Hari Batik Nasional 2026: Anak Muda Kauman Solo Usung Batik Kekinian

Alfida Nurcholisah • Dipublikasikan Kamis, 1 Oktober 2026 | 17:50 WIB
Prananda Adi Dermawan bersama para pemuda tergabung dalam Pemuka membawa batik Kauman Solo lebih dekat dengan generasi muda. (M IHSAN/RADAR SOLO)
Prananda Adi Dermawan bersama para pemuda tergabung dalam Pemuka membawa batik Kauman Solo lebih dekat dengan generasi muda. (M IHSAN/RADAR SOLO)

RADARSOLO.COM - Batik tak harus selalu hadir dalam potongan pakaian yang kaku dan formal.

Di Kampung Batik Kauman, anak-anak muda yang tergabung dalam Pemuda Kauman (Pemuka) mencoba membawa warisan budaya itu lebih dekat dengan gaya hidup generasi sekarang.

Bagi mereka, mempertahankan batik bukan berarti terpaku pada bentuk dan pakem lama.

Justru, tantangannya adalah menerjemahkan nilai tradisi ke dalam desain yang relevan, nyaman, sekaligus menarik dikenakan sehari-hari.

Baca Juga: Sejarah Remekan, Motif Batik Khas Wonogiri yang Tak Sengaja Tercipta dan Tembus Mancanegara

Salah satu anggota Pemuka, Prananda Adi Dermawan, 25, mengatakan inovasi menjadi bagian penting agar batik tetap memiliki tempat di tengah perubahan tren fesyen.

“Kalau menurut saya, inovasi batik bukan berarti kita harus menghilangkan unsur tradisionalnya. Justru tantangannya adalah bagaimana nilai tradisional itu bisa diterjemahkan ke gaya hidup sekarang,” ujarnya saat ditemui Jawa Pos Radar Solo, Kamis (1/10).

Menurut Prananda, penggunaan batik dalam keseharian masih menghadapi tantangan.

Baca Juga: Sambut Hari Batik Nasional, Motif Rajawali Kembang Sragen Makin Diminati

Salah satunya anggapan bahwa batik identik dengan pakaian formal dan model yang membuat pemakainya terlihat lebih tua.

“Banyak anak muda yang sebenarnya suka batik, tapi kadang merasa batik terlalu formal, cutting-nya kurang modern, atau membuat penampilan terlihat lebih tua,” jelasnya.

Sebab itu, Pemuka mencoba menghadirkan batik dalam bentuk yang lebih dekat dengan selera anak muda.

Kain bermotif batik tidak hanya diolah menjadi kemeja, tetapi juga jaket bomber hingga busana dengan kombinasi motif dan aksen bordir.

Bagi Prananda, membuat batik kekinian bukan sekadar mengganti model pakaian.

Setiap unsur perlu dipikirkan sebagai satu kesatuan, mulai motif, warna, cutting, kerah hingga tampilan ketika dikenakan.

“Kalau di generasi sebelumnya lebih cenderung menjual batik dengan ciri khas tradisionalnya. Kini target kami bukan hanya menjual, tetapi membuat orang merasa lebih percaya diri ketika memakai batik,” bebernya.

Baca Juga: Menelusuri Sentra Batik Desa Jarum Klaten: Dari Warisan Sejarah hingga Mahakarya Motif Riris Pandhan Maja Arum

Konsep tersebut membuat batik tidak berhenti sebagai kain bermotif.

Dia mulai diposisikan sebagai bagian dari fesyen dan gaya hidup.

Batik tetap membawa identitas budaya, tetapi cara menampilkannya dapat mengikuti perkembangan zaman.

Dari pakaian formal menjadi busana kasual, dari motif klasik menjadi detail pada jaket dan bordir.

Upaya Pemuka mengenalkan batik kepada generasi muda tidak berhenti pada inovasi produk.

Anak-anak muda Kauman juga mencoba menghidupkan kawasan tersebut melalui berbagai kegiatan kreatif.

Salah satunya Kaum Craft, yang menjadi ruang bagi pelaku UMKM kerajinan untuk memperkenalkan sekaligus menjual produk mereka.

Ada pula Pasar Keleman yang mewadahi ibu-ibu menjajakan aneka jajanan pasar di koridor Kampung Batik Kauman.

Kegiatan tersebut menjadi cara Pemuka memperluas daya tarik Kampung Batik Kauman.

Pengunjung tidak hanya datang untuk melihat atau membeli batik, tetapi juga menikmati aktivitas kreatif dan kuliner yang tumbuh di kawasan tersebut.

“Kalau paguyuban lebih menyasar pada seremonial agenda dengan Pemkot, kita yang anak muda lebih kepada kegiatan yang meramaikan Kampung Batik Kauman,” kata Prananda.

Baca Juga: Batik Jamu Gendong Khas Sukoharjo Terancam Punah, Butuh Regenerasi dan Transfer Knowledge

Bagi Prananda, keberagaman produk dan aktivitas itu menjadi bagian dari upaya menjaga Kauman tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Batik pun tidak harus selalu dikenakan ketika menghadiri acara resmi.

Dia bisa hadir dalam keseharian, mengikuti selera pemakainya tanpa kehilangan identitas budaya yang melekat pada motif dan kainnya.

Di tangan generasi muda Kauman, warisan lama itu mendapat cara baru untuk bercerita.

Bukan dengan meninggalkan tradisi, melainkan membawanya berjalan bersama zaman. (alf/bun)

Editor : fery ardi susanto
Sumber : Radar Solo
pemuka pemuda kauman batik kauman Hari Batik Nasional