Terancam Disterilkan, DPRD Minta Pemkot Berembug dengan 56 Jukir Masjid Zayed

Antonius Christian • Dipublikasikan Rabu, 30 September 2026 | 16:09 WIB
Komisi II DPRD Kota Solo sidak ke Jalan Mentawai 1, Gilingan, Rabu (30/9/2026). (A Christian/Radar Solo)
Komisi II DPRD Kota Solo sidak ke Jalan Mentawai 1, Gilingan, Rabu (30/9/2026). (A Christian/Radar Solo)

RADARSOLO.COM — Polemik rencana sterilisasi parkir di sisi timur Masjid Raya Sheikh Zayed Solo mulai melibatkan DPRD Kota Solo. Komisi III melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke Jalan Mentawai 1, Gilingan, Rabu (30/9), dan meminta Pemkot Solo kembali merembukkan kebijakan tersebut bersama warga terdampak.

Sidak dilakukan setelah warga RW 13 Gilingan menolak rencana sterilisasi yang sebelumnya dijadwalkan pada 29 September. Sebanyak 56 juru parkir yang tergabung dalam paguyuban setempat mengaku khawatir kehilangan sumber penghasilan.

Baca Juga: Kisah Leo Pebulu Tangkis Asal Klaten Raih 2 Emas Asian Games 2026: Tidur Bersama Raket, Sempat Ditolak Audisi

Ketua Komisi III DPRD Kota Solo Taufiqurrahman mengatakan, perbedaan kepentingan antara pemerintah dan warga perlu diselesaikan melalui dialog. Dia meminta tidak ada lagi aksi penolakan maupun pemasangan spanduk sebelum persoalan dibicarakan bersama.

“Tadi kami pada prinsipnya komisi menghendaki sudah tidak ada hura-hara seperti ini, tidak ada demo-demo lagi. Termasuk spanduk itu kalau bisa segera diturunkan,” kata Taufiqurrahman saat sidak.

Baca Juga: Honda CR-V 2027 Terbaru Makin Irit, Gendong Mesin Hybrid 204 HP dan Kabin Super Lega

Menurut dia, rencana sterilisasi tidak hanya berkaitan dengan penataan lalu lintas dan parkir, tetapi juga menyangkut mata pencaharian warga serta aktivitas pelaku UMKM di sekitar kawasan masjid.

“Kaitannya pendapat wali kota atau keputusan wali kota mengenai sterilisasi, dengan harapan mereka supaya tidak ada sterilisasi, ini kan bertolak belakang. Ini berarti perlu ada diskusi, rembukan lagi,” ujarnya.

Wakil Ketua Komisi III YF Sukasno menambahkan, penataan parkir tetap diperlukan apabila ditemukan pelanggaran. Namun, penertiban seharusnya diarahkan kepada persoalan yang ditemukan, bukan menghilangkan seluruh sumber pendapatan warga.

Baca Juga: 1 PNS Izin Ikut Pilkades Serentak Wonogiri 2026, Ini Penjelasan Bupati Setyo

“Penataan supaya tidak mengganggu dan sebagainya ya harus dilakukan, tetapi bukan berarti terus mereka nanti kehilangan rezekinya,” kata Sukasno.

Dia meminta apabila ditemukan parkir tidak tertib atau penarikan retribusi yang tidak sesuai ketentuan, pihak yang bertanggung jawab dipanggil dan ditertibkan.

“Kalau parkir enggak tertib, panggil penanggung jawabnya, tertibkan. Kalau tarikannya retribusi enggak sesuai, tertibkan,” ujarnya.

Sukasno menilai keberadaan Masjid Zayed turut menggerakkan aktivitas ekonomi masyarakat sekitar. Karena itu, manfaat ekonomi tersebut diharapkan tetap dapat dirasakan warga dengan pengelolaan parkir yang lebih tertib.

Sementara itu, anggota Komisi III Kevin Chandra Sadewa mengatakan pihaknya masih mempelajari dampak ekonomi dari rencana sterilisasi. Berdasarkan informasi yang diterima saat sidak, pendapatan juru parkir di lokasi tersebut berkisar Rp200 ribu hingga Rp500 ribu per hari.

“Di sini ternyata banyak sekali yang terdampak kalau diperlakukan sterilisasi. Salah satunya dampak ekonomi yang dirasakan warga masyarakat ternyata lebih banyak,” katanya.

Dampak serupa, lanjut Kevin, berpotensi dirasakan pelaku UMKM di sekitar kawasan tersebut. Dia juga menyoroti rencana apabila para juru parkir dipindahkan ke kawasan Gilingan. Sebab, di lokasi tersebut sudah terdapat paguyuban lain dengan sekitar 24 anggota.

“Kita khawatir nanti malah muncul persoalan baru terkait pembagian pengelolaan maupun pendapatan parkir,” ujarnya.

Karena itu, Komisi III mendorong penyelesaian secara persuasif dengan mempertemukan Pemkot dan warga terdampak. Kevin menargetkan persoalan tersebut dapat segera dibahas bersama Pemkot dalam pekan ini.

“Pastinya dalam minggu ini kita kejar untuk penyelesaian masalah secara persuasif. Warga diuntungkan, pemerintah juga diuntungkan tentunya,” katanya.

Di sisi lain, Kevin mengakui penataan kawasan Masjid Zayed tetap diperlukan karena lokasi tersebut menjadi salah satu tujuan wisata. Namun, dia berharap penataan tidak mengabaikan kondisi ekonomi masyarakat sekitar.

“Pemerintah memberi tanggung jawab, memberi rasa aman kepada warga bahwa dalam mata pencaharian dan program sinergi pemerintah di sini, kita utamakan Kota Surakarta sebagai kota wisata,” pungkasnya. (atn)

Editor : Kabun Triyatno
sterilisasi lalu lintas parkir pemkot solo sidak