengan kemampuan mengelola keuangan.
“Termasuk hedon, mengambil keputusan untuk misalnya utang, tetapi barang itu tidak begitu penting banget. Pada akhirnya itu merambah, berpengaruh ke perilaku mereka,” katanya.
Di atas panggung, kegelisahan tersebut hadir melalui kehidupan tokoh-tokoh di sebuah lurung. Ngabdul, seorang tukang becak, membuka cerita dengan adegan surealis ketika kegelisahan dan beban hidup membawanya ke perjumpaan imajiner dengan Buto Ijo.
Cerita kemudian bergerak pada kehidupan Santoso yang harus bergulat dengan tuntutan kebutuhan keluarga dan persoalan finansial. Jeratan utang, gaya hidup, serta persoalan gengsi perlahan mengikis hubungan antarmanusia. Lurung yang sempit pun menjadi gambaran kecil tentang zaman yang sedang kehilangan akal sehat.
Bagi Teater Jaten Batang, tantangan tidak hanya berada pada upaya menerjemahkan pesan naskah ke atas panggung. Para pemain juga harus berhadapan langsung dengan bahasa Jawa. Terlebih, naskah asli menggunakan dialek Solo.
Baca Juga: Taufiq Kasrun Jadi Nakhoda Baru Persika Karanganyar di Liga 3 2026/2027
Untuk pementasan kali ini, dialog kemudian diadaptasi ke dialek Batang. Meski demikian, tidak semua kata dan kalimat diubah. Beberapa bagian tetap menggunakan dialek asli karena tidak ditemukan ungkapan dalam bahasa Jawa dialek Batang yang mampu mewakili makna serupa.
“Teman-teman pertama gagap, artinya kesusahan karena mereka kebiasaan bahasa Indonesia, terus kesusahan pakai naskah Jawa. Sesungguhnya naskah ini dialeknya Solo. Tetapi untuk yang ini kita adaptasi ke dialek Batang, meskipun ada beberapa kata dan kalimat yang tidak semuanya kami ubah,” jelas Ayak.
Baca Juga: Hasil Akhir Arema FC vs Isenmulang Kalteng FC: Tim Debutan Dibantai di Laga Pembuka Liga 1 2026/2027
Proses menuju panggung pun membutuhkan penyesuaian waktu. Sebagian kru dan pemain masih duduk di bangku SMA. Mereka juga aktif dalam berbagai kegiatan sekolah, mulai dari ekstrakurikuler hingga organisasi, sehingga jadwal latihan harus menyesuaikan kesibukan masing-masing.
Pementasan di Solo menjadi pertunjukan keempat sekaligus penutup rangkaian perjalanan Lurung Kalabendu. Sebelumnya, Teater Jaten telah membawa lakon tersebut ke Batang dan Kudus, sebelum akhirnya kembali ke Solo, kota yang memiliki kedekatan tersendiri dengan Ayak dan sang penulis naskah.
Sebelum pementasan, Ayak juga mengajak para pemain muda berziarah ke makam Joko Bibit Santoso. Baginya, perjalanan itu bukan sekadar mengenang pencipta Lurung Kalabendu, melainkan upaya menyambungkan rasa generasi muda dengan jejak kesenian yang telah lebih dulu tumbuh.
“Tadi pagi kami ngajak teman-teman ziarah ke makamnya Mas Bibit. Jadinya menyambung silaturahmi, menyambung rasa teman-teman muda ini.”
Di tengah cerita tentang lurung, utang, dan manusia-manusia yang berusaha bertahan dari tekanan hidup, Ayak menyimpan harapan yang lebih sederhana. Ia tak ingin generasi muda kehilangan hubungan dengan bahasa dan akar budayanya sendiri. “Jangan lupakan bahasa Jawa. Wong Jowo ora njawani kan ya jadi bagaimana,” pungkasnya. (hj/nik)
Editor : Niko auglandy