RADARSOLO.COM - Kelurahan Jagalan di Kecamatan Jebres, Kota Solo, dikenal luas sebagai salah satu kawasan pusat industri olahan abon sapi, rambak kulit sapi.
Potensi ekonomi wilayah yang memiliki Rumah Pemotongan Hewan (RPH) ini tak sebatas pada penganan khas, melainkan merambah ke produk minuman herbal hingga kerajinan daur ulang limbah masyarakat.
Potensi serta dinamika usaha warga tersebut ditinjau langsung oleh Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani saat menggelar giat Mampir Ngombe di Kelurahan Jagalan, Jebres, Rabu (23/9/2026).
“Jagalan salah satu wilayah di Kota Solo yang terkenal dengan produksi abon dan juga makanan yang enak. Ini menjadi kebanggaan saya untuk mampir ke sini,” ujar Astrid Widayani.
Dalam kunjungannya, Astrid melihat langsung proses pengolahan abon sapi di sentra usaha Abon Sapi Ksatria di Jalan Kali Kuantan, Jagalan.
Berbincang langsung dengan pemilik usaha guna menyerap tantangan pengembangan usaha lintas generasi.
“Kami produksi sudah sejak 2001, dibantu 8 pegawai yang ada di sini. Prosesnya dari proses perebusan, dipresto, pencacahan, dan lain sebagainya. Dulu masih tradisional, sekarang sudah pakai mesin. Sehari bisa 100-150 kilo produksi abon dalam sehari,” terang pemilik Abon Sapi Ksatria, Tri Rahayu.
Eksistensi usaha olahan daging sapi di Jagalan berakar kuat dari keberadaan RPH setempat sejak era Keraton Solo.
Daging sapi diolah warga menjadi abon dan dendeng, sementara bagian kulit diolah menjadi bahan baku rambak.
“Ini sangat menginspirasi sekali. Dari usaha rumahan, bisa menambah penghasilan keluarga, menghadirkan kesempatan kerja untuk masyarakat, dan sekarang bisa sampai ke seluruh penjuru Indonesia,” apresiasi Astrid.
Kendala Bahan Baku dan Ruang Produksi Daur Ulang
Kendati permintaan pasar terbilang tinggi, para pelaku usaha rambak kulit sapi mengaku terkendala pasokan bahan baku.
Salah seorang perajin rambak, Budi, membeberkan bahwa pasokan kulit sapi jantan lokal kini makin sulit diperoleh akibat maraknya sapi impor.
“Di Jagalan itu dulu basic-nya memang para tukang jagal yang sudah ada sejak era PB X. Nah kami-kami ini yang tinggal meneruskan," jelas Budi.
"Cuma akhir-akhir ini, khususnya kami yang usaha rambak ini cukup terkendala karena sekarang ini banyaknya sapi impor, padahal yang bisa kami pakai itu selama ini itu yang jantan dan sapi lokal. Nah ini agak terkendala karena harga sapi lokal lebih mahal padahal pangsa pasar kami masih tinggi,” imbuhnya.
Baca Juga: Dengar Curhatan Warga, Astrid Widayani dan Kelurahan Gilingan Salurkan Bantuan Usaha
Usai memantau industri kuliner abon dan rambak, Astrid bergeser menuju lokasi Omah Jahe Klangenan.
Di tempat tersebut, perempuan yang akrab disapa Mbak Wawali ini berkesempatan mempraktikkan cara meracik minuman herbal wedang jahe yang terdiri dari paduan jahe, kunir, kayu secang, kayu manis, ketumbar, lada hitam, kapulaga, dan madu.
“Semuanya herbal dan aman dikonsumsi, jadi ini juga bisa mempopulerkan produk minuman herbal,” jelas Astrid.
Selain industri pangan, warga Jagalan turut mengembangkan kerajinan daur ulang limbah plastik bekas menjadi benang rajut, tatakan gelas, tas, map, hingga sampul buku.
Produk ramah lingkungan hasil karya warga ini bahkan pernah memikat daya tarik wisatawan asing asal Swiss, Jerman, dan Jepang.
Baca Juga: Wawali Astrid Dorong SKO Solo Cetak Atlet Berkarakter, Tak Hanya Berprestasi
Meski demikian, perajin daur ulang, Asih, mengungkapkan bahwa kendala utama saat ini berada pada keterbatasan kapasitas ruang workshop serta tempat penyimpanan dan pemrosesan pemilahan sampah plastik.
“Sebetulnya tidak sengaja menjadi pelaku usaha, awalnya dari proses memilah sampah sampai jadi kerajinan tas rajut dan sebagainya dengan benang dari plastik bekas yang sudah saya untai. Sebagai pendaur ulang kami sangat antusias dengan program bank sampah dari pemerintah,” kata Asih.
Menanggapi berbagai persoalan tersebut, Astrid mendorong penguatan jejaring komunitas UMKM serta pengintegrasian program bank sampah pemerintah agar para perajin mudah mengakses pelatihan, pameran, serta bantuan pendampingan.
“Kalau masuk komunitas, jaringannya lebih luas. Bisa mendapatkan informasi pelatihan, program, bahkan mungkin diajak pameran," pungkas Astrid sembari memastikan bahwa seluruh masukan warga akan ditindaklanjuti oleh perangkat daerah terkait. (ves)
Editor : Tri Wahyu CahyonoSumber : Radarsolo.jawapos.com