RADARSOLO.COM - Panggung Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah tidak dipenuhi musik dalam pengertian yang lazim, Jumat (18/9/2026) malam. Bunyi-bunyi datang dari berbagai arah. Suara manusia, gesekan benda, instrumen, hingga rekaman vokalisasi makhluk hidup bertemu dan membentuk lanskap akustik yang perlahan membawa penonton keluar dari kebiasaan mendengar.
Itulah yang ditawarkan Atavis, pertunjukan sekaligus proyek seni bunyi karya komponis asal Amerika Serikat, Sean Hayward. Bersama Denok, Dolly Nofer, dan Talitha Neysa, Sean menghadirkan hasil eksplorasi bunyi yang berangkat dari penelitian bioakustik di sejumlah kawasan di Pulau Jawa.
Atavis tidak sekadar menggunakan suara alam sebagai ornamen pertunjukan. Suara makhluk hidup menjadi bagian dari materi komposisi. Rekaman lapangan dipertemukan dengan vokal, gitar bariton, saluang, suling, perkusi, serta benda-benda sederhana seperti batu, daun, dan beras.
Gagasan tersebut berangkat dari ketertarikan Sean terhadap soundscape ecology. Selama ini, menurut dia, pembicaraan mengenai lingkungan suara kerap berpusat pada dampaknya terhadap manusia. Padahal, kebisingan juga dapat memengaruhi makhluk hidup lain yang bergantung pada suara untuk menjalani kehidupannya.
“Selalu memikirkan manusia. Terus orang-orang hampir sama sekali tidak mengakui bahwa suara itu ada dampak yang sangat besar pada makhluk hidup yang lain,” ujar Sean kepada Jawa Pos Radar Solo usai pertunjukan dan diskusi.
Salah satu sumber suara yang dibawa ke dalam Atavis berasal dari kawasan Menoreh. Bersama tim biolog, Sean melakukan perekaman vokalisasi burung Sulingan. Burung yang menjadi bagian dari penelitian tersebut memiliki posisi penting dalam proses penciptaan karena keberadaannya semakin sulit ditemukan.
Namun, merekam suara satwa liar bukan perkara sederhana. Kehadiran manusia justru dapat membuat burung berhenti bersuara. Karena itu, tim menggunakan metode passive acoustic monitoring. Alat perekam dipasang di pohon, kemudian ditinggalkan selama beberapa waktu.
“Begitu saya mau merekam suara burung, saya datang sana, dia diam, karena saya ada di sana. Jadi salah satu solusi adalah passive acoustic monitoring, di mana kami datang, kami pasang alat merekam, lalu kami tinggal,” tutur Sean.
Baca Juga: Debut di Asian Games 2026, Pebulutangkis Asal Solo Siap Berikan yang Terbaik untuk Indonesia
Perekaman dilakukan sejak sekira pukul 04.00 hingga 18.00, mengikuti rentang aktivitas suara dari sebelum dawn chorus hingga setelah evening chorus. Perangkat kemudian diambil secara berkala untuk mengganti kartu memori dan baterai.
Hasilnya berupa data suara dalam jumlah besar. Tidak mungkin seluruh rekaman tersebut didengarkan satu per satu. Di sinilah spektrogram menjadi bagian penting dalam proses kreatif Atavis.
Representasi visual suara membantu Sean menemukan bagian tertentu dari rekaman berdasarkan waktu dan frekuensi. Suara burung yang dicari dapat dipisahkan dari kepadatan suara serangga maupun bunyi lain yang terekam di hutan.
“Kalau mau meneliti satu jam suara, lewat telinga kamu butuh satu jam. Lewat mata mungkin hanya butuh lima menit. Saya bisa scrolling, mencari suaranya, tahu gambar suara burung yang saya cari seperti apa, frekuensinya kira-kira berapa,” jelasnya.
Berjam-jam menelusuri spektrogram tersebut kemudian ikut memengaruhi bentuk Atavis. Sean tidak mengambil suara alam untuk dipaksa mengikuti komposisi yang telah selesai. Sebaliknya, karakter suara yang ditemukan menjadi bahan yang harus direspons para pemain.
“Saya biarkan, dia bunyi sesuka dia. Kami yang harus berubah, kami yang harus adaptasi dan improvisasi. Bukan dia,” katanya.
Prinsip tersebut membuat setiap instrumen memiliki hubungan dengan sumber bunyi yang berbeda. Gitar bariton digunakan karena memiliki rentang nada yang luas. Sementara saluang dipilih karena karakter glissando-nya dinilai memiliki kedekatan dengan pola suara sejumlah hewan.
“Kalau saluang itu sangat menarik. Saya selalu suka secara tradisi, satu, sistem tuning-nya sangat menarik dan dia punya banyak sekali glissando dalam range yang sangat mepet.”
“Untuk menggabungkan dengan suara orca atau suara musang, itu sangat cocok karena pola mainnya sudah cukup mirip,” ujarnya.
Selain instrumen, benda-benda yang hadir di panggung juga memiliki fungsi tersendiri. Batu digunakan untuk menghadirkan unsur geofoni. Daun dan beras dimainkan bukan sekadar sebagai simbol benda tersebut, melainkan untuk membentuk tekstur bunyi yang menyerupai suara alam seperti angin dan air.
Suara-suara itu kemudian diproses secara langsung melalui perangkat elektronik. Mikrofon para pemain masuk ke laptop Sean dan diolah dengan delay, reverb, hingga berbagai bentuk distorsi.
Pada bagian tertentu, tempo para pemain bahkan tidak langsung disamakan.
“Delay-nya kadang tersinkronisasi, kadang setiap orang punya delay sendiri, punya tempo sendiri. Sinkronisasi mulai pas kita masuk ke bab tiga, di mana manusia mengembangkan kemampuan untuk sinkronisasi dan ritme,” jelasnya.
Semakin menuju bagian akhir, pengolahan bunyi menjadi lebih padat dan kasar. Sean menggunakan bit crusher, distorsi, overdrive, dan delay. Di tengah proses itu, ia juga harus terus mengendalikan frekuensi yang berpotensi menghasilkan feedback.
“Dengan delay sebesar itu, feedback sudah otomatis. Jadi saya sebenarnya memotong-motong frekuensi sambil main. Begitu ada sesuatu mulai feedback, saya harus potongin. Saya mencari terus, memburu frekuensi yang mengganggu,” katanya.
Kepadatan suara tersebut sekaligus menjadi bagian dari kegelisahan yang dibawa Atavis. Sean melihat manusia tidak hanya menghasilkan suara melalui pertunjukan, tetapi juga melalui kendaraan, pembangunan, industri, dan berbagai aktivitas yang berlangsung terus-menerus.
Gangguan yang berulang itulah yang menurutnya memiliki konsekuensi lebih panjang bagi lingkungan.
“Acara musik itu terjadi, lalu selesai. Kami masuk, kami berisik, lalu kami keluar. Yang paling parah dan paling destruktif adalah suara yang terus-terusan,” ungkap Sean.
Karena itu, Sean tidak ingin menutup Atavis dengan pesan konservasi yang memberi rasa aman kepada penonton. Ia justru memilih menyisakan kegelisahan.
Menurut dia, manusia terlalu sering bergerak semakin cepat tanpa benar-benar berhenti memperhatikan akibat yang ditimbulkan.
“Kenapa pesimis? Karena kita tidak berubah. Kita hanya makin cepat. Makin mempercepat dalam perusakan,” ujarnya.
Di tengah nada pesimistis tersebut, Sean sebenarnya masih menyisakan satu harapan. Bukan berupa janji bahwa kerusakan lingkungan mudah diperbaiki, melainkan sesuatu yang jauh lebih sederhana: manusia mau memperhatikan kembali suara di sekitarnya.
“Harapan saya cukup simpel. Dengarkanlah. Itu saja. Aku berharap orang bakal memperhatikan,” terang Sean.
Bagi Sean, mendengar menjadi pintu pertama untuk menumbuhkan kepedulian. Ia menceritakan Suparno, pemandu tim biologinya di Menoreh yang sebelumnya merupakan pemburu burung.
Perubahan hidup Suparno bukan bermula dari kampanye konservasi. Melainkan dari pengalaman sederhana ketika suatu hari ia menyadari suara burung yang dahulu biasa didengarnya sudah tidak ada.
“Dia bangun satu hari dan sadar, dia nggak dengar suara burung. Itu aja,” tutur Sean.
Dari situlah Atavis menemukan maknanya. Pertunjukan tersebut tidak berusaha memberikan jawaban atas persoalan ekologis yang kompleks. Ia hanya mengajak penonton berhenti sejenak dan mendengar.
Sebab sebelum manusia berbicara tentang menyelamatkan lingkungan, mungkin ada satu hal yang lebih mendasar: menyadari suara apa saja yang masih ada di sekitar, dan suara mana yang perlahan mulai hilang. (hj/nik)
Editor : Niko auglandy