Paku Buwono XIV Hangabehi Jalani Prosesi Adat, Diiringi Kembalinya Gamelan Kyai Arum dan Udan Asih

Antonius Christian • Dipublikasikan Sabtu, 5 September 2026 | 10:03 WIB
Paku Buwono XIV Hangabehi jalani prosesi adat di Kraton Kasunanan Surakarta, Sabtu (5/9/2026). (Arief Budiman/Radar Solo)
Paku Buwono XIV Hangabehi jalani prosesi adat di Kraton Kasunanan Surakarta, Sabtu (5/9/2026). (Arief Budiman/Radar Solo)

RADARSOLO.COM – Alunan gending mengiringi langkah Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan (SISKS) Paku Buwono XIV Hangabehi dalam rangkaian prosesi adat di Karaton Surakarta Hadiningrat, Sabtu (5/9). Rangkaian tersebut menjadi bagian penting untuk melengkapi bertakhtanya Paku Buwono XIV (Hangabehi) sebagai raja Karaton Surakarta Hadiningrat.

Prosesi yang bertepatan dengan 22 Maulud Tahun Jawa 1960 itu menjadi momentum istimewa. Tidak hanya karena menjadi bagian dari Dalem Jumenengan Paku Buwono XIV, tetapi juga ditandai dengan kembali dikeluarkannya perangkat gamelan Kyai Arum dan Udan Asih dari Bangsal Pradangga.

Rangkaian Dalem Jumenengan sebenarnya telah dimulai sejak Jumat (4/9). Pada sore hari, Karaton Surakarta menggelar ruwatan di kawasan Pagelaran. Prosesi kemudian berlanjut pada malam hari dengan gladi bersih atau kirab Bedhaya Ketawang.

Baca Juga: Dentuman Misterius Terdengar hingga Bandung, PVMBG Duga Berasal dari Erupsi Gunung Anak Krakatau

Memasuki prosesi utama pada Sabtu pagi, Paku Buwono XIV Hangabehi miyos dari kedhaton. Sinuhun kemudian dikirab dari lingkungan Karaton menuju Sitihinggil.

Kirab tersebut diikuti para kerabat, sentana, abdi dalem, serta perangkat upacara yang telah ditentukan dalam tata adat Karaton Surakarta.

Dari Sitihinggil, rangkaian berlanjut menuju Pagelaran Karaton. Di tempat tersebut, Paku Buwono XIV Hangabehi menjalani prosesi adat sekaligus mengucapkan sumpah sebagai salah satu tahapan penting untuk melengkapi bertakhtanya sebagai raja Karaton Surakarta Hadiningrat.

Baca Juga: Persib Bandung Pinjamkan Pemainnya ke PSGC Ciamis

Pengucapan sumpah tidak sekadar berkaitan dengan kedudukan sebagai raja. Lebih dari itu, prosesi tersebut menjadi simbol kesanggupan menjalankan amanah sekaligus menjaga tata adat dan warisan leluhur Karaton Surakarta.

Pengageng Sasana Wilapa sekaligus Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) Karaton Surakarta Hadiningrat, GKR Koes Moertiyah Wandansari atau Gusti Moeng, sebelumnya mengatakan seluruh rangkaian tersebut dilaksanakan sesuai tata adat Karaton untuk melengkapi bertakhtanya Paku Buwono XIV.

“Rangkaian acara dalam rangka melengkapi bertakhtanya Sinuwun Paku Buwono XIV akan dimulai sejak sore hari,” ujar Gusti Moeng.

Dalam prosesi adat Karaton Surakarta, jalannya upacara tidak menggunakan protokoler modern seperti pembawa acara atau master of ceremony (MC). Setiap tahapan justru dituntun melalui tata upacara dan gending yang dimainkan perangkat gamelan.

“Gending menjadi tuntunan utama yang memberikan tanda mengenai tahapan apa yang harus dilakukan setelah satu prosesi selesai,” jelas Gusti Moeng.

Karena itu, gamelan tidak hanya berfungsi sebagai musik pengiring. Alunan gending juga menjadi penanda perpindahan dari satu tahapan menuju tahapan berikutnya dalam seluruh rangkaian upacara.

Salah satu yang menarik perhatian dalam Dalem Jumenengan tahun ini adalah kembali dikeluarkannya gamelan Kyai Arum dan Udan Asih dari Bangsal Pradangga.

Menurut Gusti Moeng, kedua perangkat gamelan tersebut terakhir kali dikeluarkan pada masa pemerintahan Paku Buwono IX. Setelah sekian lama tidak digunakan dalam prosesi adat, Kyai Arum dan Udan Asih kembali hadir dalam momentum bertakhtanya Paku Buwono XIV.

Baca Juga: Rekap Pemain Baru Persik Kediri di Super League 2026/2027: 15 Pemain Baru Didatangkan, Aroma Spanyol Terasa

Kehadiran kedua gamelan itu menjadi penanda penting dalam rangkaian tahun ini. Selain memperkuat unsur kesenian dalam upacara adat, dikeluarkannya kembali Kyai Arum dan Udan Asih juga menjadi pengingat terhadap panjangnya sejarah dan kesinambungan tradisi Karaton Surakarta.

Dalam tata upacara Karaton, gamelan memiliki kedudukan lebih dari sekadar perangkat musik. Gending yang dimainkan merupakan bagian dari sistem penanda jalannya prosesi. Setiap alunan memiliki fungsi dalam mengarahkan tahapan-tahapan upacara.

Rangkaian juga diisi dengan wilujengan atau doa bersama yang diikuti para Konco Haji dan dipimpin Abdi Dalem Buru Suranoto. Peserta wilujengan terdiri atas sentana dan abdi dalem yang telah menunaikan ibadah haji maupun umrah.

Baca Juga: Usia Produktif Jangan Selamanya Terima Bansos, Cak Imin Dorong Program Pemberdayaan

Para Bupati Nayaka turut hadir dengan mengenakan dodot sebagai bagian dari ketentuan busana adat. Bupati Nayaka merupakan para pemimpin atau ketua pokokso yang berada di kabupaten-kabupaten tempat struktur paguyuban Kawula Karaton Surakarta atau PAKASA berada.

Seluruh rangkaian Dalem Jumenengan Paku Buwono XIV dilaksanakan dengan berpedoman pada tata adat Karaton Surakarta Hadiningrat. Mulai dari ruwatan, gladi bersih dan kirab Bedhaya Ketawang, miyos Sinuhun, kirab menuju Sitihinggil, hingga prosesi sumpah di Pagelaran.

Kembalinya gamelan Kyai Arum dan Udan Asih menjadi salah satu penanda penting dalam momentum tersebut. Setelah lama tersimpan dan tidak dikeluarkan dalam prosesi adat, dua perangkat gamelan peninggalan masa Paku Buwono IX itu kembali mengiringi salah satu peristiwa penting dalam perjalanan sejarah Karaton Surakarta Hadiningrat. (atn/nik)

Editor : Niko auglandy
Hangabehi Paku Buwono keraton kasunanan surakarta