Ada Cerita Panjang Di Balik Karya Juara Mahasiswa ISI Surakarta: Tak Sekadar Piala, Prosesnya Begitu Panjang

Hernindya Jalu Aditya Mahardika • Dipublikasikan Jumat, 25 September 2026 | 19:13 WIB
PENUH PENGHAYATAN: Salah satu pementasan yang dibuat oleh mahasiswa ISI Surakarta dalam Expo Seni 2026 ISI Surakarta di Pendapa GPH Joyokusumo dan Teater Besar ISI Surakarta, belum lama ini. (HERNINYA JALU/RADAR SOLO)
PENUH PENGHAYATAN: Salah satu pementasan yang dibuat oleh mahasiswa ISI Surakarta dalam Expo Seni 2026 ISI Surakarta di Pendapa GPH Joyokusumo dan Teater Besar ISI Surakarta, belum lama ini. (HERNINYA JALU/RADAR SOLO)

RADARSOLO.COM - Piala dan penghargaan menjadi bagian yang paling mudah terlihat dari sebuah prestasi. Namun, sebelum nama seorang mahasiswa tercatat sebagai juara, ada proses panjang yang kerap luput dari perhatian: latihan berulang, karya yang harus direvisi, kegagalan, hingga keberanian untuk kembali mencoba.

Cerita tentang proses tersebut menjadi salah satu napas dalam Expo Seni 2026 ISI Surakarta. Digelar di Pendapa GPH Joyokusumo dan Teater Besar ISI Surakarta pada 23–24 September, perhelatan itu mempertemukan karya serta pentas mahasiswa yang sebelumnya menorehkan prestasi di berbagai ajang.

Karya-karya tersebut tidak hanya hadir sebagai hasil akhir sebuah kompetisi. Di baliknya terdapat perjalanan mahasiswa dalam mengasah kemampuan, mencari bentuk terbaik, menerima masukan, kemudian kembali mengerjakan bagian yang belum sesuai harapan.

Baca Juga: Kelompok Kerja Teater Akar Pementasan Teater Musikal "Balada Dari Timur": Angkat Suara Mereka yang D

Hal itu yang ingin ditunjukkan melalui Expo Seni 2026. Ajang tersebut menjadi ruang untuk memperkenalkan karya para mahasiswa kepada publik sekaligus memperlihatkan bahwa sebuah prestasi tidak lahir secara instan.

Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Kerja Sama, dan Hubungan Masyarakat ISI Surakarta, Dr. Drs. Zulkarnain Mistortoify, M.Hum., mengatakan, pencapaian mahasiswa selama ini lebih mudah dikenali dari hasil akhirnya. Padahal, proses panjang sebelum memperoleh penghargaan justru menjadi bagian penting dari perjalanan mereka.

“Sering kali kita hanya mengetahui hasil akhirnya, juara satu, juara dua, atau mendapat penghargaan. Tetapi kita tidak selalu melihat cerita panjang di belakangnya. Ada latihan yang berulang, ada kegagalan, ada revisi, ada rasa lelah dan kecewa, tetapi juga ada keberanian untuk mencoba lagi,” ujar Zulkarnain dalam sambutannya membuka acara, Rabu (23/9/2026).

Baca Juga: Sanggar Seni Kemasan Gelar Pementasan “Ngloroh”: Hidupkan Kembali Jejak Perjuangan Raden Mas Said

Oleh sebab itu, karya yang dipamerkan tidak semata-mata diposisikan sebagai pajangan dari sebuah kemenangan. Expo menjadi kesempatan untuk melihat kembali perjalanan karya sekaligus mempertemukannya dengan masyarakat di luar lingkungan akademik.

Ragam sajian yang ditampilkan pun tidak terbatas pada karya visual. Berdasarkan keterangan panitia, Expo Seni 2026 turut menghadirkan screening film, tari, karawitan, pedalangan, monolog, baca puisi, vokal grup, pencak silat, hingga display produk unggulan Program Mahasiswa Wirausaha (PMW).

Panggung teater menjadi salah satu ruang yang memperlihatkan bagaimana karya seni terus menemukan bentuknya. Salah satunya melalui pementasan monolog Mbah Sumirah oleh Teater Jejak pada Kamis (24/9) malam di Teater Besar ISI Surakarta.

Pementasan tersebut merupakan adaptasi naskah Balada Sumirah karya Tentrem Lestari. Dalam pementasan tersebut, Aulia Putri didapuk menjadi pemeran, dengan Arif Muhayanto sebagai sutradara.  Kehadiran pertunjukan semacam itu membuat expo tidak berhenti pada karya yang dipajang, tetapi juga menghadirkan seni dalam bentuk yang berlangsung di hadapan penonton.

Di sisi lain, karya yang telah meraih penghargaan juga diharapkan tidak berhenti ketika kompetisi berakhir. Bagi ISI Surakarta, capaian tersebut dapat menjadi pijakan mahasiswa untuk mengembangkan karya berikutnya sekaligus membangun portofolio yang terus bertumbuh.

Zulkarnain menilai, keberhasilan mahasiswa semestinya tidak berhenti pada piala atau medali. Prestasi justru perlu menjadi titik awal agar mahasiswa semakin berani mengembangkan kemampuan dan menghasilkan karya baru.

“Prestasi itu bukan berhenti pada piala atau medali. Kami berharap karya yang sudah berprestasi ini menjadi titik awal untuk tumbuh lebih jauh dan menginspirasi teman-teman mahasiswa lain, bahkan para calon mahasiswa baru,” terangnya.

Expo Seni 2026 sendiri digelar dalam rangkaian Dies Natalis ke-62 ISI Surakarta. Namun, momentum tersebut lebih banyak dimanfaatkan untuk mempertemukan karya mahasiswa dengan publik sekaligus memberi ruang pengalaman bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk melihat proses dan capaian seni secara lebih dekat.

Pada akhirnya, penghargaan hanyalah satu bagian dari perjalanan. Setelah tepuk tangan mereda dan piala kembali diletakkan di rak, mahasiswa tetap berhadapan dengan proses penciptaan berikutnya. Pesan yang disampaikan Zulkarnain pun sederhana: “Jangan berhenti berkarya setelah menjadi juara.”. (hj/nik)

 

Editor : Niko auglandy
pementasan ISI