RADARSOLO.COM - Gelak tawa dan keseruan pecah saat sejumlah peserta mencoba kembali permainan jadul di CFD Slamet Riyadi, Minggu (20/9).
Engklek, egrang, gobak sodor hingga lompat tali dimainkan bukan hanya untuk bernostalgia, tetapi juga melatih fisik dan motorik para peserta.
Kegiatan tersebut digelar mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG) Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) Universitas Sebelas Maret (UNS) melalui proyek kepemimpinan dengan tema edukasi permainan tradisional.
Mahasiswa PPG PJOK UNS Miftahul Huda mengatakan, terdapat sejumlah permainan yang dikenalkan, mulai dari engklek, estafet balok, egrang, gobak sodor, hingga lompat tali.
Permainan tersebut dipilih karena memiliki unsur aktivitas fisik yang dapat melatih berbagai kemampuan tubuh.
Baca Juga: Solo Krisis Guru Pendidikan Luar Biasa, Sekolah Inklusi Bakal Diklaster
“Tujuannya untuk melatih motorik kita, kelincahan, kekuatan otot tangan dan kaki serta keseimbangan,” ujarnya.
Menurutnya, aktivitas untuk menjaga kebugaran tidak harus selalu dilakukan melalui olahraga umum.
Permainan tradisional yang terlihat sederhana juga dapat menjadi pilihan yang mudah dilakukan dimana saja.
“Ke depannya saya berharap kita bisa melatih jasmani tidak hanya lewat olahraga umum seperti senam dan lain-lain, tapi lewat permainan tradisional juga bisa dilakukan dengan mudah di rumah,” katanya.
Dia mencontohkan engklek, gobak sodor, hingga lompat tali yang dapat dimainkan di halaman rumah masing-masing.
Di sisi lain, kegiatan tersebut juga menjadi upaya menjaga permainan tradisional agar tetap dikenal generasi muda.
“Permainan ini kan juga salah satu warisan yang perlu kita lestarikan, supaya enggak kalah dengan permainan modern,” imbuhnya.
Salah seorang peserta, Berliana Tisya, 21, mengaku baru pertama kali mencoba permainan tradisional tersebut.
Sejak kecil, dia lebih sering memainkan permainan lain dan belum pernah merasakan langsung permainan tradisional.
“Dari kecil saya belum pernah mainan ini, lebih seringnya main masak-masakan. Ini baru pertama kali dan ternyata seru banget, baru bisa ikut merasakan permainan tradisional,” tuturnya.
Baca Juga: Goara-Goara Karya Dosen UTP Solo, Nguri-uri Permainan Tradisional Dengan Sentuhan Teknologi
Berliana sempat mengira permainan tersebut mudah dilakukan. Namun, setelah mencobanya langsung, dia justru kesulitan.
“Kukira mudah tapi setelah nyoba ternyata sulit juga,” katanya.
Menurut Berliana, kegiatan serupa patut dikembangkan dengan menambah jenis permainan tradisional lainnya.
Selain menjadi aktivitas fisik, permainan tersebut dinilai dapat menjadi sarana edukasi bagi masyarakat di tengah semakin dekatnya generasi muda dengan gadget.
“Bagus kegiatan seperti ini, mungkin ke depannya bisa ditambah lagi permainannya, supaya jadi edukasi juga buat masyarakat karena sekarang kan kebanyakan mainnya gadget,” ujarnya. (alf/bun)
Editor : fery ardi susantoSumber : Radar Solo