RADARSOLO.COM - Koridor Gatot Subroto (Gatsu) tak sekadar menjadi ruang lalu-lalang warga. Jumat (11/9/2026) malam, salah satu sudutnya menjelma menjadi ruang perjumpaan seni. Kanvas, karya, pertunjukan, hingga percakapan hadir berdampingan dengan aktivitas masyarakat dalam gelaran bertajuk Tumbuh Meliar.
Berlangsung di Titik Tumbuh “SIS”, Plaza Timur Koridor Gatsu, kegiatan tersebut mengusung tema “Perempuan”. Pameran dirangkai dengan teater, musik, diskusi, hingga aksi merespons karya dan kanvas bersama.
Tak ada batas tegas antara ruang pertunjukan dan ruang masyarakat. Warga yang melintas dapat berhenti, melihat karya, menyaksikan pertunjukan, bahkan ikut terlibat dalam proses berkesenian.
Baca Juga: Perkiraan Pemain Persela Lamongan vs Persis Solo: Pemain Pinjaman Persija Jakarta Jakarta Siap Unjuk Gigi
Konsep tersebut bukan sekadar pilihan lokasi bagi Tumbuh Artspace. Ada kegelisahan yang ingin dijawab, yakni bagaimana membuat seni rupa lebih dekat dengan masyarakat sekaligus ikut menghidupkan ekosistem seni di Kota Solo.
Karya pun tidak ditempatkan di ruang yang hanya dikunjungi kalangan tertentu. Sebaliknya, seni dibawa langsung ke tempat masyarakat beraktivitas.
Perwakilan Tumbuh Artspace, Evander Mathew Manurung alias Boteng, mengatakan ekosistem seni rupa di Solo masih memiliki ruang untuk berkembang. Karena itu, pihaknya mencoba menghadirkan instrumen seni secara langsung di tengah masyarakat agar interaksi dengan karya menjadi lebih luas.
“Kalau melihat ekosistem seni rupa di Solo, rasanya belum semegah kota-kota lain seperti Yogyakarta atau Jakarta. Karena itu, kami mencoba membawa instrumen seni ke ruang publik supaya masyarakat umum, penikmat seni, maupun jurnalis bisa berinteraksi langsung dengan karya,” ujar Boteng kepada Jawa Pos Radar Solo di sela-sela acara.
Baca Juga: Jadwal MotoGP San Marino 2026 Hari Ini: Cek Jadwal Balapan Marc Marquez dan Veda Ega, Mulai Jam Berapa?
Menurut Boteng, pemilihan ruang publik juga menjadi cara Tumbuh Artspace menguji gagasan bahwa kesenian bukan milik segelintir orang. Kanvas yang dibuka untuk publik memungkinkan siapa pun memberikan respons tanpa harus memiliki latar belakang seni.
“Kami punya prinsip bahwa kesenian ialah milik rakyat. Jadi, kami ingin seni itu bisa bertemu langsung dengan masyarakat. Bukan hanya orang yang datang ke galeri atau memang sudah punya ketertarikan terhadap seni,” terangnya.
Melalui konsep tersebut, masyarakat tidak hanya datang sebagai penonton. Mereka diberi ruang untuk menjadi bagian dari proses penciptaan dan merespons karya dengan cara masing-masing.
Tema perempuan menjadi pemantik dalam gelaran kali ini. Gagasan tersebut datang dari Luxfiesta yang sebelumnya menggelar pameran bertajuk Woman di Kedai Tumbuh.
Bagi Tumbuh Artspace, isu perempuan memiliki cakupan luas dan penting untuk terus dibicarakan. Terlebih, pembahasan tersebut dapat dibuka melalui perspektif perempuan maupun pengalaman yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Bagi pengunjung, berada di ruang terbuka juga menghadirkan pengalaman berbeda dibandingkan menikmati seni di ruang formal. Alifia Hesti menilai konsep tersebut memberikan keleluasaan bagi siapa pun untuk berekspresi.
“Di sini lebih bebas untuk berekspresi. Kita bisa menuangkan apa yang ada di pikiran tanpa terlalu takut karya kita dinilai seperti apa. Rasanya tidak ada sekat yang membuat kita harus mengikuti standar tertentu,” kata Alifia.
Ayu Dwi Palupi dan Prabasari Ridha Saputri juga menilai Koridor Gatsu merupakan lokasi strategis untuk menghadirkan kegiatan semacam itu. Selain mudah dijangkau, masyarakat tidak perlu mengeluarkan biaya untuk sekadar datang menikmati kegiatan.
Kondisi tersebut membuat seni terasa lebih terbuka. Siapa pun bisa berhenti, melihat karya, menikmati pertunjukan, kemudian ikut berinteraksi.
Menurut keduanya, ruang semacam itu layak terus dihidupkan. Kegiatan seni di ruang publik bukan hanya mempertemukan seniman dengan penonton, tetapi juga berpotensi mempertemukan berbagai komunitas.
Mereka berharap agenda serupa dapat digelar secara rutin dan membuka kesempatan kolaborasi lebih luas, termasuk melibatkan anak-anak magang Solo-Solo.
Tumbuh Artspace pun tidak ingin berhenti di Koridor Gatsu. Boteng mengungkapkan, pihaknya tengah menyiapkan konsep pameran keliling atau road trip dengan rute Solo hingga Tangerang.
Perjalanan tersebut diarahkan untuk membawa kesenian ke ruang-ruang publik lain sekaligus mengajak komunitas lokal ikut terlibat.
“Harapannya nanti kami bisa road trip dari Solo sampai Tangerang menggunakan Vespa ekstrem. Kami ingin mampir ke ruang-ruang publik dan mengajak komunitas lokal untuk ikut berkesenian. Jadi, kesenian ini tidak hanya tumbuh di satu tempat, tetapi bisa tumbuh di mana saja,” pungkas Boteng.(hj/nik)