RADARSOLO.COM - HAMPIR 17 tahun setelah batik diakui UNESCO sebagai warisan budaya takbenda, wajah batik terus berubah.
Dari busana dengan pakem dan fungsi ritual tertentu, batik kini berkembang menjadi bagian dari industri kreatif yang menyentuh fesyen, teknologi, hingga berbagai inovasi bahan.
Namun, perubahan itu bukan berarti batik boleh kehilangan jati dirinya.
Pakar batik dari Institut Seni Indonesia (ISI) Solo Arif Jati Purnomo mengatakan, dinamika batik terlihat dari perkembangan motif, warna, teknik, hingga bahan yang digunakan.
Meski demikian, inovasi tetap perlu memiliki batas agar identitas batik tidak tergerus.
“Yang harus dipegang adalah definisi atau pengertian batik itu sendiri, di mana batik itu merupakan proses rintang malam panas. Jadi, perlu ditekankan di sini adalah integritas proses,” ujarnya saat dihubungi Jawa Pos Radar Solo, Kamis (1/10).
Menurut Arif, proses membatik menjadi bagian penting yang membedakan batik dari produk tekstil bermotif lainnya.
Baca Juga: Hari Batik Nasional 2026: Laweyan Kembangkan Malam Berbahan Sawit
Malam panas yang ditorehkan pada kain, kemudian diikuti proses pewarnaan dan pelorodan, menjadi bagian dari identitas yang tidak semestinya ditinggalkan.
“Di mana kehadiran malam panas ini harus, dan proses celup tetap menjadi satu garis merah pembeda antara karya seni yang bernilai tinggi sebagai intangible cultural heritage dengan mass product,” jelasnya.
Di titik itulah inovasi dan pelestarian bertemu.
Batik tetap bisa berkembang tanpa harus memutus akar tradisinya.
Arif menilai, pakem tradisional terutama perlu dijaga pada motif-motif yang memiliki filosofi tertentu.
Kreativitas dapat terus bergerak, tetapi aturan dan makna yang melekat pada motif tetap perlu dipahami.
“Sekreatif mungkin, seinovasi mungkin, tetapi yang namanya pakem, aturan itu harus tetap menjadi suatu aturan yang tetap dijaga,” katanya.
Perkembangan batik saat ini bahkan telah menyentuh wilayah yang sebelumnya terasa jauh dari tradisi membatik.
Salah satunya melalui pemanfaatan algoritma matematika dalam penciptaan motif atau yang dikenal sebagai batik fraktal.
Baca Juga: Hari Batik Nasional 2026: Anak Muda Kauman Solo Usung Batik Kekinian
Motif kontemporer juga terus bermunculan, berdampingan dengan motif klasik seperti parang, kawung, dan sidomukti.
Flora, fauna hingga potensi daerah dapat diterjemahkan menjadi motif baru sesuai perkembangan selera masyarakat.
Inovasi juga terjadi pada teknik dan bahan. Pewarna alam mulai dikembangkan dalam bentuk ekstrak.
Teknologi canting listrik membuat proses membatik menjadi lebih praktis dan semiotomatis.
Sementara itu, malam berbahan turunan kelapa sawit juga mulai dikembangkan.
Menurut Arif, malam berbahan turunan sawit memiliki titik leleh lebih rendah sehingga lebih mudah dilorot.
Namun, bahan tersebut masih memiliki sejumlah kelemahan, antara lain cenderung keras, getas, serta memiliki daya lekat yang relatif rendah pada kain.
Baca Juga: Sejarah Remekan, Motif Batik Khas Wonogiri yang Tak Sengaja Tercipta dan Tembus Mancanegara
Perubahan tersebut menunjukkan bahwa batik bukan benda yang berhenti pada satu zaman.
Ia terus beradaptasi mengikuti perkembangan teknologi, bahan, pasar, dan selera masyarakat.
Tetapi di balik berbagai inovasi itu, Arif mengingatkan adanya risiko ketika teknologi justru mengambil alih proses kreatif dan identitas batik. Termasuk ketika kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mulai digunakan dalam penciptaan desain.
“AI digunakan dalam rangka membantu, bukan menjadi pokok,” tegasnya.
Baca Juga: Batik Jamu Gendong Khas Sukoharjo Terancam Punah, Butuh Regenerasi dan Transfer Knowledge
Ke depan, menurut Arif, batik tetap perlu beradaptasi dengan selera generasi muda.
Desain yang lebih sederhana dan kontemporer serta penggunaan warna yang lebih terbatas dapat menjadi salah satu arah pengembangan.
Adaptasi semacam itu bukan hal baru dalam perjalanan batik. Sejarah menunjukkan bahwa batik telah berulang kali mengalami perubahan sesuai konteks sosial dan selera masyarakat pada zamannya.
“Batik itu tidak alergi terhadap pasar. Selera zaman itu dilihat dari sejarahnya, batik dari dulu sampai sekarang ini tetap adaptif, fleksibel, mengikuti jiwa zaman,” tandasnya.
Batik akhirnya berada di antara dua kebutuhan.
Menjaga akar sekaligus terus tumbuh. Motif boleh bereksperimen, warna boleh berubah, teknologi boleh membantu, dan bahan bisa terus dikembangkan.
Baca Juga: Sambut Hari Batik Nasional, Motif Rajawali Kembang Sragen Makin Diminati
Namun, selama proses membatik dan nilai yang menjadi identitasnya tetap dijaga, perubahan tidak harus berarti kehilangan jati diri.
Sebab, batik bukan sekadar gambar yang dipindahkan ke atas kain. Ada proses, pengetahuan, keterampilan, dan warisan budaya yang membuatnya bernilai lebih dari sekadar produk massal. (alf/bun)
Editor : fery ardi susantoSumber : Radar Solo