Hari Batik Nasional 2026: Laweyan Kembangkan Malam Berbahan Sawit

Alfida Nurcholisah • Dipublikasikan Kamis, 1 Oktober 2026 | 17:58 WIB
Mahasiswa Universitas Negeri Semarang (Unesa) membatik menggunakan malam sawit. (ALFIDA NURCHOLISAH/RADAR SOLO)
Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya (Unesa) membatik menggunakan malam sawit. (ALFIDA NURCHOLISAH/RADAR SOLO)

RADARSOLO.COM - Produksi batik umumnya menggunakan malam parafin yang berasal dari minyak bumi.

Namun, di Kampung Batik Laweyan, batik mulai diproduksi menggunakan lilin berbahan dasar sawit.

Inovasi tersebut dinilai lebih ramah lingkungan karena menggunakan bahan dasar tumbuhan.

Dalam prosesnya malam ini telah digunakan sekira enam bulan sejak diterbitkannya sertifikat oleh Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) tahun lalu.

Baca Juga: Hari Batik Nasioal 2026: Anak Muda Kauman Solo Usung Batik Kekinian

Salah satu pengusaha batik di Kampung Batik Laweyan Alpha Febela Priyatmono mengatakan, malam sawit dibuat dari stearin, salah satu turunan dari minyak sawit.

Pengembangan material tersebut dilakukan bersama komunitas dan industri sawit untuk menghadirkan bahan malam yang lebih ramah lingkungan.

“Sekarang kami menggunakan material sawit. Salah satu turunan sawit itu namanya stearin. Kami membuat material malam sawit itu dari stearin,” ujarnya, Kamis (1/10). 

Baca Juga: Sejarah Remekan, Motif Batik Khas Wonogiri yang Tak Sengaja Tercipta dan Tembus Mancanegara

Menurut Alpha, penggunaan malam sawit memiliki perbedaan dibandingkan malam berbahan minyak bumi. 

Salah satunya lebih mudah mencair sehingga lebih hemat energi.

“Satu, malam sawit itu mudah mencair sehingga energinya bisa menghemat energi dibanding malam biasa,” katanya. 

Selain itu, lanjut dia, penggunaan bahan dasar tumbuhan relatif menghasilkan asap yang lebih sehat dibandingkan berbahan minyak bumi.

Hal tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya membangun citra batik sebagai produk yang tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga memperhatikan aspek lingkungan.

“Jadi konteksnya untuk mem-branding batik yang ramah lingkungan. Batik ramah lingkungan itu bisa melalui prosesnya atau materialnya. Materialnya kan ada juga menggunakan warna alam dan malam sawit,” jelasnya.

Baca Juga: Sambut Hari Batik Nasional, Motif Rajawali Kembang Sragen Makin Diminati

Dari sisi kualitas, malam sawit disebut tidak memberikan perbedaan berarti terhadap hasil akhir batik.

Namun, harga material tersebut sedikit lebih tinggi karena membawa konsep ramah lingkungan.

“Malam sawit ini kami gunakan untuk produk batik quran dan untuk fashion juga, walaupun harganya terpaut Rp 5 ribu lebih mahal daripada biasanya,” ungkapnya. 

Malam sawit juga tidak hanya digunakan untuk produk fashion.

Baca Juga: Menelusuri Sentra Batik Desa Jarum Klaten: Dari Warisan Sejarah hingga Mahakarya Motif Riris Pandhan Maja Arum

Komunitas batik Laweyan memanfaatkannya dalam sejumlah karya nonfashion, termasuk pengembangan Batik Quran versi Usmani.

“Batik Quran itu kan kami bikin dua versi. Versi yang pertama dari khat Kudus itu sudah selesai 30 juz. Kami sekarang bikin yang khat Utsmani itu dari lilin sawit juga,” paparnya.

Alpha menyebut, material sawit yang digunakan memiliki kandungan stearin mendekati 60 persen.

Angka itu jauh lebih tinggi dibandingkan pengembangan sebelumnya yang menggunakan kandungan stearin kurang dari 5 persen. 

“Kalau kami sudah pakai stearin mendekati 60 persen, maka kami akhirnya lolos disertifikasi RSPO,” katanya.

Selain material, konsep ramah lingkungan juga diarahkan pada kawasan produksi batik di Laweyan.

Pengukuran kelembapan udara, pencahayaan yang masuk, hingga penghawaan di lingkungan produksi turut diperhatikan. 

Baca Juga: Batik Jamu Gendong Khas Sukoharjo Terancam Punah, Butuh Regenerasi dan Transfer Knowledge

“Cita-cita kami di Laweyan ini adalah suatu kawasan industri batik yang ramah lingkungan. Ramah lingkungannya tidak hanya dari hasilnya batiknya, tetapi juga tempat produksinya,” jelasnya.

Pengembangan tersebut diarahkan secara bertahap menuju konsep green building.

Meski demikian, Alpha menyebut proses tersebut membutuhkan waktu karena harus dilakukan melalui berbagai tahapan riset dan edukasi. 

"Kami berharap, malam sawit buatan koperasi batik di Laweyan ini bisa dimanfaatkan lebih luas oleh para pelaku usaha di sini," harapnya. (alf/bun)

Editor : fery ardi susanto
Sumber : Radar Solo
malam sawit batik laweyan Hari Batik Nasional