Aksi Damai di Bundaran Gladak, BEM Solo Raya Soroti Enam Tuntutan

Alfida Nurcholisah • Dipublikasikan Rabu, 30 September 2026 | 16:31 WIB
Aliansi BEM Solo Raya aksi damai dengan tabur bunga, menyalakan lilin, dan berdoa sembari bentangkan spanduk di Bundaran Gladak, Selasa malam (29/9). (ALFIDA NURCHOLISAH/RADAR SOLO)
Aliansi BEM Solo Raya aksi damai dengan tabur bunga, menyalakan lilin, dan berdoa sembari bentangkan spanduk di Bundaran Gladak, Selasa malam (29/9). (ALFIDA NURCHOLISAH/RADAR SOLO)

RADARSOLO.COM – Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi BEM Solo Raya menggelar aksi simbolik, memperingati September Hitam di kawasan Bundaran Gladak, Selasa malam (29/9).

Aksi tersebut menjadi ruang refleksi atas sejumlah kasus pelanggaran hak asasi manusia (HAM) di masa lalu, yang dinilai belum mendapatkan penyelesaian secara adil.

Koordinator Pusat Aliansi BEM Solo Raya Dimas M. Fajar mengatakan, aksi digelar tidak sekadar mengenang peristiwa kelam yang terjadi pada September.

Mereka juga menyoroti persoalan HAM yang masih terjadi hingga saat ini.

Baca Juga: Mahasiswa UTP Ikuti Bintalfisdis di AAU Jogja, Bekal Hadapi Industri Sawit

“Aksi damai ini bentuk refleksi terhadap kejadian-kejadian di masa lampau, yang rasa-rasanya belum pernah terselesaikan sampai saat ini. Bahkan sampai sekarang masih banyak pelanggaran HAM yang terus terjadi,” ujarnya.

Di sela aksi, mahasiswa menyampaikan orasi dan puisi sebagai bentuk refleksi.

Disusul doa bersama, menyalakan lilin, serta tabur bunga untuk mengenang korban pelanggaran HAM.

Baca Juga: 56 Jukir Area Masjid Zayed Terancam, DPRD Minta Sterilisasi Dirembuk

Dimas menyebut, momentum September dipilih karena terdapat sejumlah peristiwa pelanggaran HAM di bulan tersebut.

Salah satunya kasus pembunuhan aktivis HAM asal Solo Munir Said Thalib, yang hingga kini masih menjadi misteri. 

“Tujuan pertama, kami merefleksikan banyak kejadian yang terjadi pada September. Seperti kasus kematian Munir yang sampai saat ini juga belum mendapatkan keadilan,” imbuhnya.

Dalam aksi tersebut, Aliansi BEM Solo Raya membawa enam tuntutan.

Pertama, menuntaskan seluruh kasus pelanggaran HAM berat di masa lalu. Kedua, menghentikan represivitas dan kriminalisasi terhadap rakyat.

Ketiga, mendorong evaluasi terhadap TNI dan Polri atas dugaan pelanggaran HAM.

Keempat, menghentikan kekerasan dan melindungi warga sipil di Papua.

Baca Juga: Kisah Leo Pebulu Tangkis Asal Klaten Raih 2 Emas Asian Games 2026: Tidur Bersama Raket, Sempat Ditolak Audisi

Kelima, menjamin kebebasan berpendapat sekaligus melindungi pembela HAM.

Keenam, mewujudkan keadilan hukum dan pemulihan bagi korban.

Menurut Dimas, tuntutan tersebut bentuk dorongan agar persoalan HAM tidak terus berulang.

Penyelesaian kasus di masa lalu dan perlindungan HAM di masa kini, merupakan persoalan yang saling berkaitan.

“Kami punya harapan, pelanggaran HAM yang ada di Indonesia jangan sampai terjadi lagi. Jangan sampai terulang,” tegasnya. (alf/fer)

Editor : fery ardi susanto
Sumber : Radar Solo
ham bundaran gladak demo hak asasi manusia aksi damai