RADARSOLO.COM - Kebiasaan wedangan bukan sekadar tempat menikmati sajian teh panas maupun gorengan bagi masyarakat Kota Solo.
Lebih dari itu, warung angkringan kerap bertransformasi menjadi ruang diskusi publik yang melahirkan gagasan pembangunan wilayah.
Suasana hangat itu dihidupkan oleh Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani saat menyambangi kawasan RW 03 Kelurahan Gajahan, Kecamatan Pasar Kliwon, dalam agenda bertajuk Mampir Ngombe, Selasa (8/9/2026).
Tanpa sekat formalitas, Astrid duduk melingkar bersama warga menyerap ragam keluhan, usulan, dan ide kedaerahan.
“Kalau di Solo itu setiap kampung punya HIK atau wedangan, angkringan. Tempat warga bisa ngobrol, berkeluh kesah. Rasan-rasan positif untuk kemajuan kota,” ujar Astrid Widayani.
Usai menyerap aspirasi di meja wedangan, Astrid diajak meninjau deretan inovasi swadaya warga. Salah satu yang mencuri perhatian adalah sistem penanganan sampah organik di RT 02 RW 03.
Selain memilah sampah anorganik seperti plastik dan kardus, warga memanfaatkan 40 ekor mentok sebagai pengurai sisa makanan rumah tangga guna memangkas volume sampah harian.
“Daripada sisa makanan tidak dimanfaatkan, teman-teman berinisiatif membeli mentok. Ternyata mentok ini mengurangi secara signifikan sampah organik dari sisa makanan,” terang Lurah Gajahan Aditya Budi Kuswanto.
Menanggapi inovasi tersebut, Astrid menilai inisiatif warga Gajahan menjadi cerminan nyata pemangkasan debit sampah dari level basis, melengkapi skema penanganan Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) yang disiapkan Pemkot Solo.
“Kita juga harus mengurangi debit sampah. Jadi apa yang dilakukan warga Gajahan merupakan contoh nyata pengelolaan sampah dari tingkat paling bawah,” tanggap Astrid.
Selain pengolahan sampah, pemanfaatan lahan kosong di RT 01 RW 03 disulap warga menjadi area produktif.
Lahan tersebut kini dimanfaatkan untuk kebun singkong, budidaya perikanan lele, hingga peternakan lebah madu.
Dalam kesempatan itu, sosok yang akrab disapa Mbak Wawali tersebut memberanikan diri memanjat tangga untuk memanen rumah lebah madu secara langsung di tengah kerumunan tawon.
Baca Juga: Dengar Curhatan Warga, Astrid Widayani dan Kelurahan Gilingan Salurkan Bantuan Usaha
“Di Solo ada panen madu, lebah yang bisa memanfaatkan ruang-ruang terbatas," kata Astrid.
Menurutnya, potensi budidaya madu serta ragam produk olahan UMKM lokal seperti kreasi daun kelor dan telur asin berpeluang besar dipasarkan secara luas melalui wadah paguyuban warga.
Pada sesi dialog, warga turut menyampaikan aspirasi terkait pemanfaatan lahan parkir Dalem Djoyokusuman.
Warga berharap area tersebut dapat diakses untuk kegiatan latihan kesenian dan promosi produk UMKM saat tidak dipakai agenda acara publik.
“Masukannya bagus. Nanti mau saya langsung eksekusi sama dinas terkait,” tegas Astrid.
Melalui pendekatan dialogis di meja wedangan, program Mampir Ngombe diharapkan terus menjadi jembatan komunikasi langsung antara jajaran Pemkot Surakarta dan warga masyarakat.
“Mampir Ngombe, hidup hanya sekali. Yang terpenting, waktu yang ada digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat bagi warga dan kemajuan Kota Solo,” pangkas Astrid. (ves)
Editor : Tri Wahyu CahyonoSumber : Radarsolo.jawapos.com